Undangan

Ilustrasi. Lampung Post/Sugeng Riyadi

Cerpen Irepia Refa Dona
DULU aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah bukan karena ibuku tidak punya biaya untuk menguliahkanku. Hanya saja aku sadar diri. Bahwa aku adalah salah satu dari lelaki yang supermalas dalam hal belajar. Kata orang lelaki itu banyak yang terlahir pintar. Jadi tidak masalah kalau ia sedikit malas belajar daripada perempuan. Tapi aku bukanlah bagian dari lelaki yang pintar itu. Entah kenapa Tuhan menciptakan aku dengan otak yang entah bagaimana. Aku sedikit bingung untuk menggambarkannya.
Akhirnya aku melanjutkan hidupku di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Dengan sebuah mesin cetak yang harganya tidak terlalu mahal. Walaupun dinding ruangan itu tidak tertempel lukisan yang menawan, tetapi cukup menarik untuk di pandang saat berbagai jenis undangan tertempel indah mengisi dinding berwarna kuning itu. Ya, aku memutuskan untuk menjual berbagai jenis undangan.
Sebenarnya saat aku memutuskan untuk menjual undangan, aku telah mencoba untuk berpikir berulang kali. Sampai aku tidak tidur semalaman. Aku merasa seolah-olah aku sedang menjalani takdir yang buruk. Ingatan tentang perkataan seorang nenek yang dulu pernah aku ganggu saat usiaku masih menunjukkan sifatku yang sedang nakal-nakalnya. Sebenarnya waktu itu aku bukan anak-anak lagi. Aku sudah remaja, tapi kenakalan bukanlah perihal usia.
“Dasar anak nakal. Lihatlah jika kau besar. Kau akan mengalami kehidupan asmara yang menyedihkan.”
Waktu itu aku tidak terlalu memikirkan ucapan nenek itu. Aku hanya berpikiran mungkin nenek itu sedang sedih karena ditinggal mati suaminya. Tapi setelah genap tiga tahun aku menjual undangan. Ucapan nenek itu terngiang kembali. Kau tahu, itu seolah-olah terdengar seperti kutukan. Sebenarnya aku tidak terlalu memercayai perihal kutukan. Tapi bagaimana pun aku seperti mengalaminya sendiri saat kejadian enam bulan yang lalu.
Sebelum aku membuka toko undangan ini, aku sempat meninggalkan kampung halaman mencoba mencari peruntungan di negeri orang. Meninggalkan semuanya. Termasuk kekasihku yang saat itu sedang kuliah semester tujuh. Awalnya kami tidak putus. Kami hanya menjalani hubungan jarak jauh. Bermodalkan pulsa. Saat itu aku benar-benar memuja benda persegi panjang yang bisa menghubungkan aku dengan kekasihku. Tapi seiring berjalannya waktu, hal buruk pun mulai terjadi di antara kami. Aku melemparkan benda persegi panjang itu dan mendarat di dinding kamarku saat kekasihku itu mengatakan kalau ia ingin putus karena tidak sanggup lagi menjalani hubungan jarak jauh. Saat itu aku merasa tidak ada gunanya aku mengumpulkan uang. Jika orang yang ingin aku ajak untuk menghabiskan uang itu sekarang pergi meninggalkanku. Lama aku terpuruk. Memang benar, putus cinta benar-benar menyakitkan. Apalagi hanya karena jarak.
Kini entah takdir macam apa yang sedang aku hadapi. Di siang yang cukup panas itu aku melihatnya berjalan dengan anggun menuju toko undanganku. Rambutnya melambai dengan indah diterbangkan angin. Andai aku bisa menghentikan waktu barang sebentar. Mungkin aku akan berlari ke dalam melihat penampilanku apakah sudah terlihat keren. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Karena baru saja ia tersenyum padaku dan kini duduk tepat di kursi yang berada di depanku. Kami hanya dipisahkan oleh meja tempat aku meletakkan berbagai katalog undangan. Jantungku sedikit bergetar. Bagaimana pun perasaan cintaku saat itu belum sempurna hilang.
“Ternyata benar, kamu telah membuka toko undangan rupanya, Athar.” Dia memulai bicara duluan. Mungkin karena melihatku yang tidak kunjung bicara. Perkataan pertama, yang kalau boleh aku nilai, terdengar alami dan tidak ada unsur gugup yang terkandung di dalamnya sedikit pun.
“Baru usaha kecil-kecilan, Nath.” Aku mencoba menjaga ekspresi dan intonasiku agar terlihat alami dan tidak gugup. Aku lihat ia menatap sekeliling. Setidaknya aku boleh sedikit berbangga karena telah mempunyai usaha sendiri. Bukan berarti aku ingin membuatnya kagum. Tapi entah keinginan apa.
“Kamu apa kabar?” pertanyaan biasa. Tapi setidaknya cocok untuk situasiku saat ini. Setelah cukup lama tidak bertemu.
“Cukup baik. Melihat situasimu saat ini, kamu pasti lebih baik.” Bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang ia ajukan. Haruskah aku menjawab kalau aku tidak baik-baik saja? Sepertinya bukan jawaban yang tepat. Ini hari pertama pertemuan kami. Aku hanya menjawabnya dengan senyum.
Nathania, itu nama lengkapnya. Kini perempuan itu tepat berada di depanku. Dengan mata yang masih melihat ke sekitar dinding tokoku yang tertempel koleksi undangan. Dia sekarang terlihat lebih cantik. Mungkin karena riasan minimalis yang tertempel di wajahnya.
“Boleh, aku lihat yang itu?” Aku seperti terbangun dari mimpi indahku saat dia bicara. Aku mencoba mengalihkan pandanganku pada telunjuk yang terlihat lentik. Telunjuk itu mengarah pada sebuah undangan berwarna kuning emas. Detak jantungku mulai tak keruan. Pikiranku mulai merajalela ke mana-mana.
“Undangan dengan warna kuning emas, Athar.” Dia menambah penjelasannya. Mungkin karena dia melihatku hanya berdiam diri. Aku mencoba memaksa tubuhku berdiri dan membawa kakiku melangkah ke undangan kuning emas.
*****
Aku menghempaskan badanku ke kasur tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Hari ini aku lelah sekali. Loteng kamarku terasa berjarak begitu jauh dariku. Mungkin karena mataku yang lelah menatap layar komputer seharian. Sebenarnya undangan yang di pesan hari ini tidak terlalu banyak. Biasanya aku menyiapkan undangan lima kali lipat dari hari ini. Tapi bukan menatap layar komputer yang membuatku lelah. Tepatnya menatap nama Nathania yang disandingkan dengan nama Arkan, seorang lelaki yang pernah menjadi temanku dahulu.
Nathania telah menemukan yang baru. Sedangkan aku? aku masih menyimpan Nathania di hatiku. Kadang aku berpikir, apa karena itu Nathania memesan undangan ke tokoku agar aku tahu kalau ia sekarang telah memiliki seseorang di hatinya. Jadi aku harus lebih cepat membereskan hatiku. Memicingkan mata terasa lebih nyaman.
Dan setelah kejadian enam bulan yang lalu, aku mulai terbiasa dengan seseorang yang memesan undangan padaku meski itu mantan pacarku saat aku SMA. Menjadi penjual undangan memang itulah risikonya. Suatu saat kau akan membuatkan undangan untuk mantan kekasihmu. Tapi yakinlah, segala sesuatu itu pasti ada sisi baik dan buruknya. Dan aku yakin, aku mulai terbiasa dengan sisi buruk menjual undangan.
Seperti siang ini. Aku tidak lagi terkejut saat aku lihat seorang perempuan yang sangat aku kenali menghampiri tokoku. Dia adalah pacar pertamaku saat aku SMA. Dia keluar dari mobil hitam yang terlihat lumayan mewah. Aku tidak perlu lagi menebak tujuan dia mendatangi tokoku. Rasanya aku sudah terlalu sering menebak kedatangan mantan kekasihku. Dan semua tebakan itu selalu salah.
Lagian apa lagi tujuan seseorang mendatangi tokoku. Yang pasti bukan untuk memesan makanan, atau mau menjahit baju, dan pastinya juga bukan untuk mengajakku balikan. Menyambung kembali cerita lama yang sempat terputus. Tebakan itu sudah lama aku hapus.
“Undangan pernikahan jenis apa yang kamu inginkan, De?”
“Kamu tidak menanyakan kabarku dulu, malah menanyakan jenis undangan. Ternyata kamu memang pembisnis undangan sejati, Athar.” Tanganku terhenti menyodorkan katalog undangan pada Dea saat mendengar ucapannya. Basa-Basi? Apa karena Dea mantan pacarku sehingga aku harus basa-basi terlebih dahulu? Ah, sudah lama sekali aku memutuskan untuk tidak berbasa-basi lagi pada mantan pacarku. Karena dari yang aku tahu, kedatangan mereka hanya untuk memesan undangan pernikahan.
“Kamu mau minum apa, De.”
“Ada jus?” Aku terdiam mendengar pertanyaan Dea. Dea memang perempuan ceria dengan seribu ide cemerlang untuk merespons perkataan orang lain. Aku hanya diam. Kemudian menggeleng.
“Aku bercanda. Aku tahu kamu cuma punya air putih di sini,” ucap Dea disertai senyum manisnya. Bukannya tertawa, aku malah menghela nafas. Aku hampir lupa kalau Dea sering bercanda.
“Kamu ingin aku pesankan jus?”
“Tidak usah Athar. Aku ke sini cuma ingin memesan undangan.” Akhirnya Dea mengucapkan kata-kata itu juga. Sesaat aku mengutuk diriku yang dengan mudahnya melupakan prinsip yang baru-baru ini aku buat. Jika seseorang mendatangi tokoku, itu berarti mereka datang untuk memesan undangan. Bisa-bisanya aku melupakan itu.
Aku lihat Dea mencari sesuatu di dalam tasnya. Mungkin foto prewedding mereka. Aku kembali mengambil katalog undangan yang tadi aku letakkan asal saat aku beranggapan kalau kedatangan Dea bukan untuk memesan undangan pernikahan.
“Kamu ingin memasan undangan pernikahanmu, De?”
Aku menguatkan hatiku saat aku mencoba mengajukan pertanyaan yang sepertinya tidak perlu lagi dijawab Dea. Tapi Dea malah menatapku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sesaat aku merasakan ada setetes air yang jatuh dan membasahi hatiku yang gersang.
“Tidak, Athar. Aku hanya ingin memesan undangan ulang tahun. Oh aku lupa menanyakan sesuatu, kamu juga menjual undangan ulang tahun kan, Athar?”
Dea menyerahkan selembar foto padaku. Foto yang akan ditempel di undangan saat aku mengangguk untuk membenarkan kalau aku memang menjual undangan ulang tahun.
Ternyata kali ini bukan undangan pernikahan. Tapi undangan ulang tahun. Aku menyerahkan katalog undangan ulang tahun pada Dea. Dea mulai sibuk memilih jenis undangan yang ia inginkan. Dan aku juga sibuk memperhatikan selembar foto yang diserahkan Dea. Cantik dan imut. Sama persis seperti Dea.
Padang, Februari 2017