Ulun Lappung dan Pembangunan Berbasis Moral

Ulun lappung. malahayati.ac.id

MEMBACA jejak masa lalu ulun Lappung, sebenarnya gham (bahasa Lampung berarti kita; kami) sejak lama sudah memahami dan memaknai pembangunan berbasis moral sebagai bagian integral dari budaya, meski dalam perkembangannya dewasa ini dibutuhkan pemahaman yang lebih mendasar dan komprehensif tentang budaya sebagai sebuah sistem yang memiliki koherensi dan bersifat sistemik.
Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep-konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakatnya. Pemahaman tentang sistem simbol dan epistemologi dalam kajian ilmu budaya tentu tidak terpisahkan dari sistem sosial yang berupa struktur masyarakat, pelapisan sosial, gaya hidup, filosofi (pandangan hidup), sosialisasi, agama, kepercayaan, organisasi pemerintahan, kelembagaan sosial, dan seluruh perilaku sosial yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari secara dinamis.
Selain itu, ada juga budaya material yang berupa bangunan, infrastruktur, sarana fisik, peralatan, dan persenjataan yang tidak dapat dilepaskan dari seluruh konfigurasi budaya. Lebih mendasar lagi dari berbagai hal itu, kesemuanya perlu dikaji dari aspek sejarah, sosiologi, antropologi pembangunan, dan ilmu pemerintahan yang memiliki peran besar dalam pembentukan budaya yang lebih bermartabat di masa depan. Sebab, sistem budaya sebenarnya penuh dengan kompleksitas yang tidak mudah dipahami secara sekilas dan spontan.
Analisis budaya yang difokuskan pada pembangunan berbasis moral seharusnya dilakukan dengan menerapkan pendekatan lintas disiplin ilmu secara bersinergi dan terinterkoneksitas.

Moral Pembangunan
Pembangunan secara konseptual dipahami oleh banyak pakar sebagai suatu keterlibatan moral yang bersifat global dan berlaku universal. Meski secara realitas dapat dikaji secara ilmiah dan dibuktikan, di balik praktik-praktik pembangunan terkandung suatu naratif moral dan empiris. Berarti, sejalan dengan dinamika pembangunan dewasa ini diperlukan upaya menyinergikan keduanya sebagai upaya serius yang penting dan kerja besar bersama sehingga banyak pihak yang intens untuk membangun sejak perencanaan, pelaksanaan, monitoring sampai tahap evaluasi agar diketahui apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh masing-masing pihak secara bertanggung jawab, konsisten, bermartabat dan bernilai guna.
Konteks itu memperjelas betapa urgen segenap warga masyarakat bangsa harus pandai memosisikan moral—termasuk etika, estetika, dan religiositas—dalam kajian pembangunan, baik secara teoritik, konseptual, akademis maupun aplikasinya, sehingga berbagai permasalahan yang membuat kemandekan atau jalan buntu bagi keberlangsungan pembangunan dapat dikritisi dan bernilai guna bagi pembangunan di masa depan.
Jika ditelusuri lebih mendasar dan mendalam tentang permasalahan pembangunan dewasa ini diperoleh kejelasan, masih ada pelaku-pelaku pembangunan dewasa ini sedang mengalami serangkaian ketidakselarasan, ketidaksesuaian, bahkan terjadi kontradiksi-kontradiksi yang cenderung mengarah menjadi masif, baik dalam kegiatan rutin pembangunan sehari-hari maupun dalam konteks makropembangunan. Kondisi itu, dinyatakan Philip Quarles van Ufford dan Ananta Kumar Giri dalam bukunya Kritik Moral Pembangunan sebagai pakar moral pembangunan sebagai berikut:
Wacana dan praktik pembangunan berada dalam ketidakselarasan yang kritis. Gagasan tentang pembangunan dalam kecenderungan intervensionisnya dewasa ini mulai berkembang pada akhir Perang Dunia II sebagai suatu visi baru penuh pengharapan yang dilatarbelakangi oleh pengalaman pahit perang dan meruaknya proses dekolonisasi. Gagasan pembangunan ini menghasilkan bentuk-bentuk baru tanggung jawab politik dalam skala global. Gagasan ini melahirkan banyak aplikasi pembangunan. Kini, setelah lebih dari lima puluh tahun berjalan, pembangunan telah kehilangan daya pikat dan vitalitasnya bagi banyak orang. Kita tengah menghadapi suatu krisis, yang muncul dari serangkaian ketidakselarasan dalam pembangunan. n