Pupuk Subsidi Langka di Tulangbawang

Ilustrasi pupuk bersubsidi. humaskabsragen.com

MENGGALA -- Petani Tulangbawang khususnya di Kecamatan Rawapitu, Rawajitu, dan beberapa kecamatan lainnya mengeluhkan adanya kelangkaan pupuk subsidi di pasaran. Pada masa tanam akhir Desember 2016 hingga awal 2017, petani masih sulit mencari pupuk bersubsidi dan beberapa terpaksa harus membeli pupuk nonsubsidi dengan harga mahal.
"Beberapa pekan ini para petani sangat sulit mendapatkan pupuk subsidi. Beberapa penyalur di Pasar Unit II mengaku stok kosong, yang ada hanya pupuk nonsubsidi," ujar Heri petani asal Rawapitu, Rabu (4/1/2016).
Dia juga mengatakan perbedaan harga pupuk subsidi dan nonsubsudi sangat jauh. Pupuk subsidi jenis urea dijual dengan harga Rp90 ribu/50 kilogram, phonska Rp125 ribu-Rp135 ribu/50 kg. Sementara itu untuk SP36 Rp125 ribu/50 kg, sedangkan pupuk nonsubsidi jenis KCl Rp300 ribu/50 kilogram, TSP Rp300 ribu/50 kg, dan Mutiara Rp500 ribu/50 kilogram di tingkat pengecer.
“Kami sangat berharap pemerintah agar secepatnya mencarikan solusi agar pupuk subsidi kembali tersedia, apalagi sekarang sudah mulai memasuki musim tanam,” kata dia.

Pertengahan Januari Disalurkan
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Tulangbawang Sumarno kepada Lampung Post, Rabu (4/1/2016), mengatakan terkait kelangkaan pupuk subsidi, petani tidak perlu resah karena untuk pengadaan pupuk di Tulangbawang, pihaknya masih menunggu penandatanganan surat perjanjian jual beli (SPJB) tahun 2017 oleh perwakilan distributor.
"Insya Allah pada pertengahan Januari 2017 pupuk bersubsidi sudah dapat disalurkan ke petani karena saat ini kita masih menunggu penandatanganan SPJB oleh distributor," kata Sumarno.