Tidak Ada Pasien Nomor Dua

Direktur Utama RSUDAM Hery Djoko Subandrio. Lampung Post/Zainuddin

RUMAH Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) menjadi kebanggaan masyarakat Lampung. Sebagai satu-satunya RS rujukan tingkat provinsi, RS pelat merah ini terus berbenah, baik penanganan dan pelayanan terhadap pasien, serta sarana dan prasarana.
Baru-baru ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek meresmikan monumen dr H Abdul Moeloek dan sejumlah gedung layanan kesehatan lainnya di RS tersebut. Menkes pun mengapresiasi RS terbesar ini yang dinilai memiliki desain planning sangat baik.
Lantas, rencana apa saja yang akan dilakukan oleh Direktur Utama RSUDAM Hery Djoko Subandrio untuk terus memperbaiki kinerja, pelayanan, dan fasilitas RSUDAM, berikut kutipan wawancara wartawan Lampung Post Wiwik Hastuti dan Nur Jannah di ruang kerjanya, Kamis (2/3/2017).

Sebagai rumah sakit rujukan tingkat provinsi dan rumah sakit pendidikan, RSUDAM tentu terus melakukan terobosan. Langkah apa saja yang Bapak lakukan untuk mengembangkan RSUDAM selain meresmikan gedung baru?

RSUDAM selain sebagai rumah sakit pendidikan di Lampung, juga merupakan rumah sakit rujukan tingkat provinsi sehingga harapannya segala permasalahan bisa diselesaikan di Lampung. Namun, jika ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diselesaikan di rumah sakit ini akan kami rujuk ke Jakarta. Namun, prinsipnya kami akan terus mengembangkan RSUDAM sebagai rujukan di Lampung. Kami mengembangkan gedung administrasi bukan berarti tidak mementingkan gedung pelayanan pasien. Akan tetapi, gedung baru ini sebagai pelayanan agar tidak mengganggu konektivitas, makanya kami pindah ke gedung baru.

Apa saja rencana yang akan dikembangkan selain gedung administrasi?

Gedung lama yang dulu kami pakai sebagai gedung administrasi nantinya akan dijadikan gedung rawat jalan yang menyambung dengan UGD (Unit Gawat Darurat) dan rawat inap. Apabila ada pasien yang harus rawat inap tidak harus jauh tinggal di sebelahnya. Jadi semuanya terkonektivitas. Sebab, kalau hanya mengandalkan gedung dua lantai tidak cukup. Nantinya gedung administrasi lama akan kami fungsikan sebagai unit transfusi darah.
Tahun ini kami juga akan membangun gedung empat lantai yang akan dijadikan sebagai gedung rawat jalan. Harapannya dengan penambahan gedung tersebut akan ada beberapa pengembangan poli, seperti poli untuk orang tua, poli institusi pemerintah wajib lapor (IPWL), dan poliklinik lainnya sesuai dengan gedung yang ada.

Lalu bagaimana dengan masterplan yang akan Anda lakukan untuk pembangunan RSUDAM?

RSUDAM memiliki masterplan pembangunan secara baku selama 10 tahun, dari tahun 2012—2022. Masterplan tersebut sebagai dasar untuk mengajukan usulan pembangunan. Setelah membuat gedung rawat jalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang belum kami laksanakan adalah membangun instalasi unit gawat darurat yang memiliki akses langsung ke ruang administrasi. Kemudian ruang administrasi yang dulu akan kami potong dan dijadikan sebagai tempat komersial, seperti kantin, ATM center, dan lain-lain. Rencananya tahun depan sudah mulai dioperasikan.

Bagaimana dengan pengembangan ruang kesehatan, seperti ruang kebidanan?

Pengembangan ruang kebidanan di RSUDAM untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Rencananya kami akan bangun gedung tiga lantai, yakni lantai dasar akan difungsikan sebagai ruang tindakan. Lantai dua sebagai ruang administrasi dan lantai tiga untuk pendidikan dokter spesialis kebidanan.
Dari gedung baru tersebut rencananya di lantai dasar, apabila ada tindakan emergensi bisa dilakukan di sana langsung tanpa harus menunggu ruang operasi umum sehingga dapat mengurangi daftar antrean dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi tadi.
Selain itu, tiga tahun lagi rencananya akan kami kembangkan untuk ruang kemoterapi. Saat ini memang sudah kami lakukan, akan tetapi pengobatan kanker itu ada tiga macam, yakni operasi, kemoterapi, dan penyinaran. Harapannya tahun ini akan kami bangun bungker untuk penyinaran. Sebab, selama ini pasien kanker dengan metode penyinaran masih kami rujuk ke Jakarta atau Bandung. Tahun ini mudah-mudahan kami bangun gedungnya dan tahun depan sudah punya alatnya. Kami juga telah bekerja sama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk mengajarkan cara penggunakan alat tersebut selama dua tahun.

Pengembangan apalagi yang akan dilakukan oleh RSUDAM selain ruang kebidanan?

Kami berencana mengembangkan ruang anak dengan membangun gedung empat lantai yang akan difungsikan sebagai ruang rawat anak, area bermain anak, serta ruang tumbuh kembang anak. Selain itu juga RSUDAM saat ini memiliki banyak peralatan canggih sebagai pengganti alat lama, seperti alat CT scan, alat radiologi, USG 4D (dimensi) bronkoskopi, endoskopi, dan lain-lain yang canggih dan lengkap.

Untuk saat ini berapa jumlah rata-rata daftar kunjungan pasien ke RSUDAM?

Di era BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) seperti saat ini ada perubahan tren. Jadi pasien penerima bantuan kelas III tidak bisa naik kelas, maka peserta BPJS mandiri minta naik kelas I dan kelas VIP sehingga ruangan ini yang selalu penuh dengan pasien. Ke depan akan kami bangun ruang pasien yang selalu penuh tersebut.
Sebagai rumah sakit rujukan provinsi tipe B, jumlah kunjungannya menurun. Jika dulu rata-rata pasien rawat inap dalam sehari mencapai 95%, saat ini hanya sekitar 75%. Sedangkan untuk pasien rawat jalan, dulu dalam sehari rata-rata mencapai 600—800 orang, sekarang hanya 300—400 per hari. Karena pasien yang bisa ditangani di RS tipe C, tidak perlu lagi merujuk ke RSUDAM. Kalau dulu sakit panas atau gatal-gatal merujuk ke RSUDAM. Sekarang tidak. Kan ada tingkatannya. Jika pasien tidak bisa ditangani di RS tipe C baru merujuk ke RSUDAM.

Lalu bagaimana dengan pasien dengan peserta BPJS, apakah ada perbedaan pelayanan?

Semua pasien kami tangani dengan baik. Tidak ada perbedaan antara pasien umum dan pasien BPJS. Apabila ada anggapan pasien BPJS dinomorduakan, itu salah. Kemudian jika ada anggapan bahwa pasien BPJS masih dibebankan biaya itu juga salah, kecuali naik kelas.

BIODATA

Nama : Hery Djoko Subandrio
Jabatan : Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung
Kelahiran: Ambarawa (Jawa Tengah), 26 April 1961
Istri : Sri Handayani
Anak : Rio Gasa
Alamat : Perum GTS Hajimena, Natar, Lampung Selatan
Pendidikan :
S-1 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, 1991
S-2 Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, 2005