Sekkab Lampura Resmikan Fasilitas Air Bersih di Desa Ratuabung

Fasilitas air minum di Desa Ratuabung yang mampu menyaluri untuk 300 kepala keluarga diresmikan oleh Sekab Lampura, Samsir, Jumat (6/1/2017). (Foto:Lampost/Fajar N)

KOTABUMI--Pemerintah Kabupaten Lampung Utara meresmikan penggunaan fasilitas air bersih (baku) menggunakan sistem perpipaan perdesaan di Desa Ratuabung, Kecamatan Abung Selatan, Jumat (6/1/2017).

Peresmian tersebut dilaksanakan oleh Sekab Lampura, Samsir mewakili Bupati Agung Ilmu Mangkunegara, bersama para asisten, Inspektorat, Kepala Dinas PU dan Tatakota, Syahbudin, dan masyarakat setempat.
Pembangunan fasilitas air bersih menyaluri 300 kepala keluarga yang ada di desa setempat.

Dapat terealisasi melalui dana sharing dari pemerintah pusat, dengan nilai total mencapai lebih dari Rp2 miliar. Kedalaman pipa mencapai 130 meter, sehingga lebih tahan terhadap musim kemarau.

Sekdakab Lampura, Samsir, mengatakan pembangunan tersebut dilaksanakan guna menjawab permasalah masyarakat yang ada di desa tersebut. Terkait sulitnya mendapatkan air ketika musim kemarau tiba, sehingga pemerintah daerah mencarikan solusinya dengan berkoordinasi bersama pemerintah pusat. Dalam mewujudkan peningkatan perekonomian penduduknya.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur dengan adanya pembangunan fasilitas ini. Sehingga yang sebelumnya masyarakat harus bersusah payah mecari air bersih, bahkan harus membeli dapat langsung mengalir kerumahnya masing-masing," kata Syamsir.

Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan salah satu bentul perhatian pemerintah di bawah Kepemimpinan Bupati Agung Ilmu Mangkunegara dalam memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang kesusahan. Sebab, saat ini telah banyak pembangunan dilaksanakan, khususnya di bidang insfrastrukutr sebagai fokusnya. Dengan tanpa meninggalkan program pembangunan di bidang lainnya, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi sampai dengan keagaamaan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tatakota Lampura, Syahbudin mengatakan fasilitas air bersih itu lebih efektif bila dibandingkan dengan sarana sumur bor. Sebab, dapat lebih banyak menyuplai masyarakat yang mecapai 300 kk, sementara sumur bor tidak lebih dari 27 kk per unitnya.
"Jadi ini lebih effisien penggunaannya, karena masyarakat tidak perlu bersusah payah mengangkut air, karena sudah langsung kerumah. Dan biayapun irit karena menggunakan listrik, kalau digotongroyong pemakainya tidak lebih Rp1,5 juta/bulan," ujarnya.