Perjalanan Seni Musik Islami di Lampung

Marawi, salah satu seni musik islami. mataair.or.id

PENELUSURAN perjalanan seni musik islami membutuhkan pendekatan ilmu dan metodologi penelitian sejarah. Sebab, ilmu dan metodologi berfungsi sebagai prasayarat ilmiah untuk mengungkap dan menjelaskan objektivitas akan kebenaran yang memiliki arti dan kedudukan penting dalam memajukan harkat juga martabat manusia, terutama umat Islam.
Terlebih lagi, kebenaran sejarah seni musik dapat memberi arah demi kelangsungan hidup dan kehidupan masyarakat Islam kini dan di masa depan. Sebab, pengembangan seni musik yang terkait dengan keagamaan merupakan kekayaan budaya Indonesia.
Implementasi pendekatan ilmu dan metodologi sejarah dapat dikembangkan dengan cara mengintegrasikan ilmu sejarah dengan seni musik islami yang diawali dari menjelaskan. Pertama, karakteristik pendekatan sejarah sebagai ilmu dapat mengembangkan pemahaman berbagai gejala dan peristiwa dalam dimensi waktu. Kedua, seni musik dalam konteks sejarah yang dipelajari dalam berbagai dimensi keislaman, mencakup ajaran, filsafat, tasawuf, seni, sastra, pemikiran, realitas empiris, dan pemeluknya, yang dikaji secara kronologis.
Ketiga, pemaduan kedua pendekatan itu dan penerapannya dalam kajian seni musik keislaman. Fakta menunjukkan ilmu sejarah dapat dijadikan pendekatan kajian seni musik yang dikaji secara kritis-analitis-kausalitas guna mengungkap dan menjelaskan kebenaran perjalanan seni musik islami.

Ragam Bentuk Seni
Jika ditelaah secara lebih luas, ternyata fakta membuktikan adanya dinamika dan ragam bentuk seni bernuansa keislaman, seperti kaligrafi, arsitektur masjid, musik, dan bahkan permakaman kuno di berbagai daerah. Sementara budaya lokal diakui sebagai unsur dan bagian dari kebudayaan nasional yang berkualitas tinggi, memiliki karakteristik, ciri khas, dan spesifik.
Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur bangsa (etika, moral, estetika, dan spiritual) yang dapat dijadikan modal dasar pembangunan, yang jika potensinya digali, dikembangkan, diperkuat, serta ditingkatkan secara terprogram dan berkelanjutan dapat berguna bagi kualitas hidup manusia yang beriman, bertakwa, beretika, juga beramal saleh. Kemudian dapat memperkokoh jati diri (berdasar falsafah piil pesenggiri), solidaritas sosial (sakai sambayan: tolong menolong dan gotong royong), serta persatuan untuk pembangunan bangsa. Sebab, ciri khas budaya lokal menunjukkan beragam budaya yang dapat digali dan dikembangkan untuk memperkaya dan memperkokoh jati diri budaya bangsa.
Memang sebenarnya seni musik islami sebagai salah satu wujud budaya lokal dapat dipahami sebagai kegiatan manusia secara fisik-material, kondisi moral, mental, dan spiritual, mulai dari proses usaha akan kesadaran dan penertiban diri sebagai pribadi yang beriman, bersikap, berperilaku, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, seni musik islami dapat dibangun atas dasar kesadaran dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat bersama pemerintah daerah yang dituangkan dalam peraturan daerah pada setiap pemerintahan kabupaten dan kota sehingga membudaya dalam totalitas kehidupan.
Jelasnya, seni musik islami sebagai subsistem dari budaya Lampung merupakan pengertian, pendapat atau paham, pandangan hidup, rancangan cita-cita yang telah ada dalam pikiran, dan mewujud dalam bentuk masyarakatnya. Budaya lokal dimaksudkan sebagai budaya Lampung yang bukan saja berasal dari penduduk asli, melainkan juga budaya yang dibawa para pendatang, tempat terjadi akulturasi budaya dan seni musik secara dinamis.
Mengenai masuk dan berkembangnya seni musik Islam, diperkirakan bersamaan dengan masuknya ajaran Islam dan diterima oleh ulun Lappung, setidaknya sejak abad ke-15 dari tiga arah. Pertama, dari arah barat (Minangkabau) melalui dataran tinggi Belalau di Liwa, Lampung Barat. Kedua, dari arah utara, yakni Palembang memasuki daerah Komering pada permulaan abad ke-15 (1443).
Ketiga, dari Banten oleh Fatahillah, memasuki daerah Labuhanmaringgai, yaitu di Keratuan Pugung sekitar tahun 1525. Kemudian dilanjutkan oleh Sultan Hasanuddin, sebelum direbutnya Sunda Kelapa (dikutip dari buku Fungsi, Makna, dan Pelestarian Seni Pertunjukan Tradisi Bernuansa Keagamaan, dan tim penulis Badan Litbang Agama Jakarta, serta menunjuk sumber dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985: 32; Hadikusuma, 1989: 37; Daud, 2012: 8—9; Khaerustika, Gunadi, dan Zanariah, 2006: 25—26). Tentu menarik untuk dikaji lebih mendalam dan spesifik jika dilakukan juga penelitian yang difokuskan pada permasalahan seni musik islami dan kontribusinya bagi pembangunan daerah di Lampung. n