2012-12-16 10:15:00
Wahhh...Wanita Tentara Gadungan Tipu Para Calon Tentara Rp500 Juta

JAKARTA (Lampost.co): Empat orang tua menjadi korban aksi penipuan seorang wanita tentara gadungan berpangkat mayor. Dia menjanjikan penerimaan sebagai taruna Angkatan Darat (AD) lewat jalur khusus Sekolah Calon Bintara (Secaba) bagi anak-anak mereka. Fulus hampir Rp500 juta pun berhasil digasak. Sub Direktorat Reserse Mobil (Resmob) Polda Metro Jaya berhasil meringkus tentara gadungan itu, P Rindhu Echa Siregar, 37, di Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (13-12). Penangkapan itu dilakukan setelah Polda Metro Jaya mendapat laporan dari seorang ibu yang mengaku kena tipu pelaku, Yuliyana.
"Kamis habis magrib dia kami tangkap, atas dasar laporan dari Yuliyana itu," ujar Kepala Subdit Resmob AKBP Herry Heryawan, kepada MI, Sabtu (15/12). Yuli sendiri melapor pada 4 Desember dalam laporan bernomor LP/4162/XXI/2012/PM/Ditreskrimum. Ia mengaku sudah tertipu sebesar Rp97 juta.
Tak hanya itu, laporan kedua atas terlapor yang sama juga masuk di hari penangkapan. Dalam laporan bernomor LP/4317/XXI/2012/PMJ/Ditreskrimum itu, pelapor Sri Maningsih mengadukan Rindhu atas delik penipuan dan penggelapan (Pasal 378 dan Pasal 372 UU KUHP) dana hingga Rp 202 juta. Pada laporan yang sama, ikut serta juga nama Indo Suji Rahayu, yang tertipu Rp 90 juta. Modusnya serupa, penipuan berkedok panitia seleksi taruna AD.
Atas laporan-laporan itu, Herry menuturkan, pihaknya segera bertindak tanpa risau apakah yang bersangkutan benar anggota TNI atau bukan. Dan nyatanya, setelah diciduk, seragam Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) Rindhu hanyalah topeng. Dia tak memiliki kartu anggota, asli ataupun palsu, tanpa senjata yang sebelumnya ditakutkan para korban. Namun demikian, tukasnya, pihaknya hingga saat ini masih terus melakukan penyelidikan. Ini terutama upaya pengumpulan barang bukti di tempat persembunyiannya di Cirebon, saat mencoba lari dari penagihan para korban, beberapa bulan lalu. Begitupula penyelidikan sejumlah nama pejabat yang disebut-sebut pelaku, serta kemungkinan adanya beking aparat dan korban lain. "Ini masih belum rampung, terus kita telusuri," katanya.
Selain Yuliyana, yang tertipu Rp 97 juta, dan Sri, yang dananya raib Rp202 juta, tersebut pula nama seorang pensiunan polisi militer M Syahlani. Rekeningnya terkuras oleh Rindhu hingga Rp85 juta. Sisanya, atas nama Indo Suji Rahayu, yang juga mengaku ditipu Rp90 juta oleh pelaku. Total dana yang dikuras Rindhu mencapai Rp474 juta.

Terinspirasi Mantan Suami
Saat Media Indonesia menemuinya di ruang penyidik Unit IV Subdit Resmob, Jumat (14-12) malam, Rindhu tampak kalem dan masa bodoh dalam menuturkan aksi penipuannya. Dia mengaku itu dimulai sejak Juli 2012. Pengalamannya sebagai mantan istri anggota TNI Angkatan Darat yang berdinas di Bengkulu membuatnya cukup akrab dengan tanda kelengkapan dan atribut tentara. Di pasar Kosambi, Bandung, ia lantas berburu seragam dan memesan emblem serta tanda kepangkatan level Mayor.
Lantas ia tak canggung masuk area pendaftaran calon tentara di Ajudan Jenderal Komando Daerah Militer (Ajendam) III/Siliwangi. Di sana, ia mendapatkan brosur pendaftaran Sekolah Calon Bintara (Secaba) TNI AD secara gratis. Ibu satu anak ini mengaku bekerja sendirian. Dengan bermodal brosur itulah Rindhu mulai menjalankan aksinya.
Saat ditanya kenapa bisa muncul ide menipu orang tua lain yang berharap besar pada anaknya, dia berkilah. "Enggak tahu, mas. Kalau sudah membayangkan (aksi), ya pengen dilakukan saja," akunya. "Dulu saya pernah jadi korban pemukulan beberapa kali oleh mantan suami," imbuhnya, ketika didesak kenapa gejala itu muncul. Seorang penyidik Unit IV sendiri belum bisa memastikan dia berpura-pura sakit jiwa atau memang sangat berpengalaman.
Sri (46) yang juga tengah diperiksa, mengisahkan, ia dikenalkan dengan pelaku oleh seseorang bernama Indo Suji Rahayu--yang juga akhirnya menjadi korban penipuan--di Klinik Setia Rumanda, Ciracas, Jakarta Timur, 20 Juli silam. Ibu berjilbab ini mulai terjerat rayuan Rindhu. Kepanikan dan kekhawatiran seorang ibu berkontribusi besar atas tawaran jalur khusus itu.
Pasalnya, sang anak, A, begitu menginginkan masuk pendidikan calon tentara meski sudah berkuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta. Sementara, dia baru saja dinyatakan gagal dalam tes calon kadet di Surabaya. Padahal, aku Sri, anaknya sudah lolos tahap akhir dan penuh harapan besar untuk lolos. Lantaran yakin dengan penampilan dan janji Rindhu, A dimintanya untuk mendaftar sendiri ke Ajendam III/Siliwangi, Bandung. Tes pun dijalaninya dengan keyakinan akan lolos. Pasca-ujian itulah, Sri berulangkali diminta untuk mentransfer sejumlah uang ke tiga rekening bank berbeda, yakni BRI, BCA, dan Bank Jabar Banten (BJB). Termasuk, kala ia berada di Tanah Suci.
20 Juli, ia patuh dengan permintaan setoran awal Rp 40 juta. Setelah itu, berangsur disetor uang dengan jumlah bervariasi antara Rp5 juta, Rp7 juta, dan Rp10 juta. Dari perhitungannya, ada 30 kali transfer dengan total Rp 202 juta. "Ya kita percaya saja, kita enggak tahu (soal penipuan), apalagi dia (mengaku berpangkat) Mayor," aku Sri, soal kemudahannya menyetor uang banyak kepada Rindhu.
Mereka baru sadar sudah ditipu setelah tak juga datang kabar kepastian penerimaan anaknya sebagai calon penjaga kedulatan NKRI, meski ratusan juta uang sudah disetor. Penagihan yang mereka lakukan hanya berbuah janji pengembalian uang yang juga tak kunjung datang. Penyidik mengungkapkan, modus serupa juga dilakukan kepada korban lainnya. Dikatakan, dia terancam hukuman maksimal 6 tahun penjara untuk pasal penipuan, dan sembilan tahun penjara untuk pasal penggelapan dana. (L-1)

komentar facebook