SETITIK AIR: Perjalanan ke Thaif

Eka Setiawan, wartawan Lampung Post

MASIH ingat dengan kisah perjalanan suri teladan kita Rasulullah saw ke Thaif? Begitu hebatnya akhlak Rasulullah dalam berdakwah menyebarkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.
Dalam kitab Fadilah Amal karya Syaikh Muhammad Zakariyya AI Kandahlawi, dikisahkan pada tahun kesepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kuffar bertambah kesempatan untuk mencegah perkembangan Islam, dan menyakiti kaum muslimin.
Atas hal ini, Rasulullah saw pergi ke Thaif. Di sana ada suatu kabilah bernama Tsaqif, yang sangat banyak anggotanya. Baginda Rasulullah berpendapat, jika mereka memeluk Islam, kaum muslimin akan terbebas dari siksaan kaum kafirin, dan akan menjadikan kota itu sebagai pusat penyebaran Islam.
Setibanya di Thaif, Rasulullah saw langsung menemui tiga pemuka masyarakat dan berbicara dengan mereka, mengajaknya kepada Islam, juga mengajak mereka untuk ikut membantu penyebaran agama ini. Namun, mereka bukan saja menolak, adat bangsa Arab yang terkenal dengan penghormatan terhadap tamu pun tidak mereka lakukan.
Mereka menerima beliau dengan perilaku yang sangat buruk. Mereka menunjukkan rasa tidak suka dengan kedatangan Nabi saw. Setelah menemui mereka yang sulit diharapkan itu, Nabi pun berharap agar dapat berbicara dengan selain mereka. Ternyata, tidak satu pun di antara mereka yang mau menerimanya.
Ketika Nabi saw sudah tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap-siap akan meninggalkan mereka, para pemuda kota mengikuti Nabi saw, lalu mengganggu, mencaci, serta melempari beliau dengan batu, sehingga sandal beliau penuh dengan darah. Dalam keadaan seperti inilah Rasulullah saw meninggalkan Thaif. Ketika pulang, Rasulullah menjumpai suatu tempat yang dianggap aman dari kejahatan mereka. Beliau saw berdoa kepada Allah swt.
“Ya Allah, aku mengadukan kepada-Mu kelemahan, kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Yang Maharahim dari sekalian rahimin, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh yang akan menguasaiku, atau kepada keluargaku yang Engkau berikan segala urusanku, tiada suatu keberatan asalkan tetap dalam rida-Mu.
Afiat-Mu lebih berharga bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu, yang menyinari segala kegelapan, dan yang membaguskan urusan dunia dan akhirat. Dari turunnya murka-Mu atasku atau turunnya azab-Mu atasku. Kepada Engkaulah kuadukan keadaanku, hingga Engkau rida. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”
Demikian sedih doa Nabi saw sehingga Jibril AS datang memberi salam kepada beliau dan berkata, “Allah telah mendengar perbincanganmu dengan kaummu, dan Allah pun mendengar jawaban mereka, dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apa pun perintahmu kepadanya.”
Malaikat itu pun datang dan memberi salam kepada Nabi saw, seraya berkata, “Apa pun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan kubenturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapa pun yang tinggal di antara keduanya akan mati terhimpit.
”Rasulullah yang bersifat kasih dan mulia ini menjawab, “Saya hanya berharap kepada Allah, andaikan pada saat ini mereka tidak menerima Islam, mudah-mudahan keturunan mereka kelak akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah,” ujar dia.
Demikianlah akhlak seorang Nabi yang mulia. Kita mengaku bahwa diri kita adalah pengikutnya. Namun, ketika kita ditimpa sedikit kesulitan, kita akan mencela, bahkan menuntut balas. Semoga kisah ini menjadi sebab keberkahan kita semua yang membacanya. Amin yarobbal alamin. n