Uji Nyali Pilkada

Ilustrasi pemilukada serentak. dok. lampost.co

PEKAN ini gegap gempita dimulainya proses pemilihan kepala daerah (pilkada) seantero bumi Nusantara. Paling menyita waktu dan pikiran adalah Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Mengapa? Karena di situ barometer proses demokrasi di negeri ini. Apalagi calon gubernur yang disodorkan ke publik sangat fenomenal. Pilkada DKI bak seperti pemilihan presiden (pilpres). Hampir ketua umum partai turun gunung menghitung-hitung akan kemenangan calonnya.

Pucuk pimpinan partai seperti Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak menapikan bahwa Pilkada DKI Jakarta seperti pilpres. “Pilkada seperti pilpres ya,” seloroh SBY kepada wartawan di kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor, Kamis (22/9/2016) malam. Akankah pilkada ini membuat kecemburuan bagi provinsi lainnya? Karena semua bos partai ikut meramu calon-calon yang dipasangkan, tidak seperti pilkada enam provinsi lainnya.

Tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 101 daerah menyelenggarakan pilkada serentak 2017. Jumlah itu terdiri tujuh provinsi, 18 kota, serta 76 kabupaten. Di Lampung ada lima kabupaten yang menyelenggarakan pesta demokrasi. Kabupaten Pringsewu, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Mesuji, dan Kabupaten Lampung Barat. Di empat kabupaten–petahananya ikut mencalonkan lagi. Sedangkan satunya lagi di Lampung Barat, adik bupati mencalonkan juga.

Rakyat sudah cerdas—siapa yang akan dipilihnya nanti. Negeri ini sudah lelah memilih pemimpin yang gemar korupsi. Pilkada Jakarta sudah mencalonkan tiga pasangan calon. Mereka putra terbaik bangsa ini. Ketiga pasangan adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, dan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno.

Pasangan pertama yang mendaftar, Ahok-Djarot diusung empat parpol, yaitu NasDem, Hanura, Golkar, dan PDIP. Total kekuatan kursi Ahok-Djarot di DPRD DKI berjumlah 52 kursi. Total perolehan suara keempat parpol itu 2.171.187 suara. Selain diusung empat parpol itu, Ahok-Djarot juga didukung oleh sukarelawan Teman Ahok yang mengklaim telah berhasil mengumpulkan 1 juta KTP dukungan untuk putra Belitung itu.

Sedangkan pasangan yang mendaftar kedua, Agus-Sylviana, juga diusung oleh empat parpol, yaitu Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN. Total kursi pendukung Agus-Sylvi di DPRD yaitu 28 kursi. Total jumlah suara keempat parpol, yakni 1.246.096 suara.

Sedangkan pasangan yang mendaftar terakhir, Anies-Sandi, diusung dua parpol, yaitu Gerindra dan PKS. Kekuatan kedua partai di DPRD DKI, yaitu 26 kursi. Perolehan suara kedua partai itu di Pemilu 2014 sebesar 1.016.958 suara. Di atas kertas, pasangan Ahok-Djarot yang unggul.

Telah terbukti, pilkada lebih bergantung pada sosok figur, bukan banyaknya partai pendukung. Atau sebaliknya. Contoh, Fauzi Bowo harus bertekuk lutut di hadapan Joko Widodo saat itu. Partai pendukung Fauzi lebih banyak ketimbang Jokowi. Pendidikan politik selama ini membuat rakyat kian cerdas. Publik memilih calon yang piawai membangun, bukan kemaruk mengeruk duit rakyat. Tabiat korupsi tidak berhenti di negeri ini. ***

Di Lampung, ada 11 pasangan bakal calon bupati-wakil bupati untuk pemilihan di lima kabupaten yang mendaftar ke KPU sebelum penetapan. Mereka di Tulangbawang Barat; Umar Ahmad-Fauzi Hasan. Pasangan itu didukung 30 kursi di parlemen. Umar calon tunggal untuk pilkada kabupaten hasil pemekaran Tulangbawang itu.

Pasangan calon di Tulangbawang adalah petahana Hanan A Razak-Heri Wardoyo (Handoyo). Total kursi dukungan 29 kursi. Pasangan kedua Winarti-Hendriwansyah. Mereka mendapat dukungan di parlemen 16 kursi. Sedangkan Syarnubi-Solehah adalah pasangan bakal calon jalur independen. Pasangan ini terancam tidak lolos karena saat verifikasi faktual KPU dari sekitar 22 ribu KTP, baru sekitar 7.000 KTP yang memenuhi persyaratan.

Rakyat di Lampung Barat hanya mencalonkan dua pasangan, yakni Parosil Mabsus-Mad Hasnurin. Pasangan ini diusung 20 kursi parlemen. Dan Edy Irawan Arief-Ulul Azmi Soltiansa didukung 15 kursi parlemen. Sementara di Kabupaten Pringsewu, ada tiga pasangan calon, yakni Sujadi-Fauzi. Pasangan petahana ini didukung 20 kursi di Dewan. Pasangan Ardian Saputra-Dewi Arimbi dengan 10 kursi. Sedangkan Siti Rahma-Edi Agus Yanto dengan 9 kursi.

Di Mesuji hanya dua pasangan calon, yakni Khamami-Sapli yang didukung 25 kursi dan Febrina Lesisie Tantina-Adam Ishak hanya tujuh kursi di parlemen. Dari 11 calon di Lampung juga tiga pasangan calon di DKI, patut kita ingatkan agar menjunjung tinggi pilkada aman, damai, tertib, dan kondusif. Sukses berdemokrasi merupakan tanggung jawab semua pihak. Mereka ditantang publik dengan adu gagasan dan program pembangunan.

Saatnya anak bangsa menjual program untuk rakyat, bukan saling menjatuhkan lawan dengan cara-cara licik, memfitnah lawan politik, menjual isu suku, agama, ras, dan antargolongan untuk meraih suara. Terutama petahana, tidak melibatkan birokrat dan aset pemerintah sebagai mesin pendukung di hari pemilihan bulan Februari 2017 nanti.

Dahulukan kepentingan nasional dan daerah ketimbang kepentingan pribadi, partai politik, maupun kelompok tertentu. Jika tidak, rakyat akan marah. Pilkada secara langsung oleh rakyat sudah berjalan lebih dari satu dekade sejak pertama kali digelar pada 2005.

Anak bangsa ini kian dewasa menapaki demokrasi. Proses pendewasaan demokrasi ada di pundak elite partai politik. Isu-isu primordial sangat rawan menjadi senjata pemicu konflik. Berhentilah dengan isu itu! Jangan dibiarkan pendekar dewa mabuk yang mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa yang dirakit dengan kebhinnekaan.

Negeri ini tidak akan dewasa kalau berpikir dan bersikap kerdil. Anak bangsa akan berjalan terseok-seok dalam menatap masa depannya. Ini sebuah uji nyali untuk bangsa yang besar dengan keberagamannya. Patut kita renungkan, pemenang pilkada nanti—hanya satu pasangan calon. Mereka yang terpilih itu sebagai khalifah dan perpanjangan tangan Tuhan untuk mengatur kehidupan di muka bumi ini. Jangan salah pilih! ***