Sabar itu Ada Batasnya

Aris Susanto, wartawan Lampung Post

SEORANG istri setia, penurut, dan energik, bahkan bisa diandalkan membantu mencari nafkah tentu menjadi dambaan setiap suami pemalas. Dengan begitu, suami bisa ongkang kaki, tanpa harus pusing lagi mencari uang.
Kisah ini sungguh terjadi dan dialami teman saya. Karena begitu penurutnya sang istri, sampai-sampai suaminya terlena tak ingin lagi bekerja mencari nafkah. Padahal, tugas suami, selain melindungi anak dan istrinya, dia juga punya tanggung jawab menghidupi mereka dengan layak.
Sekitar 15 tahun silam, wanita yang sebenarnya sudah berkeluarga dan memiliki dua anak ini terlibat asmara dengan pria yang juga tidak sendiri lagi dan memiliki anak. Begitu kuat cinta mereka sehingga kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini memutuskan menikah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
Tahun pertama hingga keduanya memiliki seorang anak, kehidupan mereka masih berjalan normal. Namun, ketika si buah hati mulai bisa berjalan, badai mulai mengguncang rumah tangga mereka. Munculah kebiasaan buruk sang suami. Selain pencemburu tanpa alasan, ia mulai bersikap kasar sampai-sampai anaknya pun menjadi korban kekerasan ayahnya.
Balita hasil cinta mereka harus dilarikan ke rumah sakit lantaran kakinya terluka serius terkena mata golok ayahnya saat menyerang sang istri.
Begitu kuat cinta kasih itu, kejadian ini pun tertutupi dengan rapat. Tak seorang pun anggota keluarga yang tahu, wanita ini tak berani buka mulut siapa yang menyebabkan sang anak terluka. Sejak saat itu pula istri tak berani membantah apa saja yang dikehendaki suami.
Meskipun suami tak bekerja dan tak mau mencari nafkah, istri dengan sabar karena takut, berusaha mencari kebutuhan sehari-hari dengan cara menjual jasa bagi yang membutuhkan bantuan mencuci pakian dan kesibukan rumah tangga lainnya. Sementara uang yang didapat tadi diberikan untuk keperluan suami.
Naifnya, suami itu tega-teganya melihat istri merumput setiap hari untuk pakan ternak, sedangkan dia hanya menunggu rumah sambil menikmati hari-harinya. Suatu hari, ada teman lainnya yang simpati melihat perjuangan istri mempertahankan rumah tangga, memberikan kesempatan pada istri untuk mengajar di salah satu taman kanak-kanak agar bisa menambah penghasilan.
Dengan izin suami, si istri pun mengajar anak-anak usia dini. Namun, tugas merumput tetap menjadi tanggung jawab istri. Setiap pagi sebelum mengajar, istri sudah mencari rumput untuk ternak yang menjadi harapan setiap tahunnya. Ketika pulang sekolah, rumput dibawa pulang. Jika ada orang yang membutuhkan bantuan tenaga, istri pun masih berangkat mengais rezeki.
Suatu hari, istri dikabari jika salah satu anaknya yang ikut pamannya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Terenyuhlah hati sang ibu, melihat anak lelakinya tergolek tak berdaya. Istri pun bergegas menuju rumah sakit.
Nahasnya, ketika pulang dari rumah sakit, suami mungkin menduga duga istrinya pergi yang tidak jelas. Sumpah serapah dan amarah suami pun tak dapat dibendung. Meski sudah dijelaskan kepergiannya menengok anaknya yang tergolek di rumah sakit, sang suami tak pedulikan lagi. Bahkan, muncul ucapan yang menyudutkan istri untuk memilih suami atau anak.
Rupanya istri yang selama ini takut dan hanya bisa menurut saja telah hilang kesabarannya dan dengan tegas memilik hidup bersama anaknya dari suami pertama lalu meninggalkan suami. Meski sudah dibujuk dan suami meminta maaf, istri bergeming, kekeh ingin mencari perubahan dalam hidupnya di awal tahun 2017 ini.
Terlambat sudah suami menyadari kesalahan yang dilakukan selama bertahun-tahun. Setelah beberapa hari istrinya tidak terlihat di rumah, barulah terasa betapa sepinya. “Saya sudah enggak sanggup lagi. Pilihan yang berat, tapi saya memilih ikut anak hingga akhir hayat nanti,” itu yang diinginkan istri. n