Sujud dan Cinta

Ilustrasi. nopindra.files.wordpress.com

Ironi Terharu

MULANYA cuma sebuah perjalanan darat dari Jakarta ke Bandar Lampung. Hari itu, 24 Desember 2017, dalam diri sarat kerinduan untuk merayakan Natal bersama keluarga dan sahabat. Di jalan hanya surat kabar Kompas dan Tempo yang sempat dibeli menjadi bacaan.
Saya terpana melihat headline yang menampikan foto besar Presiden Joko Widodo dan para pemuka keagamaan yang baru usai menandatangani ikrar damai umat beragama. Ada rasa kagum, bangga, dan terharu saat meresapi suasana jiwa mereka yang menandatangani piagam itu.
Kagum, karena kita masih satu. Bangga, di antara anak-anak bangsa terus terjaga kesehatian. Terharu, betapa jiwa kita tidak mungkin diceraiberaikan oleh kepentingan sesaat dan dangkal. Indonesia terlalu kokoh dan tangguh untuk dirobohkan kepentingan perorangan, kelompok, dan golongan.
Lalu menyeruak pertanyaan yang getir: mengapa setelah 71 tahun merdeka kita masih dirusuhi ancaman perpecahan yang tidak perlu? Bukankah semenjak awal memulai perjuangan kemerdekaan kita mampu satu hati satu rasa dan satu pikir satu langkah?
Mengapa hari ini gairah berbangsa dan bernegara mudah dikoyak oleh hanya satu keinginan politis dan satu gerakan antisatu Indonesia? Piagam itu juga menggetarkan sebagai ironi.
Dalam khotbah di gereja kerap saya katakan kalau kiprah umat belum dan tidak pernah cukup membangun Indonesia. Mari tidak melihat apa yang kurang dari negara atau pihak lain, tetapi temukan dan benahi apa yang kurang dari persekutuan gerejawi.
Perjalanan bangsa dan negara ini adalah tanggung jawab semua anak bangsa, tanpa membedakan yang satu dari yang lain. Rasa haru kita tahun ini menyimpan ironi yang getir.

Dijaga

Berita utama koran Tempo (halaman 3) juga memberi getar perasaan yang sama dalam jiwa kita. Mabes Polri menyatakan situasi siaga satu, Polda Jawa Timur menurunkan 12.015 personel, dibantu TNI dan Satuan Polisi Pamong Praja untuk mengamankan perayaan Natal dengan Operasi Lilin Semeru 2016. Lalu, Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser) mengerahkan 4.000 personel untuk menjaga perayaan di berbagai gereja.
Ingatan saya melayang pada peristiwa beberapa tahun lalu. Tanpa diminta, tanpa konfirmasi, dadakan hari itu ibadah di gereja dikawal oleh Banser. Saya hampir menangis melihat para sahabat siap mengorbankan diri, juga meninggalkan keluarganya, agar kami bisa beribadah dalam damai. Mereka berdiri di gerbang dan di sudut-sudut bangunan gereja. Toleransi, solidaritas, dan tanggung jawab, memenuhi jiwa mereka saat mendampingi kami.
Peristiwa itu mengajar kalau menjadi benar itu penting, tetapi lebih indah kalau dicintai oleh sesama. Lebih lagi dalam ajaran Kristen tidak ada seorang pun yang benar secara sempurna.
Natal adalah perayaan Tuhan yang rela mencintai dan berdamai dengan manusia berdosa. Dalam damai itu manusia dibenarkan, lalu dipulihkan, untuk dicintai sebagai kekasih-Nya.
Penjagaan para sahabat adalah kehadiran tangan Tuhan yang mau menjaga dan terus memeluk umat-Nya. Tampak sederhana, tetapi menyiratkan keikutsertaan yang Mahakuasa dan Mahapencinta bagi semua makhluk. Saat itu kita hanya bisa sujud dan penuh gairah kasih untuk memandang dan melayani sesama. Ada satu suara menyapa: mari saling menjaga dan berbela rasa.
Namun, menyeruak sebuah tanya yang getir: masih perlukah dalam suasana kerahiman ilahi ada ancaman dan rasa takut? Kurang eratkah kita bergandengan dalam membangun spiritualitas bangsa Indonesia. Kembali bukan salah siapa, melainkan apa yang masih kurang tulus, kurang terbuka, dan kurang dilayankan, dalam berbagi bersama semua anak-anak bangsa.

Menyambut Pertumbuhan
Peradaban manusia terus tumbuh tanpa terbaca ujungnya. Derap pertumbuhan itu tampak dari gejolak, dinamika, serta berbagai perubahan yang terduga dan juga yang mengejutkan.
Kemajuan teknologi sibernetik nyaris meniadakan jarak waktu dan teritorial. Namun, perubahan perilaku banyak orang bagai tumbuh di atas lumpur: goyah, dan di atas salju: beku, kaku, dan dingin.
Di masa kanak-kanak begitu mudah saya bertemu, bermain, dan berbagi dengan semua teman. Kini, di era sibernetik, bagai ada tangan hantu menghadang kita untuk bertemu dan berbagi.
Semua tampak makin mudah, tetapi juga makin terasa jarang berbagi rasa dan bela rasa. Fasilitas yang tersedia di era ini membuat keintiman jabat tangan dan kehangatan pelukan nyaris sirna.
Bertumpu pada dua kontemplasi di muka: ironi terharu dan dijaga, memang ada cemas dan harapan di tahun baru ini. Cemas melihat ancaman ikut tumbuh dan mengoyak rasa kebangsaan. Harapan, kalau semua pemimpin kita, baik formal pun nonformal, terus menggiring semua lapisan masyarakat di jalan kesatuan hati dan kesatuan bernegara.
Namun yang lebih utama, adalah kalau semua anak bangsa makin gigih mengulur tangan menepis kemiskinan, mencegah kekerasan, melawan korupsi yang masif, dan menopang mereka yang disisakan pertumbuhan peradaban. Betapa pun, mereka itu bagian yang tidak terpisah dari spiritualitas kita. Mari sujud syukur di depan Tuhan dan terus menebar cinta bagi sesama. Selamat Tahun Baru 2017. n