Perda dan Buku

Padli Ramdan, wartawan Lampung Post

GERAKAN untuk membangkitkan minat baca mulai bergaung di mana-mana. Pusat dan daerah mulai menyoroti rendahnya budaya membaca masyarakat, terutama anak muda dan pelajar.
Dalam perhelatan safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Ruang Abung, Balai Keratun, Provinsi Lampung, Senin (13/3), Pemprov mewacanakan adanya peraturan daerah untuk mendorong literasi siswa dan masyarakat. Salah satunya adalah kewajiban siswa membaca buku di sekolah.
Dua sahabat, Asril dan Ano, mempertanyakan keseriusan Pemprov untuk membumikan buku di kalangan pelajar dan anak-anak muda. "Mau ajak anak-anak muda rajin baca saja nunggu ada perda dulu. Buat perda itu enggak selesai dalam enam bulan dan biayanya mahal, lo," kata Ano, sambil membolak-balik halaman koran.
Ia pesimistis jika perda sudah dibuat dan disahkan DPRD akan berdampak pada naiknya minat masyarakat di Bumi Ruwa Jurai dengan buku. Uang sudah banyak terbuang untuk membuat perda, tapi hasilnya jauh antara harapan dan kenyataan.
Menurut Asril, membaca harus diawali dengan kesadaran pribadi. Membaca adalah kebutuhan bagi setiap orang untuk mengembangkan diri dan menambah wawasan. Selain kesadaran, pelajar juga butuh keteladanan, dalam hal ini guru dan pemimpin.
"Anggota Dewan yang terhormat yang menyusun perda belum tentu orang yang gila buku dan rajin membaca. Mungkin rajin baca, tapi hanya membaca status di media sosial. Bagaimana mau manularkan virus membaca jika penyusun aturan saja tidak memberikan keteladanan?" ujar Asril.
Ano menilai biaya membuat satu perda bisa mencapai Rp100 juta. Apalagi, jika saat penyusunan, ada studi banding ke berbagai daerah. Dana sebesar itu, jika dibelikan buku dan disebar ke daerah terpencil di Lampung, bisa memberikan dampak yang besar untuk meningkatkan minat baca anak-anak.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Anies Baswedan pernah membuat kebijakan agar siswa membaca selama 15 menit setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Kita belum tahu sejauh mana kebijakan ini efektif membangun budaya baca yang baik di sekolah.
Ia menyarankan agar siswa mudah mengakses buku di mana pun mereka berada. Misalnya lingkungan sekolah yang menunjang dan mendukung siswa untuk rajin membaca. "Di sekitar sekolah siswa lebih mudah mendapatkan rokok dibanding dengan buku," ujarnya.