Trump, Amerika Baru

Donald John Trump saat dilantik menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat, Jumat (20/1/2017).amazonaws.com

DONALD John Trump akhirnya resmi dilantik sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS), Jumat (20/1/2017). Miliader di bidang properti itu mengucapkan sumpah jabatan di Capitol Hill, Washington DC, tempat berkantornya anggota parlemen AS.

Prosesi pelantikan termewah itu sempat diguyur hujan gerimis. Pengucapan sumpah oleh Trump langsung dilakukan Ketua Mahkamah Agung AS John Glover Roberts Jr.

Sebelum Trump dilantik, John Roberts mengambil sumpah Mike Pence sebagai wakil presiden AS. Saat dilantik, tangan Trump diletakkan di atas kitab suci Injil yang biasa digunakan keluarganya. Kitab itu juga digunakan oleh Abraham Lincoln ketika dilantik sebagai Presiden ke-16 AS. Acara pelantikan supermahal itu dihadiri para mantan presiden.

Adalah Jimmy Carter, George Walker Bush, Barack Obama. Termasuk Bill Clinton dan istrinya Hillary. Hillary adalah saingan Trump dalam Pemilihan Presiden AS. Trump yang kini berusia 70 tahun menjadi orang tertua pertama menjabat presiden Amerika. Dia juga menjadi presiden pertama yang tidak pernah bertugas di pemerintah dan angkatan bersenjata.

Di usia remajanya, Trump pernah mengecam pendidikan akademi angkatan bersenjata. Dunia di ambang ketakutan ketika dia memenangi pemilihan presiden dengan meraih 276 suara elektoral. Trump tak disukai rakyatnya termasuk para pemimpin negara sekutu AS. Semasa kampanye, Trump mengeluarkan pernyataan bahwa muslim dilarang memasuki Amerika.

Negara Israel, partner penting Amerika, memilih menjaga jarak dengan Trump. Dalam sebuah pernyataan resmi, Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menentang pernyataan Trump tentang pelarangan muslim masuk ke Amerika. Dan PM Prancis Manuel Valls, negara yang selalu menjadi sasaran teroris ISIS, menyebut Trump menyulut kebencian.

Faktanya, pelantikan Trump diwarnai gelombang aksi unjuk rasa di dalam dan luar negeri. Kalangan aktivis liberal penentang Trump di Washington bentrok dengan polisi. Lebih 90 orang ditahan dalam aksi itu. Kebencian terhadap Trump juga muncul di Jepang dan belahan dunia lainnya. Seperti di Negeri Matahari Terbit, ratusan orang dari pekerja asal Amerika menentang Trump yang menjadi presiden untuk empat tahun mendatang.

Aksi penentangan itu karena Trump juga membuat ketidakpastian ekonomi global. Yang jelas, televisi yang menyiarkan pelantikan secara langsung, mengikuti prosesi pemindahan kekuasaan dari Obama kepada Trump berlangsung secara aman, damai, dan lancar. Saatnya dunia menunggu realisasi janji-janji kontroversial Trump semasa kampanye. ***

Itulah Trump. Di tengah kampanye menjelang pemilihan presiden, Trump menyempatkan diri menulis buku barunya berjudul Crippled America. Buku terlaris di New York, November 2015, Trump mengklaim dirinya sebagai orang yang sangat baik. “Saya orang yang sangat baik, percayalah. Saya bangga karena menjadi orang baik. Saya juga bersemangat dan bertekad akan menjadikan negara kita kembali besar," tulis Trump.

Dalam pidato pelantikan tanpa teks, Trump menyapa para pendahulunya. “Hakim Agung Roberts, Presiden Carter, Presiden Clinton, Presiden Bush, Presiden Obama, warga Amerika dan masyarakat dunia. Terima kasih. Kami, warga Amerika, kini bergabung dalam upaya nasional yang besar membangun kembali negara dan mengembalikan janjinya untuk semua warga Amerika,” ucap Trump.

Suami Melania itu menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Obama. Obama dinilainya berhasil melakukan proses pemindahan kekuasaan secara lancar dan damai, di tengah berbagai aksi gelombang protes terkait hasil pilpres. Trump tahu diri! Dia sangat sadar. Karena Obamalah—walaupun calon presiden dari Partai Demokrat—Hillary kalah. Tapi Obama ikhlas mengantarkan Trump ke kursi presiden dengan mulus.

Hillary pun hadir dalam prosesi pelantikan Trump. Amerika patut ditiru. Tak ada dendam. Tak ada yang sakit hati, atau ingin menggoyang perolehan suara—hasil pemilihan. Mantan pemimpin negara AS hadir menyaksikan pelantikan Trump. Tapi, bagaimana dengan negeri kita? Anak bangsa di negeri ini juga di pelosok daerah, hanya siap menang, tapi tidak siap kalah. Satu sama lain bertabiat busuk mendongkel, membunuh karakter lawan.

Kalaulah sudah menjadi pemimpin, presiden Amerika menegakkan harga diri bangsa. "Kita tetap menjalin hubungan yang bersahabat dan beriktikad baik dengan berbagai negara, dengan tetap mendahulukan kepentingan Amerika. Ini merupakan hak setiap bangsa mendahulukan kepentingan nasionalnya," kata Trump yang disambut tepukan tangan. Akankah para pemimpin di Indonesia seperti ini?

Tentang pembangunan ekonomi, Trump akan mendahulukan kepentingan nasional dan warga Amerika. "Kita akan membuat warga Amerika kembali bekerja, dan membangun negara dengan tangan Amerika sendiri. Membeli produk Amerika dan pekerjakan orang Amerika," tegas Trump. Presiden ini juga mengkritik politikus yang banyak bicara, tapi sedikit bekerja.

Di Indonesia, negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, Trump sudah mencengkeramkan kakinya. Dia memiliki hubungan emosional dengan sejumlah anak bangsa. Adalah Ketua DPR Setya Novanto, anggota parlemen lainnya; Fadli Zon, Aziz Syamsudin, Setya Yudha, Nurul Arifin pernah menghadiri konferensi pers pencalonan Trump di New York, tahun lalu. Pada Agustus 2015, Trump bekerja sama dengan Hary Tanoesoedibjo, CEO MNC Group, membangun hotel dan tower di Tanah Lot, Bali, dan di Lido, Bogor. Ini adalah aset Trump untuk Asia. ***