Sosok Dewi Welas Asih dalam Tari Tangan Seribu

Tari tangan seribu. Lampung Post/Zainuddin

TARI tangan seribu menjadi momen paling ditunggu ratusan hadirin dan tamu undangan dalam perayaan capgome yang digelar di Mahan Agung, rumah dinas gubernur, Jumat (17/2/2017) malam. Tanpa instruksi, 10 penari yang bergabung di Sanggar Wihara Budha Dharma naik ke panggung dengan mengenakan kostum kuning keemasan yang menggambarkan kemakmuran, yang makin menambah kemeriahan perhelatan tersebut.
Satu persatu penari dengan luwes dan lemah gemulai melakukan berbagai gerakan mengikuti alunan musik. Gemuruh tepuk tangan tidak terbendung ketika para penari secara serempak melakukan
gerakan tangan yang sempurna.
Tarian ini memang membutuhkan sensitivitas dan refleks tarian yang cepat. Selain itu, penari harus konsentrasi penuh supaya bisa menari dengan benar. Jika salah sedikit, bisa mengganggu konsentrasi penari lain di belakangnya.
Tari tangan seribu atau dalam bahasa Mandarin disebut Qian Shou Guan Yin diiringi oleh musik karena dulunya tarian ini dipersembahkan untuk menghibur para kaisar di kerajaan, musiknya juga terdengar sakral dan bernuansakan kekaisaran.
Tarian ini juga dikenal sebagai tarian goddest of mercy yang menggambarkan sosok dewi welas asih, Kwan Im. Tarian tradisional etnis Tionghoa ini menggambarkan keindahan dalam kehidupan. Satu persatu para penari mengambil posisi masing-masing untuk menarikan tarian yang tidak lagi hanya untuk kalangan masyarakat Tionghoa ini.

Dewi Kebaikan
Dengan posisi yang berpencar, gadis muda ini terus memainkan gerakan tangan. Sesekali para penari membuat formasi mengumpul di tengah dan membuat gerakan tangan seribu.
Secepat kilat mereka mengayunkan tangan secara bergantian. Meski dilakukan secara bergantian, penari dengan sigap membuat lingkaran tangan menyerupai kipas, gerakan tangan dimulai dari penari nomor dua, tiga, dan seterusnya.
Layaknya Dewi Kwan Im—sang dewi penolong sebagai simbol tarian ini, penari paling depan tidak memainkan gerakan tangan. Sebagai simbol dewi penolong, penari hanya diam dengan melipatkan tangan dengan posisi tangan kanan lebih tinggi dibandingkan dengan tangan kiri.
Kecepatan memainkan 20 tangan penari itu memberikan efek bayangan seribu tangan. Kuku-kuku panjang berwarna kuning dan mahkota yang memanjang mirip ular naga di kepala membuat tarian ini makin apik.
Keluwesan, kekompakan, dan konsentrasi masing-masing mutlak dibutuhkan untuk memainkan tarian ini. Sebab, salah satu di antara penari ada yang salah memainkan gerakan tangan, akan merusak konsentrasi penari lainnya.
Tari tangan seribu, yang sering disebut dengan chiensou Kwan Im, dimainkan sekitar 5—7 menit tersebut membuat para hadirin larut dalam alunan musik dan gerakkan penari. Pada tarian ini para pengunjung diajak kembali ke zaman kerajaan Hindu Buddha ratusan tahun lalu. Seolah sedang menghibur sang kaisar, busana yang dikenakan ke sepuluh penari pun digambarkan mirip penari ular.
Selain dibuat decak kagum pengunjung juga diajak untuk ikut mengenal filosofi asal usul tarian dari Tiongkok. Salah satunya dengan penampilan tari tangan seribu di setiap perayaan capgome.
“Tarian ini menceritakan seorang dewi yang penuh dengan kebaikan. Jadi, dengan seribu tangan sang dewi, bisa menolong siapa saja,“ kata pelatih tari tangan seribu, Yulis Triyana.