Teheran (lampost.co)– Iran kembali memanaskan konflik dengan Israel. Pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menghujani 14 lokasi militer dan industri pertahanan Israel dengan rudal dan drone presisi. Serangan ini berlangsung dalam gelombang ke-18 Operasi True Promise III, yang menurut IRGC, menjadi aksi paling inovatif dan akurat sepanjang sejarah operasi mereka.
Tidak sekadar menunjukkan kekuatan, IRGC juga menyasar pusat komando, gudang amunisi, dan sistem radar strategis milik Israel. Mereka mengeklaim seluruh target telah dipilih secara teliti dan terhantam secara langsung. Sebagai bentuk respons atas provokasi militer Israel, Iran tampaknya ingin mengirim pesan tegas kepada lawannya dan dunia internasional bahwa mereka tak segan bertindak terbuka.
Selain itu, IRGC menegaskan bahwa seluruh rudal dan pesawat nirawak yang digunakan sudah lengkap sistem navigasi canggih. Teknologi ini diklaim mampu menghindari sistem pertahanan udara Israel dan memaksimalkan efek serangan. Dengan demikian, Teheran berhasil menggabungkan kekuatan militer dan kecanggihan intelijen dalam satu paket ofensif.
Tak hanya itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa proses pemetaan lokasi target melibatkan citra satelit dan intelijen lapangan selama berhari-hari. Dengan persiapan matang tersebut, Iran yakin dapat menghindari korban sipil dan meningkatkan efektivitas serangan. Seorang pejabat pertahanan Iran mengatakan, “Kami ingin menunjukkan kemampuan presisi tanpa menciptakan kerusakan kolateral.”
Sementara itu, para analis militer meyakini bahwa Israel kemungkinan akan menanggapi serangan ini dengan peningkatan pertahanan udara atau bahkan melancarkan balasan terbatas. Namun, hingga kini, pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi. Media lokal hanya mengutip sumber militer anonim yang menyebutkan bahwa sistem pertahanan Iron Dome berhasil mencegat sebagian ancaman, meski beberapa lokasi tetap terdampak.
Di sisi lain, komunitas internasional mulai menyuarakan keprihatinan. Beberapa negara anggota Dewan Keamanan PBB, seperti Brasil dan Norwegia, menyerukan agar kedua pihak menahan diri. Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, masih menganalisis data lapangan sebelum mengambil langkah diplomatik lanjutan.
Ubah Pola Konflik
Dalam konteks geopolitik, tindakan Iran kali ini bisa menjadi sinyal baru bahwa mereka siap mengubah pola konflik bayangan menjadi konfrontasi terbuka. Tak mengherankan jika sejumlah pengamat meyakini bahwa serangan ini bertujuan meningkatkan posisi tawar Iran di level regional. Mahdi Shafie, pakar politik internasional Universitas Teheran, menyebut publikasi operasi ini sebagai “pesan langsung’ kepada Tel Aviv. Bahwa era dominasi sepihak telah berakhir.
Karena itu, ketegangan antara kedua negara tampaknya belum akan mereda. Selama belum ada jalur komunikasi langsung atau perjanjian de-eskalasi, potensi konflik lanjutan tetap tinggi. Situasi ini mengancam stabilitas Timur Tengah yang kini rapuh akibat berbagai konflik lain, termasuk di Gaza dan Lebanon.
Dengan kondisi demikian, dunia internasional perlu bergerak cepat. Tanpa inisiatif perdamaian konkret, serangan seperti ini bisa menjadi titik awal eskalasi baru yang lebih luas dan sulit dikendalikan.