Ramai yang Sepi

Susilowati, wartawan Lampung Post

"LE, besok temani aku ke rumah Mbah Kerto ya."
"Mau apa ke rumah Mbah Kerto?"
"Ya mau minta jagung, Mbah Kerto kan panen jagung, pas banget untuk bakar-bakar malam Tahun Baru."
"Lah kan kita mau istigasah, kok masih bakar-barakran, Yun?"
"Lah, istigasah kan abis salat isya, selesai istigasah kita bakar jagung, gitu, Le."
"Wealah, tetap saja ya. Ini bedanya penyambutan Tahun Baru zaman dulu dan sekarang, budaya Timur dan budaya Barat."
"Maksudmu, Le?"
"Aku tu kemarin ngobrol panjang dengan Kang Santri masalah peringatan Tahun Baru, dan di situ aku makin manteb bahwa malam Tahun Baru aku enggak mau ke mana-mana."
"Lah emang Kang Santri ngomong apa?"
"Ya, bukan ngomong apa-apa, seperti biasa, dia bergumam dan bercerita, dan aku mendengarkan dengan bengong-bengong, kadang-kadang juga tanya."
"Iya, apa yang digumam kan Kang Santri?"
"ya dia bercerita perbedaan perayaan Tahun Baru orang zaman dulu dan zaman sekarang. Dulu orang tua kita enggak open dengan Tahun Baru masehi. Mereka mengenal Tahun Baru ya tahun baru Islam atau Hijriah, dan tahun baru Jawa atau Saka. Nah, menyambut Tahun Baru itu orang tua dan kakek nenek buyut kita banyak yang tirakat, ada yang puasa, ada yang lek-lekan sambil merenung, ada juga yang zikiran, tetapi pada intinya mereka melakukan ritual untuk mendekatkan diri kepada Pencipta. Ada juga di antaranya yang bersemedi, menyendiri, serta menghitung yang telah lalu dan yang akan datang. Ya pokoknya merenunglah, menyepi. Nah, itu semua kan adat ketimuran, yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Berbeda dengan sekarang, kebanyakan manyambut Tahun Baru dengan gegap gempita, bersenang-senang, mendatangkan bunyi-bunyian dan ingar-bingar menikmati kesenangan, bahkan tidak sedikit yang melaluinya dengan maksiat, mabuk-mabukan, bermaksiat, dan dilakukan atas nama penyambutan Tahun Baru. Dan sebenarnya menurut Kang Santri ini bukan tradisi kita, melainkan tradisi dari Barat sana."
"Wah...wah, kamu benar-benar seperti Kang Santri, Le."
"Bukan begitu juga, Yun, aku hanya menirukan, dan kuanggap pendapat Kang Santri ada benarnya."
"Iya juga, Le, orang dulu senang menyepi."
"Mereka menyepi untuk membangun peradaban lebih baik, Yun, sepi yang rame. Sedangkan sekarang sebaliknya, rame yang sepi dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta."
"Ya enggak juga, Le, banyak kok yang merayakan Tahun Baru itu orang yang beriman, rajin ibadah."
"Ya, monggo saja, Yun. Saya juga tidak menyalahkan, sekadar merenungi lagi pergeseran yang sudah terjadi antara generasi kita dan pendahulu kita. Dan berharap Tahun 2017 lebih baik dari tahun sebelumnya, supaya kita termasuk orang-orang yang beruntung."
"Amin."