Taman Kehati Wujud Impian Bocah Dusun (1)

Bupati Mesuji Khamami membimbing salah seorang anak yang belajar menggunakan sepatu roda (inline skate) di Taman Kehati, Desa Mekarjaya, Tanjungraya, Kamis (16/3/2017). LAMPUNG POST/JUAN SANTOSO SITUMEANG

MESUJI -- Rabu (15/3/2017), pukul 14.00, sengatan mentari dari langit Mesuji tidak menyurutkan Aldi (11), Dika (10) dan Andre (10). Ketiganya terus mengayuh sepeda mereka menuju Taman Kehati di Desa Mekarjaya, Tanjungraya. Tujuan mereka hanya satu, bermain.
Mereka melaju tergesa-gesa. Derit rantai sepeda berkarat kurang pelumas mengiringi tiap gowesan. Itu tidak mereka hiraukan. Kebisiangan itu tenggelam oleh obrolan ketiganya yang kadang sedikit berteriak satu sama lain dari atas sepeda.
Sepanjang perjalanan itu, dengan penuh keriangan mereka terus berbincang tentang permainan baru yang sebelumnya hanya bisa dilihat di televisi. Perbincangan itu baru terhenti kala ketiganya mendekati pintu gerbang wahana hiburan milik Pemda.
Wahana bermain itu milik Pemerintah Kabupaten Mesuji. Gerbang itu masih tertutup seng. Dengus napas tersengal-sengal dan degup jantung berdetak kencang, bocah-bocah polos itu makin cepat menggenjot pedal sepeda mereka masuk ke dalam taman.
Di taman seluas 25 hektare itu, ketiganya lekas memarkir sepeda. Seperti dikomando, pandangan mata mereka langsung tertuju ke sisi kiri taman. Dekat pintu gerbang. Satu areal kosong seluas 50 x 50 meter yang dicor semen.
“Hmm, belum ada orang, masih sepi!” seru Aldi sambil mengatur nafasnya yang baru saja ngebut naik sepeda. Bulir-bulir keringan mulai menghiasi dahinya. Begitu pula kedua rekannya. Mereka tampak sedikit kecewa mendapati taman kosong melompong.
Mereka pun duduk-duduk menunggu di tempat teduh. Tidak lama berselang, bocah-bocah lain, berjalan kaki, juga datang ke lokasi itu. Dalam waktu singkat puluhan anak sudah berkerumun di salah satu arena bermain di Taman Kehati. Semua menunggu.
Tiba-tiba, dari arah gerbang, dua jip masuk ke areal tersebut. Langsung membelah kerumunan dan parkir di ujung arena bermain. Tujuh puluhan bocah laki-laki dan perempuan langsung kegirangan termasuk Aldi, Dika, dan Andre yang sudah lama menunggu.
Salah satu penumpang jip turun. Bupati Mesuji Khamami, bercelana jins, sendal jepit, berkaus berkerah langsung duduk bersama bebarapa anak-anak. Ia datang membawa sesuatu yang di tunggu anak anak yaitu sepatu roda. Ya, sepatu roda baru.
Tanpa ragu, dengan aroma kulit bau gosong karena terbakar sinar matahari, ditambah bau apek keringat, tiga bocah dari Desa Mekarjaya dan Mekarsari itu, Aldi, Dika, dan Andre meminta sepatu roda yang dibawa Khamami.
“Pak, minta sepatu rodanya, mau main,” ujar Dika mewakili dua temannya. Khamami, sambil tersenyum langsung membuka bungkus sepatu roda. Tidak langsung diberikan. Tapi, Sang Bupati memasang terlebih dulu tali-tali sepatu roda tersebut.