Wafatnya Sang Kiai

Susilowati, wartawan Lampung Post

"BEGITU ya, Kang, kalau kiai sedo?" Tole sejenak tertunduk, antara haru dan kagum, buliran bening menggenang di matanya.
Di depannya layar kaca yang dikerangkeng di pojok gardu terus menyala. Berita yang dipilih prosesi pemakaman jenazah KH Hasyim Muzadi yang dibanjiri ribuan pelayat. Keranda mayatnya seolah berjalan sendiri menuju peristirahatan terakhir di atas kepala para pelayat.
Saking banyaknya pelayat, Pondok Pesantern Al Hikam bak terkepung lautan manusia. Bahkan seantero nusantara pun berduka, kehilangan sosok manusia yang insya Allah membawa berkah selama hidupnya. Sehingga di akhirnya pun dilepaskan dengan sepenuh kehilangan.
"Ya, begitulah, Le. Kita ada yang ikhlas nggotong saja sudah syukur," Kang Santri tidak kalah sedih.
"Maksud Kang Santri?"
"Masak kamu enggak maksud? Orang-orang kayak kita ini, Le, yang hidup hanya untuk melayani perut dan di bawahnya, sangat boleh jadi enggak ada yang mau menggotong kalau meninggal dunia. Kalaupun mau, bukan karena tresno sama kita, bukan karena cinta sama kita, tetapi karena terpaksa kalau enggak dikubur nanti orang sekampung tidak tahan dengan bau busuknya. Lah kalau orang kayak Kiai Hasyim Muzadi, hidupnya didedikasikan untuk umat Islam, ya wafatnya diantarkan ribuan umat Islam. Tidak cukup itu, yang tidak bisa mengantar karena jarak atau sebab lain, turut salat gaib, subhanallah."
"Walah, Kang, masak iya, orang mau nguburin kita karena takut mayat kita bau, apa bukan karena takut dosa. kan kalau mayat tidak dikubur orang sekampung dosa semua karena itu fardu kifayah?"
"Kamu benar, Le, itu hanya sanepan, paribasan, kalaupun mereka menguburkan jasad kita karena takut dosa, itu mereka memikirkan diri mereka, bukan kita. Jadi intinya, orang-orang seperti kita bisa jadi dikuburkan tidak dengan sepenuh cinta, tetapi karena sebab lain. Nah, kalau kiai berbeda, meski tidak kenal, orang rebutan merawat dan mengurusi jenazahnya."
"Iya juga ya, Kang, terus bagaimana supaya kita kelak diurus dengan cinta oleh orang-orang yang kita tinggalkan."
"ya berbuatlah seperti mereka, seperti para kiai, yang selalu berorientasi kepada kemaslahatan manusia."
"Wah berat ya, Kang."
"Orang yang mau mulia memang harus siap melakukan hal-hal berat, Le."
"jadi ngeri ya, Kang."
"Ngeri piye?"
"Ngeri membayangkan bagaimana kita mati, akankah kita diurus dengan sepenuh hati?"
"Kalau hati kita penuh dengan ketaatan, cinta dan pengabdian, insya Allah, meski tak seramai prosesi mengurus kiai, cukuplah orang yang mengurus jenazah kita dengan hatinya."
"Amin ya Allah." n