Puisi yang Beraroma Sufi

Ilustrasi puisi sufi. zoftpc.com

Karena berbasis puisi sufi, Cak Kus mengaitkannya antara puisi sufi dan sufi puisi. Sudah tentu dua frasa tersebut sangat berbeda, seperti halnya penjelas pisang goreng dan goreng pisang.

YOGYAKARTA sebagai kota multidimensi kehidupan selalu menghadirkan keragaman hidup. Tradisi menulis puisi, bersastra, hingga literer menjadi santapan empuk bagi pencinta dunia bahasa dan kata-kata. Dengan bahasa dan kata-kata, Yogyakarta tetap bisa berkobar dan menyala.
Pada tanggal 27 Januari 2017 tepatnya pukul 14.00 sebuah diskusi buku puisi karya Kuswaidi Syafi’ie (Cak Kus) diperbincangkan di tengah kepulan asap rokok dan kopi-kopi yang menjadi ikon budaya akademisi. Acara tersebut didukung penerbit kawakan DIVA Press dan Sastra Perjuangan di Yogyakarta.
Antologi puisi Cak Kus, Tarian Mabuk Allah, disajikan dalam bentuk diskusi sebagai bedah karya puisi sufi. Di Kedai Kopi Blandongan, Jalam Sorowajan Baru, Yogayakarta, tampak dipenuhi banyak peserta. Ada sekitar 78 peserta yang berpartisipasi dalam acara tersebut.
Turut hadir pula Edi AH Iyubenu sebagai CEO penerbit DIVA Press sekaligus penggerak literer dan kesusastraan di Yogyakarta beserta krunya demi kesuksesan acara launching buku tersebut. Dalam acara diskusi tersebut, Kuswaidi Syafi’ie didampingi Tia Setiadi sebagai moderator dan Aprinus Salam sebagai pembicara kedua. Secara praktik, puisi memang jarang melahirkan suatu materi. Namun, untaian diksi mutiaranya mampu menginspirasi dan meracuni pembaca hingga menjelma materi.
Perbincangan dalam diskusi tersebut bukan serta-merta menyoal puisi dalam lingkungan para penyair. Sebagai, anak penyair itu sendiri, ide-gagasan puisi itu sendiri berusaha dihadirkan dalam kehidupan riil. Seperti yang dikatakan oleh Cak Kus bahwa puisi yang menghadirkan fenomena sosial masih tergolong jarang, kecuali Iqbal di Timur Tengah dengan puisinya membentuk Pakistan.
Sebenarnya, buku antologi puisi Cak Kus yang dibicarakan di Kedai Kopi Blandongan bukan pertama kali didiskusikan. Pada tahun 2015 buku tersebut pernah lahir, namun dilahirkan kembali usai kematiannya dari penerbit yang memiliki otoritas proses kelahirannya. Katanya lagi, puisi yang bernuansa cinta kadang hanya dijadikan senjata untuk mem-bully orang, lalu orang lain yang menjadi korban puisi cinta itu sendiri. Ungkapan ini seakan menyentak pujangga para penyair yang hanya menuliskan cinta lelaki dan perempuan, lawan jenis. Ungkapannya sekaligus menjadi pisau kritik atas puisi-puisi yang bernuansa cinta kekinian.

Puisi Sufi dan Sufi Puisi
Karena berbasis puisi sufi, Cak Kus mengaitkannya antara puisi sufi dan sufi puisi. Sudah tentu dua frasa tersebut sangat berbeda. Seperti halnya penjelas pisang goreng dan goreng pisang. Yulfi Zawarnis (Dua Jalur, LP: 25/01/2017) bahwa dalam bahasa Indonesia ada kaidah umum yang menyatakan urutan kata dalam konstruksi frasa (gabungan kata) mengikuti hukum DM (diterangkan-menerangkan). Artinya, kata pertama yang diterangkan dan kata kedua yang menerangkan. Konstruksi frasa pisang goreng memiliki konstruksi DM dan konstruksi goreng pisang memiliki konstruksi MD. Merujuk pada kaidah umum bahasa Indonesia, frasa yang seharusnya digunakan adalah frasa pisang goreng karena goreng menerangkan kata pisang.
Begitu juga dalam persoalan memahami puisi sufi dan sufi puisi, tentu puisi-puisi Cak Kus lebih cenderung pada puisi sufi, bukan sufi puisi. Kumpulan puisi sufi Cak Kus penuh dengan harapan-harapan agar manusia selalu mengingat Tuhan yang menciptakan. Sebuah kerinduan atas kekuasaan-Nya selalu menjadikan manusia lemah hingga memerciki nilai-nilai kesadaran tentang keesaan Tuhan.
Sebuah antologi puisi yang sekiranya cukup tepat dibaca pada saat ini di tengah masyarakat kita dilanda kompleksitas persoalan agama. Dengan antologi puisi Tarian Mabuk Allah kita akan menemukan hakikat beragama dan meyakini Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Puisi sufi ini akan menjadi cambuk berkekuatan halilintar guna menemukan cahaya menuju keragaman dan keberagamaan di tengah masyarakat yang multikultural serta multi segalanya, sehingga sudut pandang agama tidak dipandang sebagai permainan politik atau demi kepentingan pribadi belaka.
Acara tersebut ditutup dengan pembacaan puisi oleh Yayan Suta’yan penyair asal Sumenep yang bermukim di Yogyakarta. Puisi yang dibaca tepat pada bagian pertama, Dermaga: Kekasih duhai Kekasih!/ Ketika itu sendiri Engkau mengandungku/ Saat waktu beku di telapak-Mu/ Menggenggam “sejarah” dan “masa depan”/ Tak ada air api tanah dan udara/ Bahkan sunyi pun tak menjelma/ Karena segalanya belum bermula/ Hanya Kau bersemaya, di atas ‘arsy sendirian/ Mendendangkan lagu-lagu kasmaran. Kemudian disusul pembacaan puisi oleh Sohifur Ridlo Ilahi.
Sebuah puisi yang membawa ruh kerinduan terhadap Tuhan. Cak Kus bukan hanya merasa dirinya diliputi rasa rindu berpkepanjangan, tapi kerinduan atas kebenaran firman-Nya menjadi sebuah narasi yang mengingatkan kita pada prinsip hidup manusia yang harus dibangun di atas kuasa-Nya.