Restorasi Lampung

Restorasi Lampung-dari Lampung untuk Indonesia. Lampung Post/Ikhsan Dwi Nur Satrio

JEPANG mungkin tidak sehebat sekarang ini, jika tidak mengubah perilaku buruk bangsanya. Adalah Mutsuhito atau dikenal Kaisar Meiji melakukan perubahan besar di segala sektor kehidupan sehingga Jepang mampu menyamai negara-negara maju di belahan Eropa. Sang kaisar mendobrak kehidupan feodal Jepang dari masyarakat tertutup menjadi terbuka.

Di era pemerintahannya, terhitung 1867—1912, Negeri Matahari Terbit melesat setelah melakukan modernisasi di segala bidang. Kaisar ke-122 merestorasi—mengubah cara hidup, sehingga Jepang menjadi kekuatan besar dunia modern. Restorasi Meiji mampu melakukan transformasi politik serta struktur sosial. Jepang menjadi negara tak tertandingi.

Negeriku perlu berkaca, bagaimana menata negara yang pernah terpuruk pasca-Perang Dunia II. Jepang mampu bangkit dari kehancuran. Kini Partai NasDem yang dimotori Surya Paloh mengumandangkan Gerakan Restorasi Indonesia. Platformnya, memulihkan negeri ini dengan memperbaiki kehidupan rakyat dan pemulihan kebijakan internasional.

Di Bandar Lampung, Sabtu (8/10/2016), Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan pencerahan di hadapan 3.000 mahasiswa se-Lampung, antara lain Universitas Lampung, IAIN Raden Intan Lampung, di kampus Informatics and Business Institute (IBI) Darmajaya. Dalam kuliah umumnya, Paloh mengupas gerakan restorasi yang digadang partainya.

“Gerakan ini merupakan solusi krisis kepribadian yang dialami bangsa Indonesia. Ketertinggalan dalam kemajuan teknologi dan pembangunan infrastruktur dapat dikejar dengan cepat, tapi ketertinggalan moral tidak bisa sesingkat itu. Membutuh proses yang panjang," katanya. Seluruh anak bangsa harus mengejar ketertinggalan itu.

Aktivis pendiri Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI/Polri (FKPPI) dan Pemuda Panca Marga (PPM) itu menilai bangsa Indonesia terjebak dalam budaya serbainstan yang melahirkan politik pencitraan. "Mau gelar sarjana tapi tidak perlu sekolah. Mau kaya tidak mau berusaha. Mau menjadi ketua partai, tapi tidak memiliki basis sosial. Yang penting modal uang. Termasuk mau menjadi calon presiden kalau bisa lawannya mati cepat. Termasuk juga mau mengikuti pilkada lalu menyebarkan isu negatif kepada lawan. Semua serbainstan," kata Paloh prihatin.

Semuanya serbapragmatis, serba ingin instan. Semuanya disulap dengan transaksional menyebabkan manusia Indonesia menjadi anak bangsa superindividualistik. Paloh sangat prihatin, karena sebagian rakyat di negeri ini tak lagi memegang identitas sebagai bangsa yang gemar bergotong royong. The five principles—Pancasila sudah tergerus. ***

Bangsa yang masih mencari jati diri. Karena masih saja membuang energi dan waktu yang tidak perlu. Indonesia perlu membangun kembali karakter sebagai negara beragam. Founding father merumuskan ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Tapi Pancasila digerus untuk kepentingan sesaat. Bersandar Pancasila, Paloh menggagas trilogi Restorasi Indonesia—mewujudkan rakyat sejahtera, bangsa bermartabat, negara yang kuat.

Adalah Lampung. Provinsi di ujung selatan Sumatera ini perlu merestorasi dirinya. Dari Lampung untuk Indonesia. Mengejar ketertinggalan dari segala sektor kehidupan. Lampung perlu memperkokoh fondasi sebagai daerah beragam kehidupan. Di sinilah, sebuah keunggulan Lampung—hidup berdampingan, penuh toleran dengan berbagai suku dan agama. Lampung hebat! Modal utama menjadi daerah kaya raya.

Seorang tokoh adat Lampung, Edward Syah Pernong, melihat kehidupan budaya daerah ini telah menjiwai nilai-nilai Pancasila. Keanekaragaman adat Saibatin dan Pepadun mengusung spirit kolektivisme (untuk Saibatin) dan demokratis (Pepadun). Ini modal besar tatanan kehidupan harmonis dalam mewujudkan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Lampung.

Seperti sila ketiga dalam Pancasila, masyarakat adat Lampung disimbolkan dalam nengah nyapur. Anak bangsa menyadari peran kemanusiaannya, selalu menjaga persatuan. Bergaul secara terbuka, ikut berpartisipasi dan bergotong royong. Masyarakat adat ikut juga terlibat dalam upacara adat, membentuk kerapatan sosial, juga saling menghormati satu sama lain.

Banyak kasus di masyarakat, seperti kekerasan seksual, kriminalitas, peredaran narkoba, dan tumbuh subur aliran radikalisme karena lunturnya nilai Pancasila. Pendidikan agama dalam keluarga dan sekolah kian jauh akibat pola hidup berpandangan sekuler. Pendidikan informal, khususnya keluarga, memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pembangunan karakter anak bangsa. Dan pengetahuan serta pergaulan sosial diperoleh melalui pendidikan formal. Siapa dan kapan harus memulainya?

Untuk mengubah kebiasaan buruk, bangsa ini perlu melakukan perubahan yang sangat radikal dan sistematis. Karena memang, rakyat masih memilih tempat yang nyaman. Sedangkan kehidupan sangat dinamis. Dulu tidak ada kejahatan dunia maya, kini merebak sampai ke dunia anak-anak.

Dulu juga pengguna narkoba hanya beredar di kota besar, kini merebak hingga pelosok desa. Dulu paham radikal hanya sebatas sekelompok masyarakat, kini sudah dikendalikan jaringan internasional. Jika negeriku ini tidak sadar-sadar dan berubah, kehancuran pasti datang. Semua pada sibuk pencitraan. ***