Singa Jakarta

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dok. lampost.co

ENERGI bangsa ini benar-benar terkuras hanya untuk urusan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Putra Belitung itu, kini dicaci maki, dihujat karena diduga menistakan Alquran. Atas tekanan massa dan gelombang demo, Ahok menjadi tersangka, dan dia harus berurusan dengan hukum. Keberanian Singa Jakarta itu mampu secara terbuka membongkar praktik korupsi Ibu Kota. Kini, dia tidak mengaum lagi.

Dalam berbagai survei, tadinya elektabilitas Ahok melebihi Agus Harimurti dan Anies Baswedan. Kini melorot di angka 10 persen. Penyebabnya adalah ucapan dari mulut Ahok menyitir Alquran Surah Al Maidah Ayat (51), memicu gejolak massa di mana-mana. Demo yang menggetarkan di Ibu Kota pada 4 November 2016 lalu, menuntut Ahok dipenjarakan. Hasilnya? Dia menjadi tersangka dan tidak boleh bepergian ke luar negeri.

Dan demo susulan pada 25 November 2016, kembali Ahok didesak segera ditahan. Seperti inikah penegakan hukum di negara yang beradab? Ada kesan, polisi memaksakan Singa Jakarta itu menjadi tersangka hanya untuk meredam kemarahan massa.

Sulit memang memisahkan penegakan hukum untuk Ahok yang disangkakan menistakan agama dengan urusan politik. Ahok digadang-gadang menjadi calon kuat gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak Februari 2017.

Hanya karena menistakan agama dalam suasana pilkada di Kepulauan Seribu, September 2016 lalu, Ahok dijegal. Bahkan, belakangan beredar video media sosial yang ingin menjatuhkan Presiden Joko Widodo pada demo susulan tanggal 2 Desember 2016 nanti.

Teridentifikasi, pedemo memaksa berunjuk rasa di depan Istana Negara dan Kompleks Parlemen di Senayan. Dua tempat itu adalah simbol negara, bangsa yang berkedaulatan ini.

Presiden pun menyakinkan di depan tokoh agama, ulama, organisasi kemasyarakatan, pasukan elite dari TNI/Polri, bahwa negara masih utuh menjaga kebhinnekaan dan melindungi rakyatnya. Tak kurang sejumlah pawai kebangsaan, istigasah, serta doa bersama lintas agama digelar dan berkumandang di setiap jengkal tanah di negeri ini.

Kalaupun mau jujur, Ahok tinggal menunggu hidayah—datang dari Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Adalah Ustaz Arifin Ilham bersama anak yatim mendoakan Ahok dalam Doa Bersama di Lapangan Monas, Jakarta, Jumat pekan lalu.

"Kami doakan Ahok mendapatkan hidayah-Nya," kata Ustaz Arifin Ilham yang bersuara khas itu. Sungguh menyejukkan doa seorang muslim. Karena, kata Ilham, Ahok belum paham betapa indahnya iman Islam. Betapa indah dan anggunnya ajaran Islam. ***

Kehadiran Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama telah membawa umat Islam bersatu. Akan halnya Umar bin Khattab. Sebelum masuk Islam, Umar sangat keras menentang Nabi Muhammad saw. Bahkan dia mengancam akan membunuh orang yang mengikuti Rasulullah saw.

Umar dongkol dengan kegagalan kaum Quraisy untuk membunuh Muhammad. Dia berwatak keras, berani, dan disiplin, juga memiliki kecerdasan. Maka dia dijuluki oleh Nabi saw, Singa Padang Pasir.

Suatu hari Umar berniat membunuh Nabi. Di tengah jalan dia bertemu seorang sahabat bernama Nai’m bin Mas’ud. Ia bertanya kepada Umar, “Hendak ke mana wahai Umar?” Umar lalu menjawab dengan penuh geram, “Aku hendak membunuh Muhammad.” Maksud itu diurungkan Umar setelah ia membaca lembaran-lembaran Surah Taha. Setelah membaca lembaran tersebut, tiba-tiba Umar merasa damai dan tenang.

Umar terhenyak, “Alangkah indahnya kata-kata ini !” Lalu Umar berkata, “Tunjukkan kepadaku di mana Nabi Muhammad berada, aku hendak mengikuti ajarannya.” Serentak kaum muslimin mengucapkan hamdalah.

Umar bin Khattab mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Nabi Muhammad. Tak lama setelah Umar masuk Islam, istrinya Zainab binti Maz’un dan anaknya, Abdullah, mengikuti jejak sang suami dan ayah.

Perjalanan hidup Umar sangat menginspirasi umat manusia. Ahok yang kini di-bully, ternyata sudah dua kali bicara tentang pemimpin Islam dan Nabi Muhammad.

Putra kelahiran Bumi Laskar Pelangi itu kerap mengutip—memberi contoh keteladanan Khalifah Umar dan Nabi Muhammad. Itu pernah disampaikan saat Ahok menjamu siswa Jambore Pelajar se-Pulau Jawa 2015 dari Maarif Institute, 21 Desember tahun lalu.

"Kita harus transparan. Ajaran Nabi Muhammad tentang sifat sidik (benar), amanah (bisa dipercaya), tablig (menyampaikan), fatanah (bijaksana). Pemimpin buktikan itu, orang akan lihat kamu," kata Ahok dikutip detik.com, ia memberi pesan tentang bagaimana sebaiknya seorang pemimpin.

Di depan siswa itu, Ahok menyampaikan dirinya bukan seorang Betawi dan bukan seorang Islam. Tapi tidak mau pura-pura menjadi Betawi atau politik pindah agama. Tapi, Tuhan memberikan amanah untuk menjadi gubernur. "Kan jabatan pemberian Tuhan, kalo kun fayakun mah jadi saja. Ahok itu Islam, tapi belum dapet hidayah karena hidayah milik Allah,” kata dia.

Menolak Ahok menjadi gubernur hanya bisa dilakukan dengan tidak memilihnya pada hari pencoblosan. Biarkan rakyat Jakarta memilih pemimpinnya yang terbaik. Cara itulah yang lebih bermartabat ketimbang memainkan isu agama dan ras untuk membuatnya keok. Ini adalah ujian anak bangsa terhadap kematangan bersikap sebagai negara yang beradab.

Penegak hukum, apakah dia polisi, jaksa, atau hakim, harus bersikap profesional dan transparan saat mengadili seorang Ahok. Di bumi Pancasila ini, siapa pun memiliki hak yang sama—menghirup udara dan menikmati kekayaan alam. Janganlah kekuatan massa mengalahkan hukum, apalagi menjadi bagian dari negosiasi politik merebut kekuasaan. Ingat! Ini akan menjadi preseden buruk. ***