SETITIK AIR: Catatan Perbuatan

Fathul Mu'in, wartawan Lampung Post

TIME is running. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan seakan tidak terasa segera berakhir bertemu dengan 2017. Artinya, usia biologis dan usia bumi terus bertambah dan seluruh makhluk semakin dekat dengan Allah swt.
“Umur manusia tidak panjang, Jim. Hari ini sampai waktu kita mati itu enggak lama. Kalau kita tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menebarkan kebaikan kepada manusia, kita akan menyesal selamanya. Karena kehidupan dunia itu sementara, akhirat selamanya,” kata temanku saat duduk di atas tangga usai salat isya berjemaah. Subhanallah!
Di akhir tahun ini, temanku itu memang semakin religius. Ada perubahan signifikan dalam dirinya. Aku senang, kami senang. Karena jemaah salat di musala kecil itu bertambah pasukan. Semoga semua istikamah.
Perkataan sang teman itu benar. Bahwa manusia tidak tahu kapan menghadap Tuhannya. Akan tetapi, kita mengimani bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Kita juga memahami batas usia sudah ditentukan Allah Swt. Ibarat kelapa, masih bunga ada yang jatuh. Ada juga jatuh saat masih muda (blulok, cengkir, dugan). Ada pula yang baru jatuh pada saat sudah kering.
“Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan sedikit di antara mereka yang melebihi itu.” Hadis ini menggambarkan bahwa umumnya usia ummat Muhammad Saw antara 60-an dan 70-an dan sedikit yang melebihi 70 tahun. Dalam realitas kehidupana, tidak sedikit manusia yang menghadap Allah Swt pada usia muda.
Umur atau usia manusia bukan berorientasi pada pendek dan panjangnya hidup. Akan tetapi, berorientasi pada keberkahan selama menjalani kehidupan. Dan, nilai manusia bukan diukur dan dilihat dari sisi fisiknya, akan tetapi sejauh mana mereka menghabiskan waktu hidup untuk menghimpun amal-amal saleh dan bagaimana mereka mendayagunakan potensi dirinya.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian.” (hadis)
Jelang bergantinya tahun, kita tentu bisa mengingat apa yang pernah terjadi selama setahun lalu dalam lembaran kehidupan. Apakah tinta emas yang kita goreskan dalam kanvas kehidupan atau noda-noda hitam yang telah mewarnai kanvas tersebut. Kita mencatat itu semua dalam buku ingatan amal.
Kalaupun kita tidak mencatatnya atau lupa dan atau tidak mampu mengingatnya, semua amal itu sudah pasti tercatat dalam buku catatan Raqib dan Atid dan bakal kita dapatkan balasannya di hari kemudian. “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” QS Qoof Ayat (18).
Setiap pergantian tahun perlu dijadikan sebagai sarana perubahan, perbaikan, dan peningkatan amal ibadah dan perekonomian keluarga. Berjanji mempertahankan dan meningkatan prestasi yang diperoleh dan meninggalkan perilaku buruk tahun lalu. Melakukan perbaikan diri dan kualitas hidup bisa mengikuti rumus 3M milik Aa Gym. “Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai saat ini juga.” Satu lagi, yang menulis ini tidak lebih saleh dan lebih hebat dari yang membaca.