2013-01-15 07:24:00
TULANGBAWANG: Petambak Pertanyakan PT CPB

MENGGALA (Lampost.co) : Forum Silaturahmi Petambak Plasma (Forsil), Dente Teladas, plasma PT Central Pertiwi Bahari (CPB), kembali datangi Pemkab Tulangbawang, Senin (14-1) guna mempertegas sikap petambak atas kebijakan perusahaan tambak udang itu. Ketua Forsil, Cokro Edi Prayitno dari Kampung Bratasena Mandiri, Denteteladas mengungkapkan ada tiga poin penting yang harus dipertimbangkan.

Pertama, pihaknya meminta agar kualitas irigasi atau pengairan di komplek tambak diperbaiki. "Seperti pemecah ombak diujung irigasi yang tak kunjung diperbaiki selama 5 tahun terakhir," ujarnya ditemui di Kantor Kesbangpol setempat. Akibatnya, bibit udang banyak terkena penyakit yang tidak dapat ditangani oleh laboratorium perusahaan.

Kedua, perusahaan segera lakukan efesiensi terhadap modal produksi. Selama ini biaya produksi tinggi sedangkan pembelian panen udang rendah. "Karena perhitungan yang selalu merugi ini. Plasma terlilit hutang di bank mulai dari Rp300 juta hingga Rp1 miliar," ujarnya.

Ketiga, meminta agar perjanjian kerjasama antara plasma dan inti (perusahaan) diperbaiki. "Agar mengakomodir semua pihak," terangnya.

Dalam kesempatan itu, Cokro didampingi empat rekannya; Edi Gading, Lindo AJi, Marjan, Edi Bugis. Selain itu dua anggota tim advokasi petambak plasma CPB Turaihat Aldi dan Indra Firsada. Menurut Cokro, terkait konflik inti plasma merupakan rangkaian peristiwa 17 tahun berjalan.

"Selama ini kami selalu mengikuti kebijakan perusahaan. Dari kebutuhan benur dan pakan hingga harga, kami tidak pernah dilibatkan. Lalu pada Tahun 2009 budidaya udang mulai jatuh. Hal itu karena banyak faktor. Tetapi yang terutama tiga hal tuntutan kami. Jika tidak dipenuhi, perusahaan akan ambruk," ujarnya.

Puncaknya kini petambak yang jumlahnya hampir 3.400 petambak tidak bekerja."Tinggal yang masuk program budidaya parameter baru sejumlah 700 petambak," ujar Cokro diamini rekan lainnya. Solusi petambak memenuhi kebutuhan hidup dan bertahan hidup mengelola barang bekas. "Tembusan sudah ke polsek dan polres untuk menjual barang rongsok," jelas dia.

Selain itu, ungkap dia, dengan adanya Forsil, PT CPB memberhentikan sembilan karyawan tanpa alasan jelas. "Dan meng-cancel pinjaman biaya hidup terhadap 9 karyawan lainnya. Bahkan CPB mengeluarkan surat menghentikan program budiaya 3400 plasma dengan surat tanggal 1 Desember 2012," ujarnya.

Ia juga menyampaikan perusahaan juga mengadakan program pengunduran diri bagi karyawan dengan memberikan tali asih untuk petambak lama 17 tahun sebanyak Rp20 juta. Sedangkan yang pindahan dari PT. AWS akan mendapat uang Rp15 jt. "Itu pun banyak calo. Didapat tidak akan sebanyak itu," ujarnya.

Sementara, kuasa hukum Forsil, Tuhairat Aldi menekankan perhatian pada PHK tanpa adanya alasan yang jelas perusahaan. Kemudian adanya upaya pembubaran paksa Forsil. "Ada surat peryataan ditandatangi isinya mundur dari Forsil secara paksa," ungkapnya.

Hal itu menurut tim kuasa hukum merupakan indikasi pelanggaran HAM. "Jadi kami laporkan kasus ini ke Komnas HAM pada 7 Januari kemarin dan ditemui salah satu komisioner, Nurkholis," terangnya.

Lebih lanjut, Aldi mengatakan Komnas HAM akan turun ke lapangan dalam waktu dekat. Belum lagi, terus dia, istri-istri petambak yang tergabung dalam Forsil dikeluarkan dari cold storage.

Selain itu, ia juga meminta Komnas HAM memediasi inti dan plasma. Dari keterangan petambak, Edi gading, satu petambak mengelola satu petak tambak 75 m2/bulan petambak mendapat pinjaman dari perusahaan untuk biaya hidup 35kg beras, dua kaleng susu, 3kg gula putih satu bungkus kopi ibu anak. Dua saset sabun colek. Mi instan satu dus. Kemudian pada Mei 2012 petambak mendapat uang Rp1,5 juta/petambak dari sebelumnya Rp1,2 juta.

Sedangkan mengenai panen, Cokro menyebut mulai dari 1-17 ton. "Hal itu tergantung tebar benurnya," ujar dia. saat ini, program yang dijalankan perusahaan, adalah sistem parameter baru dengan jumlah 275 ribu benur tiap kolam. "Kalau yang model udang vannamae bisa dapat 5 ton/panen," jelasnya.

Harga udang saat ini Rp35 ribu/kg dengan waktu panen selama 6 bulan. Sedangkan harga benur saat ini Rp35-37/ ekor. (UAN/L-1)

komentar facebook