SETITIK AIR: Anak Batu

Susilowati, wartawan Lampung Post

BATU terkadang menjadi metafora negatif, seperti kepala batu, hati yang membatu, dan lainnya. Tapi, kali ini batu memberi inspirasi seorang anak sehingga sang anak diberi julukan Anak Batu, yang dalam bahasa Arab Ibnu Hajar.
Alkisah, adalah Ibnu Hajar Al Asqalani, seorang anak yatim. Ayahnya meninggal saat usianya masih 4 tahun dan ibunya meninggal ketika dia masih balita. Ibnu Hajar muda belajar di sebuah maktab, kalau sekarang semacam taman pendidikan Alquran atau TPA.
Nama aslinya Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Syakban Tahun 773 Hijriah di pinggiran Sungai Nil di Mesir.
Di tempatnya belajarnya, Ibnu Hajar terkenal anak yang rajin dan tekun. Selain itu, dia adalah anak yang sangat patuh dengan sang guru. Selain sifat baik tersebut, Ibnu Hajar terkenal dengan anak yang bodoh.
Ini tentu bertolak belakang. Biasanya anak yang rajin adalah anak yang pandai. Namun, Ibnu Hajar sebaliknya, meski rajin, dia susah mencerna pelajaran dan mudah lupa dengan pelajaran yang diterimanya. Guru-guru yang mengajarnya pun heran dengan kondisi Ibnu Hajar. Hingga pada suatu waktu Ibnu Hajar merasakan kebosanan dan berputus asa. Meski berat untuk meninggalkan maktab, akhirnya karena rasa malu juga putus asa dia meninggalkan maktab dengan gontai.
Namun, di perjalanan hujan lebat mengguyur, sang anak pun mencari tempat berteduh. Hingga ditemukan sebuah goa yang dapat melindunginya dari guyuran hujan. Di dalam gua itu selain menyelamatkan diri dari hujan dan hawa dingin, Ibnu hajar pun beristirahat. Meski tubuhnya beristirahat, hati dan pikirannya tak bisa diam.
Hatinya diliputi galau, benarkah yang dia lakukan karena telah meninggalkan maktab, padahal dia belum berhasil atau lulus dari maktab tersebut. Sedangkan pikirannya terus berjalan sambil menikmati bebunyian di dalam goa. Dia menikmati suara jatuhnya titik air dari langit goa ke atas batu. Tanpa sadar mata Ibnu Hajar tertuju pada jatuhnya air yang menghasilkan bunyi. Matanya tertuju pada batu berlubang yang membuatnya terperangah.
Mengapa batu sekeras itu bisa berlubang? Lalu diperhatikannya air yang tak henti menetes, maka sadarlah ia jika batu tersebut berlubang karena tetsan air yang terus menerus. Subhanallah, air yang begitu lembut bisa melubangi batu. Tentu ini bukan hal yang mudah, tapi usaha yang tak henti.
Kemudian dia berpikir tentang dirinya, kalau batu yang keras saja bisa berlubang oleh air, apalagi pikiran manusia. Jika mau tekun, pasti bisa memamah ilmu yang dipelajari. Hati dan pikirannya pun tergerak, dia bergegas kembali ke maktab dan bertekad menyelesaikan pelajarannya.
Kini dunia mengenalinya sebagai Ibnu Hajar, ulama besyar yang masyhur dan menjadi referensi ulama setelahnya.