Taman Kehati Wujud Impian Bocah Dusun (Habis)

Anak-anak bermain inline skate dan skateboard di wahana Taman Kehati Mesuji, Kamis (16/3/2017). LAMPUNG POST/JUAN SITUMEANG

ARENA permainan sepatu roda atau inline skate dan skateboard di wahana Taman Kehati menjadi perbicangan anak-anak sekitar taman. Sebab, setiap sore, Bupati Khamami selalu menyediakan sepatu roda untuk dipakai anak-anak bermain di taman tersebut.
“Saya menyediakan sepatu roda dan skateboard, supaya anak-anak desa yang ekonomi keluarganya tidak seberapa ini, punya mimpi yang sama dengan orang-orang kota, yang kaya, mengecap permainan yang sama, punya cerita yang sama. Supaya mereka tidak minder. Bisa tahu apa itu sepatu roda, waterboom. Bukan dari cerita rekan-rekannya yang orang tuanya kaya,” ujarnya.
Sepatu roda, skateboard, waterpark atau waterboom, kata Khamami, adalah hal kecil dan sepele bagi orang kaya. Namun itu sesuatu yang tidak terjangkau oleh anak-anak ini. Mereka anak-anak buruh bangunan. Anak dari tukang buat bata. Tukang angon sapi. Yang ngarit dari pagi pulang sore.
“Kalau saya tanya lebih baik orang tuanya membelikan hal lain yang lebih penting, daripada beli sepatu roda, itu sebabnya tidak mungkin mereka bisa bermain sepatu roda seperti ini,” kata Khamami.
Dia mengaku akan melakukan apa saja, supaya mimpi anak-anak miskin di Mesuji ini bisa sama dengan mimpi orang-orang di kota-kota besar. “Karena tidak semua, bisa ke waterboom. Hanya yang kaya. Oleh karena itu, saya menghadirkannya di Mesuji di Taman Kehati ini. Sebab, bermain dan bertumbuh kembang, serta rekreasi adalah bagian dari 10 hak asasi anak, ini harus kami wujudkan.”
Selain membantu memasangkan tali sepatu, sesekali Khamami membantu berdiri ana-anak yang terjatuh karena baru pertama kali menggunakan sepati roda. Bahkan tidak sungkan, ia menuntun bocah-bocah yang kesulitan melangkah sambil mengendalikan keseimbangan di atas sepatu roda.
”Ayo, belajar, kakinya diangkat, satu-satu, nah gitu,” kata Khamami, sambil terus menuntun salah satu bocah dengan kulit legam hitam, berambut jigrak dengan sedikit ingus di hidungnya.
Saking seriusnya, sambil kedua tangannya dituntun Khamami, si bocah rambut hitam kemerahan itu, memonyongkan bibirnya ke kanan kiri untuk mendapatkan keseimbangan mengendalikan sepatu mimpi itu.
Di sudut lain, masih di arena sepatu roda, puluhan bocah-bocah juga asyik bermain sepatu roda dan papan skateboard. Beberapa berteriak-teriak karena meluncur tidak terkendali. Bahkan ada yang jatuh terjengkang. Yang langsung disambut kor tawa anak-anak lain. Suasana riuh. Ceria. Tidak terasa, matahari doyong ke Barat seiring sinarnya yang redup.
Namun, semangat bocah-bocah dusun pinggir desa, sekitar Mekasari dan sekitarnya, bahkan anak-anak Mesuji pada umumnya justru mulai terbit. Dengan hadirnya wahana Taman Kehati yang mewujudkan mimpi mereka di tiap malam. Tentang bermain. Tentang Hidup.