Saksi Sejarah yang Terlupakan!

Kondisi Rumah Daswati yang menjadi pionir lahirnya Provinsi Lampung kurang terawat dan memprihatinkan, Kamis (16/3/2017). Rumah di Jalan Tulangbawang No. 11, Enggal, Bandar Lampung, itu merupakan tempat penandatanganan pemekaran Provinsi Lampung dari Pro

LAMPUNG memperingati hari jadi yang ke-53 pada 18 Maret berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2006 Pasal 2 Ayat (2). Provinsi yang menjadi gerbang Sumatera itu awalnya merupakan sebuah karesidenan di bawah Provinsi Sumatera Selatan.
Bicara sejarah berdirinya Provinsi Lampung tak bisa dilepaskan dari sebuah rumah di Jalan Tulangbawang No. 11, Enggal, Bandar Lampung. Rumah yang dikenal dengan nama Daswati atau kepanjangan dari daerah swantra tingkat tersebut menjadi saksi para tokoh Lampung dalam mempersiapkan untuk memisahkan diri dari Sumatera Selatan.
Untuk diketahui, rumah yang pernah menjadi milik Kolonel Achmad Ibrahim merupakan kantor Front Nasional (FN), organisasi massa yang dibentuk Bung Karno sebagai bagian dari pemerintah untuk membangun republik pasca-Perang Kemerdekaan.
Daswati I merupakan cikal bakal pemerintahan provinsi. Daswati I Lampung yang melepaskan diri dari Daswati I Sumatera Selatan baru memiliki Daerah Tingkat II Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Kotapraja Tanjungkarang-Telukbetung (embrio Kota Bandar Lampung).
Serah terima penyerahan kewenangan dari Daswati I Sumatera Selatan ke Daswati I Lampung dilakukan pada 18 Maret 1964. Sejak saat itu rumah tersebut resmi menjadi Kantor Daswati I Lampung.

Tak Terurus
Terselip sembunyi dalam pagar seng, rumah tua saksi bisu sejarah lahirnya Provinsi Lampung masih berdiri. Rasa jeri menyeruak saat memasuki rumah tua yang halamannya penuh dengan gerobak jualan titipan para pedagang.
Rumah Daswati yang berada tepat di pertigaan simpang Lapangan Saburai kini bak rumah hantu yang menyeramkan karena tidak terurus lagi. Ruangan dalam yang gelap tidak ada penerangan menambah kesan mistis saat memasuki tepi daun pintu rumah bersejarah yang kian merana itu.
Daun pintu dan jendela yang sudah mulai lapuk. Langit-langit atap yang sudah mulai runtuh dipenuhi sarang laba-laba yang diam menunggu mangsa serangga.
Semak belukar menjadi pemandangan khas rumah tua yang menambah kesan angker. Belum lagi lumut di dinding berbaur bersama cat memudar. Tapi, ada hal yang cukup menarik dari rumah tua tersebut. Jendela-jendela dan pintu besarnya yang khas membiarkan sinar leluasa masuk ke ruangan saat siang hari. Atap limas memberi kesan megah walaupun beberapa genting terlepas dari kayu penyangga.
Kemegahan rumah yang pernah menjadi bagian sejarah Provinsi Lampung itu seolah terlupakan dengan semangatnya pembangunan gedung-gedung dan hotel menjulang ke langit. Hiruk-pikuk keramaian dan sorak kemeriahan kegiatan upacara, hiburan, dan pesta lainnya yang berlangsung di lapangan sebelah seolah semakin menutupi rumah tua tersebut.