SETITIK AIR: Menggapai Hidayah

Sri Agustina, wartawan Lampung Post

MENYIMAK kisah Diaa Hadid, jurnalis asal Yerusalem yang menjadi koresponden The New York Times ketika berhaji ke Mekah tahun 2016, cukup menggugah hati. Ia bersama 100 wartawan lainnya dari berbagai negara melaksanakan ibadah haji atas undangan Kerajaan Arab Saudi.
Wanita berdarah warga negara campuran Australia, Lebanon, dan Mesir itu mengatakan dia hidup dalam keluarga sekuler tapi religius. Selama menjalankan ibadah haji sebagai tamu Kerajaan Arab Saudi, tentu saja semuanya fasilitasnya lengkap, termasuk dalam prosesi puncak ibadah mendapat pengawalan dari seorang petugas perempuan Suadi yang bernama Raghdah.
Diaa banyak bertemu dengan banyak muslim dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Indonesia yang terus mendoakan kebaikan bagi dirinya. Termasuk ketika usai melempar jamrah di jamarat, Diaa dan Raghdah menangis dan berepelukan serta saling mendoakan.
Ketika melaksanakan tawaf akhir, jurnalis asal Yerusalem itu tak lagi mampu melafalkan kalimat pujian dan terima kasih. Suara itu tak bisa keluar dari mulutnya. Ia berpikir: bagaimana saya meminta lagi kepada Allah, ketika saya merasa bahwa saya telah diberi begitu banyak? Saya merasakan semua doa kebaikan dan semua doa jamaah yang saat itu berada bersama-sama di samping Kakbah begitu menyemangati saya. Dan, saya merasakan betapa banyaknya orang baik yang secara tulus mendukung saya.
***
Kisah Diaa Hadid yang boleh disebut mendapatkan hidayah dari Allah swt. Dan manusia, terutama umat muslim, sangat ingin mendapatkan hidayah dari Sang Pencipta Allah swt. Namun, hanya Allah swt yang mampu menurunkan hidayahnya kepada umat-Nya.
Kita sering berpikir, sudah banyak sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang agar mengubah sifatnya. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita ternyata tidak mampu untuk mengubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat mengubah seseorang?
Hidayah atau petunjuk hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk mengubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah.
Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).
Ibnu Katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya.”
Allah akan memberikan hidayah kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah swt harus mengikuti hikmah-Nya. Jika kita ingin mendapat hidayah dari Sang Pencipta, tentunya kita sebagai hamba-Nya harus lebih mematuhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Insya Allah, Sang Khalik akan memberikan hidayah-Nya. Amin. n