Seorang WNI Bebas dari Jeratan Hukuman Mati di Arab Saudi

Syarif Hidayat Anang (tengah) kembali ke Tanah Air (Foto:Dok.Kemenlu RI).

Riyadh -- Di awal tahun 2017, seorang warga negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi bebas dari hukuman mati.

WNI bernama Syarif Hidayat Anang ditahan aparat hukum Arab Saudi pada 2013. Dia ditahan atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap WNI lainnya di Arab Saudi yang bernama Enah Nurhasan.

Syarif dituduh melakukan pembunuhan tersebut bersama tiga orang warga negara Arab Saudi di kota Ahsa, Provinsi Timur Arab Saudi.

KBRI Riyadh terus memberikan pendampingan hukum terhadap Syarif. KBRI juga sejak awal menugaskan pengacara Abdullah Al Mohaemeed untuk memberikan pembelaan hingga tahun 2015. Sejak Mei 2016 pembelaan dilakukan oleh Konsultan Hukum Muhammad Ahmad Al Qarni.

"Dari hasil pendalaman kasus oleh Tim Perlindungan WNI KBRI, kita memiliki keyakinan bahwa Syarif tidak terlibat pembunuhan. Karena itu kita all out memberikan pembelaan untuk membebaskan Syarif," ungkap Koordinator Fungsi Konsuler KBRI Riyadh, Dede Rifai dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri yang diterima Metrotvnews, Sabtu (7/1/2016).

Dari empat orang tersangka, hanya Syarif yang dibebaskan dari tuntutan hukuman mati. Sementara tiga orang warga negara Arab Saudi tetap menjadi tersangka.

Meskipun Pengadilan di Kota Ahsa sudah memutuskan Syarif bebas dari hukuman mati pada 12 Desember 2016 lalu, namun berkas keputusan baru diterima 3 Januari 2017.

KBRI selanjutnya memulangkan Syarif pada tanggal 5 Januari dan tiba di Jakarta Jumat 6 Januari pukul 22.10 WIB. Syarif didampingi oleh Konsultan Hukum KBRI Riyadh, Muhammad Ahmad Al Qarni.

"Saya sangat berterima kasih atas bantuan KBRI yang sejak awal mengawal kasus ini. Saya akan segera pulang sekarang," ujar Syarif.

Pembebasan Syarif merupakan pembebasan WNI pertama dari ancaman hukuman mati pada 2017 ini. Sementara pada 2016 lalu sebanyak 71 WNI berhasil dibebaskan dari ancaman hukuman mati di berbagai negara.

Diantaranya tujuh WNI di Arab Saudi, 51 WNI di Malaysia, satu WNI di Tiongkok, empat WNI di Singapura , dan delapan WNI di Vietnam.