Seperti Buku Masak Saja

Delima Napitupulu, wartawan Lampung Post

DENGAN alasan untuk membekali anak dari ancaman penyakit dan kejahatan seksual juga sebagai pengetahuan dasar seksual sejak dini, penerbit Tiga Serangkai sempat meluncurkan Aku Berani Tidur Sendiri beberapa bulan lalu. Menurut pengakuan penerbit, buku itu sudah ditarik dari peredaran.
Tapi, bagaimana dengan buku yang sudah terlanjur dibeli masyarakat dan dibaca anak-anak? Tentu tidak tepat, keinginan mengajari anak melindungi diri menjadi pembungkus sekaligus dalih pembenaran atas konten berbau pornografi di buku yang kini sedang jadi sorotan itu.
Dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, ada bagian yang justru seperti mengomando anak untuk mendapat kepuasan secara seksual, bahkan disajikan step by step. Seperti membaca buku masak saja. Dimulai dengan menghaluskan bumbu, menumis hingga harum, dan memastikan masakan matang.
Cerita buku Aku Berani Tidur Sendiri juga demikian. Ada cuplikan yang mendeskripsikan aksi anak mulai dari memasukkan tangan hingga menyilangkan kaki pada guling. Sungguh parah! Sebagai ibu dari tiga balita, saya protes keras. Bagaimana mungkin, konten semacam itu disajikan untuk mengedukasi?
Peneliti bilang otak anak seperti spons yang mampu menyerap berbagai hal, terutama yang baru. Hal semacam itu tentu saja menjadi hal baru sekaligus menarik bagi sejumlah anak. Memang, ada bagian lain di buku itu yang memuat tips untuk orang tua. Namun, siapa bisa menjamin anak-anak tidak menggarisbawahi step-step yang justru berbahaya itu.
Beredarnya buku anak yang justru tidak proanak bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ada buku Penjaskes yang memuat konten porno beredar di SD Kabupaten Pasaman terbitan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 dan buku bahasa Indonesia siswa kelas VI di Kota Samarinda, beberapa waktu lalu.
Kondisi ini jelas meresahkan. Buku yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan, pembentuk karakter anak, justru berisi konten berisiko. Buku sebagai jendela dunia anak patut mendapat perhatian penuh berbagai kalangan. Beruntung, buku Aku Berani Tidur Sendiri menuai kritik dari masyarakat. Artinya, masyarakat menyediakan perhatian pada buku anak.
Ayolah, berlomba mencipta buku yang betul-betul proanak. Gunakan beberapa indikator sebelum mengedarkan buku, mulai dari naluri hingga pertimbangan ilmu psikologi. Tentu menghasilkan buku anak bebas konten porno bukan hal yang terlalu sulit.
Tentu hanya menuntut penerbit meminta maaf dan menarik buku belumlah cukup. Kelalaian yang bisa berakibat buruk bagi kelangsungan bangsa tidak bisa ditoleransi hanya dengan kalimat sederhana: maaf. Perlu sanksi tegas agar timbul efek jera. Ingat, rasa ingin tahu anak tumbuh dengan kuat meskipun kemampuan kognitifnya belumlah sempurna. n