Perlunya Perbaikan Manajemen Sungai

Sejumlah kendaraan roda dua nekat menerobos banjir, beberapa waktu lalu. Banyaknya gunung yang digerus dan tidak berfungsinya drainase membuat sejumlah daerah di Provinsi Lampung dilanda banjir. LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NUR SATRIO

AKHIR bulan lalu, sejumlah wilayah di Lampung mengalami banjir. Musibah itu tidak hanya menimbulkan kerugian material, tapi juga membawa korban meninggal.
Musibah banjir sebetulnya sudah bisa diantisipasi jika para pemangku kepentingan terkait lebih peduli. Selain faktor perubahan iklim dunia akibat pemanasan global, curah hujan yang semakin tinggi menjadi penyebab terjadinya musibah tersebut.
Pengamat lingkungan hidup Universitas Lampung (Unila), Muhammad Thoha Sampurna Jaya, menilai kondisi tersebut karena kurangnya antisipasi pemerintah tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Menurutnya, perubahan iklim dunia telah dicanangkan sejak lima tahun lalu, artinya pemerintah sudah seharusnya melakukan langkah-langkah antisipasi sejak dini.
“Harusnya sudah diantisipasi karena sudah lama dicanangkan. Bagaimana manajemen pengelolaan sungai, pembangunan, dan hutan lindung kita,” kata Thoha, Jumat (3/3/2017).
Hutan lindung yang ada di berbagai wilayah di Lampung saat ini sudah banyak berubah menjadi perkebunan rakyat yang ditanami tanaman produktif, seperti kopi, cokelat, dan lada. “Hutan lindung di Lampung sudah habis, isinya kopi dan tanaman produktif lainnya. Ini harus dibenahi dengan serius. Harus ada kerja sama yang jelas antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola hutan lindung,” katanya.
Mantan Pembantu Rektor (PR) III Bidang Kemahasiswaan Unila itu mengatakan seharusnya tanaman produktif hanya ditanam di bibir bukit dan pegunungan, bukan di dalam hutan lindung. “Mulai dari Pesawaran hingga Lampung Barat sebagian besar hutan lindung ditanami masyarakat. Seharusnya hanya sekitar bibir gunung dan bukit tanaman produktifnya. Sebab, keberadaan hutan lindung ini tidak bisa diganggu gugat,” ujarnya.
Kemudian pemanfaatan teknologi juga harus diterapkan dalam manajemen sungai dan tanggul. “Sungai besar dan kecil di perdesaan harus mendapatkan perhatian dan perawatan dari pemerintah setempat sehingga tidak terjadi lagi tanggul sungai yang jebol. Bukan hanya pinggiran sungai, pendangkalan yang terjadi juga harus dilakukan normalisasi,” kata Thoha.

Drainase Buruk
Thoha juga menyoroti drainase perkotaan yang sangat buruk, pembuangan air dari hasil pembangunan perumahan real estate yang ada tidak terpadu dengan yang lainnya. “Masing-masing membuat sendiri, padahal bersebelahan. Akibatnya, terjadi penumpukan air di tempat tertentu dan meluap. Artinya harus ditata sehingga menyatu zona pembuangannya ke arah mana,” ujarnya.
Kondisi resapan air dan selokan di Bandar Lampung, kata dia, juga hampir sama seperti Jakarta. Tidak ada perawatan sungai dan memperbanyak lokasi resapan air. “Penyempitan badan sungai dan pendangkalan sungai terjadi jika tidak dilakukan perawatan, jadinya air meluap. Terlepas dari fenomena alam yang sudah kita ketahui sebelumnya,” katanya.