Tahu Bulat

Wiwik Hastuti, wartawan Lampung Post

SAAT belajar, si bungsu enggak konsentrasi lantaran menunggu tahu bulat. Ia merindukan camilan gurih, murah meriah, yang pasti enggak bikin kantong bokek. Mau rasa pedas atau asin, cuman lima ratus rupiah. Saban hari pukul 18.00, si mamang tahu bulat selalu lewat.
Jika mendengar suara speaker dari mobil pikap yang menjajakan tahu bulat, ia pun langsung berteriak memanggil. Bahkan, kerap harus berlari-lari mengejarnya. Kalau sudah ada tahu bulat, ia anteng belajar sambil menikmati tahu kopong yang hangat gurih-gurih enyoi karena fresh from the wajan itu.
Booming tahu bulat merasuki lidah seantero negeri. Lantaran mobil tahu bulat ini ngider blusukan di kompleks perumahan hingga perkampungan, biasanya penjaja camilan yang didatangkan dari wilayah Cianjur dan Tasikmalaya ini ada tiga orang.
Di ruang kemudi ada sopir yang merangkap jadi tukang halo-halo. Di bak belakang, ada satu atau dua lelaki yang melayani pembeli. Satu orang sibuk menggoreng, yang satu menjadi kasir. Kadang tukang goreng merangkap jadi kasir. Di bawah atap terpal, pramusaji tahu bulat berpeluh keringat. Maklum ia duduk dekat wajan berisi minyak goreng panas. Bila ada tetesan keringat masuk ke wajan itu, bisa menambah gurih rasa tahu bulat. He, he, he...
Sebenarnnya jajanan tahu bulat sudah lama kita jumpai di gerobak pinggir-pinggir jalan. Namun, keberadaan mobil tahu bulat keliling membuat kudapan ini jadi fenomenal. Backsound sebagai prosedur tetap menjadi ciri khas unik bisnis tahu bulat keliling yang dijajakan para pedagang dari daerah Cianjur dan Serang ini untuk menggelitik memancing pembeli. Gaya pemasarannya khas seperti syair yang banyak dihafal oleh anak-anak kecil, membuat tahu bulat menjadi favorit. "Tahu bulat, digoreng dadakan, Rp500-an..."
Sebenarnya, teks halo-halo tahu bulat sangat sederhana. Tak ada kata-kata nyeleneh. Mungkin karena diucapkan berulang-ulang, jadi gampang diingat. Begitu teori pemasaran sebuah produk. Ketika pengusaha kuliner memeras otak mencari tagline yang menggelitik, pencipta hymne tahu bulat memilih kesederhanaan teks.
Ketika pebisnis kuliner memakai merek aneh-aneh, keinggris-inggrisan, hingga nama-nama berbau mistis, tahu bulat tampil apa adanya. Percaya diri hanya sebagai tahu bulat saja. Mobil yang ngider pun tampil apa adanya. Hanya tulisan ala kadarnya di papan tripleks, tanpa dandanan desain visual penuh warna ala gerobak kuliner waralaba.
Kekuatan teks pada backsound tahu bulat keliling begitu kuat melekat dalam ingatan. Tak heran jika di media sosial banyak beredar meme seputar tahu bulat digoreng dadakan. Teks itu mengulik kreativitas lain hingga lahir lagu bertema serupa di YouTube. Mulai dari versi paduan, reggae, hingga tembang Sunda.
Pencipta teks backsound tahu bulat layak mendapat royalti. Cepat sekali ekspansinya. Mungkin akan ada FTV bertajuk Pacarku Tukang Tahu Bulat Digoreng Dadakan—yang digoreng tahunya, bukan tukangnya, lo!
Perumus teks tahu bulat termasuk genius. Entah siapa dia dan di mana tinggalnya, dia paham kondisi sosial masyarakat. Demi merayu mata konsumen, tahu yang biasanya kotak atau segitiga pun membulatkan tekad. Namun, tantangan tahu bulat adalah bagaimana mempertahankan kebulatan bentuknya. Bagaimana biar yang bulat tetap bulat.
Begitu juga tantangan umat manusia ketika harus mempertahankan kebulatan tekadnya. Ketika tahu bulat baru diangkat dari wajan, bentuknya terlihat sempurna. Tampak klomoh (berlumuran) minyak goreng seperti gadis desa yang kinyis-kinyis.
Namun, setelah tahu bulat diangkat dari penggorengan, ada saja tahu yang peyot atau kempot. Begitu juga dengan kehidupan ini. Banyak pemangku kepentingan yang begitu semangat saat menggodok program, namun melempem saat pelaksanaan.
Dalam pilkada, akur saat kampanye, pecah kongsi jika sudah terpilih. Koalisi yang digadang-gadang utuh pun bisa bubar di tengah jalan. Begitu juga dengan semangat kita yang awalnya bulat namun bisa kempes karena banyak rintangan.
Belajar hidup dari tahu bulat, mudah-mudahan di tahun ini dengan membulatkan tekad merealisasikan resolusi yang lebih baik, sambil menikmati gurihnya tahu bulat digoreng dadakan, lima ratus rupiah! n