Stones, Bek Medioker dengan Label Harga Selangit

Stones (kanan) sering membuat kesalahan di pertahanan City saat melawan Monaco. (AFP)

Monaco -- Manajer Manchester City, Josep Guardiola sebaiknya berhenti membela John Stones. Sebab, sekeras apapun usaha Guardiola, publik sepertinya sudah menyadari Stones hanyalah bek medioker yang kebetulan punya label harga selangit.

Dua kesempatan memperkuat The Citizens saat melawan AS Monaco di 16-besar Liga Champions 2016--2017 makin membuka 'borok' mantan defender Everton itu. Pada pertemuan pertama, Stones punya andil atas tiga gol yang bersarang ke gawang The Citizens.

Anehnya, pesepak bola yang dibeli City dari Everton dengan harga 47,5 juta Poundsterling (Rp778 miliar) itu terkesan tidak mau belajar dari kesalahan. Buktinya, Stones kembali tampil gagap pada pertemuan kedua, Kamis 16 Maret, sehingga The Citizens kebobolan tiga gol.

Stones layak menjadi kambing hitam atas semua gol yang bersarang di gawang City. Stones sudah salah mengambil putusan sebelum gol pertama terjadi. Ketika itu, ia memilih menghalau sepakan Benjamin Mendy sambil terjatuh. Alhasil, saat bola memantul dan kembali disepak Bernardo Silva ke depan gawang, Stones belum dalam posisi sigap. Sial bagi City, bola meluncur mulus ke kaki Kylian Mbappe dan berakhir dengan gol.

Gol kedua yang masuk ke gawang City juga berawal dari kesalahan Stones. Ia seolah lupa soal tanggung jawab di lini pertahanan. Ingat, Stones adalah bek tengah. Sudah menjadi tugasnya menghalau setiap pergerakan lawan dan laju bola di daerah kotak penalti.

Dimanakah posisi Stones sebelum gol kedua Monaco terjadi? Sisi kanan pertahanan The Citizens! Entah apa yang ada dalam pikirannya. Sebab, ia tiba-tiba memilih bergerak di sisi kanan guna menghalau pergerakan Mendy. Situasi ini berujung petaka karena menimbulkan kebingunan di lini pertahanan The Citizens.

Tanpa Stones di jantung pertahanan, Fabinho jadi leluasa bergerak tanpa kawalan. Tak heran, pesepak bola asal Brasil itu dengan mudah menyepak bola hasil umpan Mendy ke gawang The Citizens.

Selesai sampai di situ? Tidak! Gol ketiga Monaco yang diciptakan Tiemoue Bakayoko pada menit ke-77 juga tak lepas dari ketidaktahuan Stones mengawal pertahanan dengan baik dan benar.

Praktis, defender berusia 22 tahun itu hanya berlari tanpa arah ketika Monaco melakukan set piece dari luar kotak penalti. Alih-alih sigap memotong laju bola, Stones justru sibuk mengikuti pergerakan Almamy Toure yang sebetulnya hanya menjadi cameo dalam proses gol tersebut.

Laga melawan Monaco hanya satu contoh dari sekian banyak kesalahan yang dilakukan Stones. Jauh sebelum itu, sang defender mahal sudah berulang kali tampil menyedihkan di pentas Liga Primer Inggris 2016--2017.

"John Stones adalah mimpi buruk. Semua orang di dunia ini mengatakan kepada saya jika Stones akan menjadi pemain terbaik. Tapi, saya tetap melihat Stones selalu membuat kesalahan dan tidak berubah," kritik pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris sepanjang masa, Alan Sherear.

Eks penggawa Manchester United, Rio Ferdinand turut melontarkan cibiran. "Saya merasa sedih melihat Stones. Komunikasi antarpemain sangat buruk," kritik Ferdinand yang menjadi komentator untuk BT Sport saat Monaco vs City.

Andai saja Guardiola lebih peka dengan kualitas Stones. Bisa jadi, City sedang merayakan kemenangan dan lolos ke perempat final Liga Champions 2016--2017.

Tapi apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Guardiola lebih memilih memainkan Stones yang notabene defender termahal kedua sepanjang sejarah Liga Inggris saat melawan Monaco. Hasilnya dari putusan itu sudah bisa dilihat. Stones tampil gagap sehingga pertahanan City berantakan. Monaco membayar kesalahan The Citizens dengan mencetak enam gol.

Menang 5-3 pada leg 1 dan kalah 1-3 pada pertemuan kedua membuat The Citizens tersingkir. Sebab, mereka kalah agregat gol tandang dari sang lawan.