Zaman Edan

Susilowati (Lampost.co)

"Yun, kamu sering lihat anak jalanan enggak?"
"Maksudnya anak-anak yang di pinggir jalan, Le?"
"Ya bukan sekadar itu, tetapi anak-anak yang lebih nyaman di jalanan dari pada di rumah."
"Anak-anak yang jadi pengemis di jalanan maksudnya?"
"Ya kalau anak-anak pengemis jalanan kan mungkin memang enggak punya rumah, itu loh anak yang suka ngebut-ngebutan di jalan."
"O...anak-anak kurang kerjaan?"
"Apa iya ya mereka kurang kerjaan, tetapi ada yang bilang itu hobi dan harus disalurkan, gitu."
"Ya apa pun namanya, Le, mereka adalah anak-anak yang lebih memilih jalanan sebagai tempat mengaktualisasikan diri. Selagi tidak mengganggu orang ya sah-sah saja."
"Apa enggak dimarahi orang tuanya ya?"
"Mungkin orang tuanya sibuk nyari duit."
"Lah, nyari duit kan untuk anaknya juga, kalau anak-anaknya jadi tidak karuan gitu, sama saja kan menghancurkan hidup anak karena memburu harta, yang katanya untuk anak. Padahal anak itu kan tak cukup hanya diberikan harta, tetapi juga makanan jiwa."
"Yang berfikir seperti itu kan hanya orang-orang tertentu, Le. Kalau kata Kang Santri ini era materialistis, bahasa kitanya zaman matre lah, yang segala sesuatunya diukur secara materi. Jadi jarang orang yang mempertimbangkan hal lain, seperti jiwa, atau apalah macamnya. Malah orang yang enggak ikut rebutan materi bisa dibilang sakit jiwa."
"Lab tetapi gara-gara materi kan banyak orang yang sakit jiwa. Contohnya anak yang tega membunuh orang tua karena minta ini itu, anak suka merampok, apa itu enggak sakit jiwa. Anak-anak yang seharusnya masih belajar dan haus ilmu, malah haus materi."
"Hehehe, Le... Le, kalau kamu berfikir seperti itu bisa kamu yang dibilang sakit jiwa."
"Loh kok bisa?"
"Lah iya, kalau kata orang dulu, zaman ini zaman edan, yang enggak edan enggak komanan. Jadi kita juga mesti ikut edan."
"Moh... aku males jadi wong edan."
"Kalau kamu waras di antara wong edan, kamulah si edan itu."
"Weleh, weleh, kamu juga sudah ketularan edan, Yun. Yuk kita kembali ke petuah waras, bahwa orang tua itu harus memberi rasa aman dan nyaman kepada anak-anak, baik secara materi maupun jiwa. Sebab jika itu tidak dilakukan orang tua, tunggulah suatu ketika anak akan berbuat yang tak terduga."
"Walah, Le, kayak kamu sudah punya anak saja."
"Eee, ini kan pelajaran, tidak harus didapat dari orang yang punya anak, tetapi orang yang hatinya jernih."
"Jadi maksudnya hatimu jernih?"
"Ya enggak juga, bukan aku maksudnya, melainkan orang-orang, siapa pun, dan kapan pun, yang mengatakan kebaikan dan bisa menerima kebaikan."