Rupiah Dibuka Melemah ke Posisi Rp13.328/USD

Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Jakarta -- Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan pagi terpantau melemah dibandingkan dengan penutupan perdagangan sore di hari sebelumnya di Rp13.308 per USD. Meski demikian, nilai tukar rupiah tetap berpeluang menguat seiring dengan sentimen positif yang hadir sekarang ini.

Mengutip Bloomberg, Rabu 11 Januari, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka di posisi Rp13.328 per USD. Day range nilai tukar rupiah di kisaran Rp13.310 per USD hingga Rp13.335 per USD dengan year to date return di minus 1,21 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.320 per USD.

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap USD kembali menguat pada perdagangan Selasa bersamaan dengan penguatan mayoritas kurs di Asia. Penurunan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) juga berlanjut memanfaarkan kembalinya sentimen pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia (BI).

Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, nilai tukar rupiah terbantu faktor global dan relaksasi ekspor mineral dinanti. Ruang penguatan nilai tukar rupiah masih tersedia walaupun dolar index yang menolak turun lebih dalam semalam bisa membatasi apresiasi nilai tukar rupiah pada hari ini, apalagi melihat harga minyak yang mulai kehilangan momentum kenaikannya.

"Peluncuran peraturan yang mendorong relaksasi ekspor mineral masih ditunggu dan bisa mendongkrak prospek ekspor serta pertumbuhan ke depan. Di luar itu, investor juga menunggu kepastian dari isu reshuffle Kabinet Jokowi yang belakangan muncul ke permukaan," kata Rangga, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Di sisi lain, USD bergerak lemah di Asia dan minyak terus terkoreksi. Dolar index stabil dengan kecenderungan menguat setelah survei jumlah lowongan pekerjaan Amerika Serikat AS mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga minyak mentah kembali turun masih merespons data pasokan minyak beberapa Negara OPEC yang naik tajam.

"Tetapi USD secara umum masih tertekan di Asia hingga Selasa sore sejalan dengan penguatan harga obligasi di berbagai negara berkembang," pungkas Rangga.