SETITIK AIR: (Natal)

Wandi Barboy, wartawan Lampung Post

MENYAMBUT Natal, izinkan saya menuliskan perihal Natal. Bukan hal yang mudah menuliskan soal Natal di kala ujian toleransi antarumat beragama di Indonesia tengah diuji. Tetapi, sekali lagi, perkenankan saya menuliskan sedikit saja hal yang saya ketahui dan rindukan hal-ihwal Natal. Bukan pada atribut Natal dan segala macam pernak-perniknya yang bersumber dari Eropa dan Amerika, melainkan pada makna Natal itu sendiri.
Saya tidak anti-Eropa dan Amerika, tapi saya perlu melihat konteks berpijak di mana saya berdiri. Sebagai contoh, ketika mendengarkan lagu Natal berjudul: Have Yourself A Merry Little Christmas, pikiran saya segera melayang betapa indahnya Natal jika dihayati dan dimaknai. Saat mendengarnya, hati serasa tenteram. Namun, saya segera menyadari Natal bukanlah perayaan kelahiran Kristus yang serbamewah dan gemerlap, melainkan merayakan kasih yang hadir di tengah dunia ini. Ya, kasih dengan catatan tebal. Mengapa Kasih diberi garis tebal? Bagi saya untuk menunjukkan bahwa Natal harus dimaknai dari substansi atau inti dari Natal itu sendiri dan bukan pada permukaan atau kulit luarnya saja.
Guru Besar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Pendeta Jan S.Aritonang menyatakan sampai sekarang gereja Kristen (yang terdiri dari berbagai aliran dan organisasi) belum pernah membuat konsensus tentang atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu. Bahkan ada juga gereja yang tidak merayakan hari Natal dan tidak menggunakan simbol salib. Atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu muncul dari tradisi sebagian gereja, terutama yang di Barat (Eropa dan Amerika), yang kemudian disebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nah, terang bukan bahwa atribut dan simbol–simbol itu hanya tradisi dari sebagian gereja!
Pendeta Aritonang melanjutkannya dengan produksi, penyebaran, dan perdagangan benda-benda atribut Natal tidak mempunyai hubungan langsung dengan iman Kristen, termasuk iman kepada Yesus Kristus, yang diimani umat Kristen sebagai Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia, serta sebagai Tuhan dan Juru Selamat Dunia. Penyebaran, produksi, dan perdagangan benda-benda itu lebih dimotivasi oleh hasrat untuk mendapat keuntungan materi semata.
Dengan demikian, merayakan Natal berarti menghidupkan Kasih. Memaknai Natal adalah mencontoh suri teladan Kristus untuk menjadi garam dan terang dunia. Jika tidak, Natal hanya akan berlalu ditelan angin. Selamat Natal bagi yang merayakan.