Pungli

Nova Lidarni (Lampost.co)

DALAM perjalanan dari Palembang, Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu, setiba di perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung, arus lalu lintas berjalan perlahan. Mobil-mobil kecil dan truk berjalan merayap perlahan. "Ada apa ya, kok macet? Kecelakaan mungkin di depan sana," ujar si bapak.
Mobil pun terus merayap beberapa puluh meter hingga tiba di lokasi tak jauh dari bangunan kantor Polres Mesuji yang masih baru. "Iya, ada kecelakaan mungkin. Itu polisi banyak bener," sahut istrinya. Beberapa polisi terlihat di tengah jalan, menghentikan truk-truk yang melintas. "Ooo... lagi ada pemeriksaan truk mungkin," istrinya kembali bersuara.
Tapi, pemandangan tepat di depan mata menjawab kebingungan atas kemungkinan yang keduanya lontarkan sebelumnya. Truk-truk itu hanya melambat, tiba-tiba si sopir truk menjulurkan tangan dari jendela mobil. Sopir truk dan polisi yang mengenakan jaket, kacamata hitam, serta menutup wajahnya dengan masker itu saling bersalaman.
Tapi, jangan salah. Mereka bukan cuma sekadar berjabat tangan. Ada sesuatu yang diserahkan saat jabat tangan itu. Salam tempel! "Lihat-lihat, tangan polisi yang sudah terima salam tempel itu. Dia langsung memasukkan sesuatu yang diterimanya dari sopir ke tas pinggangnya. Hiiih... dia minta duit ke polisi itu," ujar si istri geram.
Wow, ternyata... aksi pungutan liar alias pungli sedang berlangsung. Meski Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli), nyatanya belum sepenuhnya aturan tersebut ditegakkan. Aksi pungli, bahkan oleh oknum polisi, masih kerap terjadi. Alhasil, para sopir truk lah yang menjadi korban.
Umumnya memang pungli ini dilakukan para preman-preman jalanan. Seperti diberitakan di salah satu media online nasional berdasarkan pengakuan seorang sopir truk yang melintas jalan lintas timur (Jalintim) diwajibkan menyetor sejumlah uang yang besarannya bervariasi mulai dari Rp2.000 hingga Rp50 ribu per mobil.
Jika para sopir tidak memberikan uang yang diminta, para oknum preman itu diiancam kendaraan dirusak hingga dicelakai. Para sopir truk pun berharap Tim Saber Pungli dan aparat keamanan bisa menindak para preman-preman jalanan itu.
Hanya saja, melihat langsung kondisi di jalan, pelaku pungli ternyata bukan hanya preman, tapi justru malah oknum aparat kepolisian, sepertinya saber pungli sangat sulit dilakukan di negara ini. Harus ada kesadaran dari berbagai pihak untuk tidak lagi melakukan pungli karena aksi itu merusak kehidupan bermasyarakat, bahkan meresahkan karena kerap disertai ancaman.
Kita berharap negara Indonesia ke depan menjadi negara maju yang bersih dari aksi korupsi. Sebab, pungli merupakan salah satu tindakan korupsi meski masih dalam nilai yang kecil. Namun, di situlah permulaan tindakan korupsi, apalagi jika nilainya semakin membesar. n