Yuk, Waspadai Fenomena Hoax!

Ilustrasi. Lampung Post/Rudiyansyah

SAHABAT Muda belakangan ini pasti sering mendengar kata hoax! Ah hoax tuh! Sumpah deh ini cuma hoax doang. Kira-kira begitu biasanya kata hoax digunakan dalam keseharian ya, guys. Hoax atau kabar bohong alias palsu karena muncul dari sumber yang tidak jelas kini semakin banyak bertebaran, khususnya di media sosial. So, buat sahabat Muda yang demen menggunakan media sosial, sebaiknya perlu waspada dengan fenomena ini ya.
Perlu diketahui, istilah hoax yang berasal dari bahasa Inggris ini sebenarnya sudah cukup lama muncul, yakni tahun 1808. Namun, kata hoax kembali tenar di kalangan masyarakat Amerika setelah munculnya sebuah film drama berjudul The Hoax yang disutradarai Lasse Hallström di Amerika pada 2006.
Alexander Boese dalam bukunya, Museum of Hoaxes, menyebut hoax berasal dari kata “hocus” dari mantra “hocus pocus”. Frasa yang kerap disebut oleh pesulap. Serupa dengan simsalabim. Hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak atau penanggalan palsu yang dibuat Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709. Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John Partridge. Agar meyakinkan publik, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya. Ngeri kan?

Cerdas Memilih Berita
Salah satu sahabat Muda, Diajeng Fitri (17), mengaku resah dengan semakin banyaknya informasi hoax yang kerap didapatinya di media sosial, seperti Twitter, Facebook, ataupun broadcast di pesan Blackberry (BBM), WhatsApp, dan Line.
Siswa kelas XI di SMA Al Kautsar Bandar Lampung itu bahkan pernah terpancing sebuah kabar hoax seputar ujian nasional (UN) yang kabarnya bakal dihapuskan yang beredar di kalangan pelajar. “Cepet banget kesebar deh dari teman-teman di grup biasanya,” kata dia ditemui di sekolahnya, Jumat (10/2).
Tak hanya itu, menurut Ajeng, banyak hoax lain yang kerap diterimanya, mulai dari kabar artis meninggal dan lainnya yang terkadang tidak penting. Tak ingin terpancing, Ajeng mengaku lebih selektif mengikuti sebuah informasi. Tak lantas buru-buru menyebarluaskan info yang didapat, dia memilih mengecek kembali sumber informasi tersebut.
“Biasanya ya cari info-info lain, dari portal berita yang lebih tepercaya,” kata dia.
Ia juga tak begitu tertarik mengikuti kehebohan informasi hoax. Sebagai pengguna aktif media sosial, pemilik akun Instagram @diajengfitriw ini mengaku lebih tertarik mengikuti informasi yang memberinya pengetahuan baru, atau informasi yang bermanfaat, seperti info pendidikan, kesehatan, dan hobi.
Sementara menurut sahabat Muda lainnya, Fajar Rizkiansyah (16), kabar hoax adalah kabar yang cenderung mencari popularitas dan tidak penting untuk diikuti. Dia pun tak begitu tertarik mengikuti kabar-kabar hoax yang kadang juga sering diterimanya dari media sosial.
“Biasanya mereka cuma pengin jadi trending topic aja, atau cari follower,” kata dia.
Jika menerima broadcast atau pesan berantai, Fajar juga tak lantas langsung meneruskannya ke teman-temannya. Ia mengaku selalu melihat kebenaran informasi tersebut. “Kalau enggak penting ya enggak usah di-share, kecuali untuk membantu teman yang lagi kesulitan,” kata pengguna aktif media sosial YouTube itu.
Meski semakin banyak informasi hoax yang beredar di kalangan anak muda, menurut ketua OSIS di SMA Al Kautsar Bandar Lampung itu, sosialisasi kepada para siswa tentang cara-cara menyikapi fenomena hoax masih sangat minim. Hasilnya, masih banyak teman-temannya yang sering menjadi korban hoax. “Harusnya ada sosialisasi memang, supaya anak-anak muda semakin cerdas, memilih berita yang tidak hoax,” katanya.
Fajar menuturkan ketimbang mengikuti info hoax, lebih baik anak-anak muda memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif, seperti mencari referensi pelajaran dan perkembangan teknologi. “Atau untuk menyalurkan kreativitas yang dimiliki,” kata pemilik akun Instagram @fajarrzknsyh tersebut.