Tergila-gila Surga

Ilustrasi jalan menuju surga. Sabil ar-Rasyad - WordPress.com

MENGAPA ada orang bersedia mati bunuh diri dalam aksi-aksi terorisme? Pertanyaan tersebut sangat penting diutarakan karena baru-baru ini bermunculan aksi terorisme yang identik dengan aksi bunuh diri di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.
Konon, ada satu alasan utama bagi pelaku bunuh diri, yakni ingin masuk surga. Alasan tersebut layak didiskusikan lebih jauh karena masalah ingin masuk surga hanya terjadi atas informasi yang diajarkan oleh agama. Dengan kata lain, dari agamalah informasi tentang surga dan syarat-syarat untuk bisa memasukinya.
Lebih jelasnya, semua yang ingin masuk surga pasti karena pernah mendengar atau membaca informasi tentang surga, sedangkan informasi tersebut bersumber dari agama. Dalam hal ini, surga digambarkan sebagai tempat paling menyenangkan di alam baka sehingga setiap orang yang hidup di dunia ini ingin mati dan kemudian masuk surga.
Karena itu, layak diduga bahwa pelaku-pelaku teror dengan melakukan aksi bunuh diri sedang tergila-gila surga, yakni selalu berfantasi dan terobsesi masuk surga. Namun, mereka sangat mungkin mendapatkan informasi tentang surga dan “tiket” untuk memasukinya hanya sepotong-potong. Jika mereka mau belajar agama lagi tentu tidak akan nekat bunuh diri menggunakan bom yang juga bisa membunuh orang lain.
Sekarang perlu ada warning bahwa mereka yang tergila-gila surga sangat berbahaya. Dalam kondisi tergila-gila surga, tapi masih dangkal pemahamannya tentang agama, seseorang bisa saja berani mati bunuh diri dengan niat jihad. Misalnya, ada sejumlah teroris ketika hendak melakukan aksi bunuh diri menyebut dirinya sebagai pengantin yang akan berbulan madu selamanya di surga bersama bidadari cantik jelita.
Celakanya, tidak seorang pun yang tahu berapa banyak orang yang tergila-gila surga tapi masih dangkal pemahamannya tentang agama yang sewaktu-waktu nekat melakukan aksi bunuh diri di tengah keramaian agar menelan banyak korban. Dalam hal ini, meskipun tidak kita harapkan, dunia selalu terancam karena mereka yang tergila-gila surga sewaktu-waktu akan menuntaskan kegilaannya dengan aksi teror bunuh diri.
Untuk konteks Indonesia, upaya pencegahan tergila-gila surga sudah dilakukan ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah dengan tegas menolak aksi bunuh diri atau kekerasan atas nama jihad. Karena itu, belum pernah ada warga NU maupun warga Muhammadiyah yang tergila-gila surga dengan memilih berjihad dengan cara kekerasan yang membahayakan diri sendiri maupun pihak lain.
Dengan demikian, jika pemerintah kita ingin menyelamatkan semua warga agar tidak tergila-gila surga, seharusnya bersinergi dengan ulama-ulama yang nyata-nyata berupaya mencegah pengikutnya tergila-gila surga. Selain itu, pendidikan agama yang rahmatan lil alamin atau agama antikekerasan layak diajarkan sebagai mata pelajaran primer di sekolah-sekolah. Siapa saja yang cukup mengenyam pendidikan agama hingga menjadi alim dan saleh dalam arti seluas-luasnya tentu tidak akan mudah tergila-gila surga.

Wawasan
Sekarang, mumpung sedang memasuki tahun pelajaran baru, sekolah-sekolah perlu memperkaya muridnya dengan wawasan dan pengetahuan tentang tata cara berjihad agar murid bisa mencegah diri masing-masing dari godaan tergila-gila surga. Dalam hal ini, murid perlu diberi tahu bahwa belajar berbagai ilmu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara juga bisa disebut sebagai jihad.
Selain itu, orang tua dalam keluarga masing-masing juga perlu memberikan pencerahan kepada anak-anaknya bahwa berjihad bukan melulu berperang dengan senjata atau bom. Peran keluarga sudah terbukti sangat signifikan dalam membangun karakter anak-anak.
Jika karakter antikekerasan sudah tertanam sejak dini dalam jiwa anak-anak, kehidupan mereka sepanjang hayatnya akan cenderung antikekerasan. Kalau mereka berjihad, tentu akan berjihad di jalan damai, dengan niat ikhlas dan berharap mendapat rida dan berkah dari Tuhan.
Untuk konteks sekarang, ketika aksi terorisme dalam bentuk aksi bunuh diri yang membahayakan banyak orang diprediksi masih menjadi ancaman global, tugas guru dan orang tua dalam mencegah anak-anaknya agar tidak tergila-gila surga sangat penting.
Jika setiap anak sudah dicegah agar tidak tergila-gila surga, tentu akan selalu waspada terhadap setiap godaan yang berujung pada kondisi tergila-gila surga. Godaan untuk tergila-gila surga sekarang bisa saja dalam bentuk bacaan, ceramah, pergaulan, pertemanan, dan ormas.