Rencana

Susilowati, wartawan Lampung Post

“ADA rencana apa di 2017, Le?”
“Rencana apa to, Yun?”
“Ya rencana hidup, misalnya mau menikah atau mau berangkat umrah.”
“Oalah, kayak politikus saja, hidup pakai direncanakan, tahun ini mau ini tahun ini mau itu, mbok ya ngalir aja, lama-lama juga mati.”
“Lo, jawabanmu kok gitu, Le?”
“Emang ada yang salah dengan jawabanku?”
“Ya, menurutmu bener, tapi kalau orang yang dengar kan nadanya sengak gitu.”
“Sengak gimana?” yang suka banyak rencana kan memang politikus, pelaksanaanya mah belum tentu. La kalau orang-orang seperti kita, tinggal nikmati hidup, jalani dengan sabar dan telaten, lambat laun ajal kan akan menjemput kita. Jadi, ngapain ngoyo-ngoyo, Yun.”
“Ya, bukan ngoyo, Le, tapi minimal merencanakan segala sesuatunya supaya ketahuan hidup kita mau ke mana dan untuk apa umur yang diberikan kepada kita. Itu sebagai bentuk syukur kita dan kelak kita bisa mempertanggungjawabkan umur yang sudah diberikan pencipta.”
“Nah, kalau itu aku setuju, Yun. Berarti rencana ku di tahun 2017 adalah jadi manusia yang baik, rajin menabung, dan tidak sombong.”
“Emmmm, kamu serius, Le?”
“Ya, serius, Yun, kamu pikir rencanaku itu sepele. Itu dilaksanakan susah betul. Pertama menjadi manusia yang baik. Kalimat sederhana itu tidak mudah dilaksanakan, kita bener-benar harus menjaga diri dari hal-hal buruk alias tidak melakukan dosa-dosa besar dan menjauhkan diri dari dosa kecil. Yang bisa sampai ke tingkatan itu kan hanya orang-orang pilihan. Dan, amalan itu biasanya dilakukan para ulama. Nah, kita orang biasa, mau sampai ke derajat ulama kan masya Allah sulitnya. Tapi, akan saya coba di tahun 2017. Ini sebagai pertanggungjawaban seorang hamba kepada penciptanya.”
“Terus rajin menabung, apa hubungannya?”
“Weleh-weleh, yang sangat erat hubungannya, kalau sudah atau berproses menjadi manusia yang baik, ya harus berencana dan sebisa mungkin melaksanakan perintah Allah, yaitu berziarah ke Baitullah. Dan, ke Baitullah itu perlu sangu yang tak sedikit, maka kita perlu menabung untuk mencapainya.”
“Ternyata kamu cerdas juga ya, Le.”
“Nah, kalau saya mengakui tuduhanmu, Yun, yang mengatakan saya orang cerdas, maka gugurlah upaya saya yang pertama, yaitu menjadi orang baik, karena orang baik enggak pernah merasa baik dan mengakui yang baik-baik pada dirinya. Kalau itu terjadi, saya tidak bisa melaksanakan rencana ketiga, yaitu tidak sombong.”
“Jadi, sejak kapan kamu punya cita-cita itu, Le?”
“Itu tak penting, yang penting bisa tidak aku melaksanakan. Kalau kamu sendiri, Yun, apa rencanamu di 2017?”
“Aku dari tadi lagi nyari-nyari, belum ketemu, masak aku mau nyontek kamu.”
“Kalau saya bukan nyontek, tapi melaksanakan perintah, karena yang kita lansanakan harus sesuai perintah.”
“Perintah siapa, Le?”
“Perintah atasan.”
“Atasan, atasan kamu siapa?”
“Ya Kanjeng Nabi, yang didawui kang moho Pangeran, yoiku Allah ta’ala.“ “Le, meski enggak paham, aku maksud, Le.”