SETITIK AIR: Ziarah Diri

Wandi Barboy, wartawan Lampung Post

KEPENATAN hidup memang payah! Tak salah rasa-rasanya, seandainya banyak orang mengambil alih hari-harinya dengan sedikit “kesenangan”. Di tengah rutinitas yang terus menggeliat saya sempatkan untuk membaca sebuah perikop firman-Nya yang tersarikan dalam kitab Mazmur Daud. Tepatnya: Mazmur 84:6. Demikian tertulis; Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
Ya, ziarah! Teringat suatu masa yang jauh, dalam pikiran berkelebatan beragam ziarah. Bukan ziarah dalam arti sempit, melainkan ziarah dengan makna luas. Saya meresapkan dalam hati dan mengenang sejak kapan mengenal kata “ziarah”. Betapa asingnya kata itu dan seolah mengetuk kalbu yang kosong. Mengapa berziarah? Apa perlunya berziarah?
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online mendefinisikan ziarah sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (makam dan sebagainya). Namun, saya tidak ingin mengungkapkan ziarah yang demikian. Ziarah yang saya maksudkan adalah ziarah diri.
Ya, seruan untuk berziarah inilah yang menggelitik hati untuk menuliskannya. Ziarah bukanlah suatu perjalanan yang istimewa. Ziarah sudah sewajarnya dilakukan setiap insan yang tercerahkan. Ziarah diri sendiri untuk kemudian menemukan bahwa ada Sang Khalik di balik semua kehidupan yang dijalankan selama ini. Hasrat ziarah macam inilah yang kini menganga lebar dan kosong tak berisi ditelan gemerlapnya kehidupan dunia yang membelenggu.
Berbagai macam cara digunakan setiap insan untuk menikmati kepenatan hidup yang dialaminya. Ada yang dengan berekreasi dan bertamasya ke tempat-tempat terjauh yang menyenangkan hati, ada yang bersenang-senang berkumpul bersama teman-teman dan sanak saudara, dan lain sebagainya yang sifatnya mengurangi ketegangan rutinitas yang serasa monoton.
Cara saya berziarah adalah apa adanya dan sebagaimana adanya saja yaitu ziarah melalui dunia maya dan menuliskan relung pikir dan beban hati yang melilit. Saya merasakan diri ini yang terkadang abai dan melupakan betapa kasih Tuhan selama ini sungguh nyata dalam kehidupan yang dijalankannya di tanah rantau. Maka, ziarah macam inilah yang ditulisnya.
Ziarah sering dianggap orang sebagai kelana istimewa. Padahal, keseharian kita ternyata juga dapat membimbing kita untuk menemukan horizon yang lebih luas. Sebab itu dituntut untuk selalu menziarahi diri sendiri. Jadi, bukanlah sebagai kelana yang istimewa. Semua hanya tergantung pada seberapa sering kita menziarahi diri sendiri. Dan pada akhirnya, bukan karena seberapa sering, tetapi memang semestinya yang demikian itulah yang diperbuat.
Memungkasi catatan ini, oleh sebab cara hidup dunia yang makin sempit dan menyesakkan itu kian membelenggu kita, maka berziarahlah! Dengan demikian, belenggu yang mengikuti setiap langkah kita itu kemudian pergi menuju Dia (Tuhan) yang akan menebarkan hidup baru dan horizon yang luas bagi kita. Tabik. n