The Fed Naik, IHSG Double Winner!

H. Bambang Eka Wijaya

KONDISI ekonomi Indonesia menguat signifikan tecermin dari kenyataan naiknya suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), 25 basis poin pada Kamis (16/3/2017), IHSG justru mencapai double winner ditutup tembus 5.500 (5.518,24), dan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp6.000 triliun (6.012 triliun).
Kedua indikator itu jelas menunjukkan bukan saja ekonomi Indonesia on the track, tetapi juga makin efektif dan efisien. Hal ini didukung dengan derasnya modal asing masuk, yang menurut Bank Indonesia (BI) inflow per 13 Maret saja ekuivalen 2,2 miliar dolar AS. (detik-finance, 16/3/2017)
Kalau sebelumnya kenaikan suku bunga The Fed dikhawatirkan berimbas negatif terhadap IHSG dan rupiah, terbukti di bursa saham dan rupiah yang terjadi justru sebaliknya. Oleh karena itu, sebagai respons atas kebijakan The Fed, BI memutuskan kembali menahan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate tetap pada 4,75%.
"Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara.
Dengan kondisi yang ideal itu, selain mewaspadai berbagai faktor negatif dari luar negeri (eksternal), faktor-faktor negatif internal yang mungkin muncul perlu diidentifikasi terus, terutama inflasi yang belakangan cenderung tinggi. Dalam hal ini pemerintah perlu menjaga diri agar tidak menjadi sumber masalah.
Contohnya, inflasi priode terakhir dikenali sebagai dampak negatif dari kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices), antara lain kenaikan tarif listrik 900 Kwh dan harga BBM nonsubsidi.
Upaya pemerintah menjaga kondisi ekonomi yang ideal itu, terutama dari kebijakan inflatoar, juga berlaku pada pemerintah daerah. Sebab, sering terjadi inflasi di daerah tertentu lebih tinggi dari nasional akibat kebijakan di tingkat lokal.
Hal itu penting karena kondisi ideal ekonomi nasional itu disebabkan populisme ekonomi di Amerika dan Brexit, yang justru dengan maksud proteksionisme agar nilai tambah yang mereka hasilkan tidak merembes keluar, yang terjadi justru isolasi atau enclave sehingga skala usaha di dalamnya menjadi sesak. Oleh sebab itu, investor berlarian keluar, terutama ke emerging market, salah satunya Indonesia.
Untuk itu, jangan sampai booming modal asing itu dikacaukan oleh kebijakan domestik yang ujub, mengira modal itu masuk berkat pikatan kita. Padahal, muntahan populisme. ***