Satai dan Ketoprak

Ricky Marly (Lampost)

KEMBALI mengenai rezeki atau mata pencaharian. Beberapa waktu lalu saya menulis nuansa tentang mengais rezeki yang tidak mengenal waktu dan tempat yang dilakukan tukang rongsokan. Kali ini sedikit berbeda.
Ceritanya, minggu lalu, di malam hari, saya hendak mencari camilan ketoprak dan satai ayam di pinggir jalan sekitar Rajabasa. Saya membeli di tempat biasa, tetapi ternyata hanya tukang satai yang ada, tidak ada tukang ketopraknya.
Akhirnya saya hanya membeli satai ayam dua porsi. Sembari menunggu hidangan satai selesai, saya bercengkrama dengan tukang satainya dan menanyakan kenapa tukang ketoprak tidak jualan. Ternyata tukang ketoprak ini bukan tidak jualan, tetapi hanya pindah tempat yang lumayan jauh dari tempat biasanya.
Saya tanya kenapa tukang ketoprak itu pindah dan tukang satai tetap di situ. Ternyata kata tukang satai ini, tukang ketoprak itu pindah karena lokasi atau tempat jualan ketoprak sebelumnya akan digusur oleh salah satu perusahaan yang tidak jauh dari lokasi itu.
Hal yang sangat disayangkan, para pelanggan ketoprak yang enak ini pun bisa berkurang. Itu pun diakui oleh tukang satai.
Tukang satai itu pun bilang, lokasi tempat berjualannya sekarang dan tukang ketoprak sebelumnya itu ternyata sewa atau bayar per bulannya.
"Ya bayar, Mas, bayar kebersihan saja sama bayar lampu di tempat ini," kata dia.
Saya pun cukup kaget dan baru tahu, kalau berjualan di pinggir jalan itu pun bayar, walaupun cuma bayar lampu atau bayar kebersihan. Tukang satai itu pun bilang, bayarnya Rp50 ribu per bulan.
Saya pikir, hanya lapak jualan di pasar tradisional yang bayar, ternyata jualan di pinggir jalan pun bayar. Mereka bayar kepada pemilik tanah di tempat mereka berjualan.
Namun yang lebih sialnya lagi, tukang satai ini bilang, rekannya si tukang ketoprak ini bayar sewa tempatnya yang baru lebih mahal dari sebelumnya Rp50 ribu, dua kali lipat lebih, bayarnya sekarang menjadi Rp350 ribu per bulannya. Sebuah angka yang cukup besar dari penghasilan tukang ketoprak yang tidak menentu, kadang jualan habis atau tidak.
Mungkin nasib ini pun nanti dialami tukang satai ini jika lokasinya yang sekarang bakal digusur dan pindah ke tempat yang baru.
"Ya kan tempat ini memang mau digusur, tetapi enggak tahu kapan, belum pasti. Kalau jadi, saya juga sudah ada lokasi untuk pindah, enggak jauh dari sini," katanya.
Tukang satai ini pun berkorban untuk mencari rezeki. Dia berasal dari daerah Jalan Pemuda, Tanjungkarang. Namun dia berjualan di sekitar Rajabasa, cukup jauh.
Dia pun mengeluarkan uang lebih untuk membayar sewa rumah yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Rumah yang disewanya itu dipakai untuk keseharian dan masak atau mengolah daging satai.
"Saya bayar sewa rumah juga, ya rumah itu saya pakai untuk masak saja, dan biasanya kalau hari Minggu pulang (di Jalan Pemuda)."
Nah dari cerita ini saya baru tahu bahwa warga yang berjualan di pinggir jalan itu pun sewa lapak, saya pikir sewa lapak itu hanya berlaku di pasar tradisional. Sewanya pun cukup besar untuk penghasilan yang tidak terlalu besar. Ya semoga rezeki tukang satai dan tukang ketoprak itu besar untuk bayar sewa lapak dan keperluan sehari-hari mereka. Amin. n