Bandar Lampung (Lampost.co) — Pada 20 Juni 2025, internet dihebohkan data password bocor dan menjadi terbesar sepanjang sejarah. Terdapat 16 miliar data bocor ke publik, termasuk informasi dari Facebook, Netflix, Google, Apple, hingga Microsoft.
Data itu bukan hasil satu insiden saja, tapi gabungan dari 30 pelanggaran sebelumnya. Para peretas mengompilasi kredensial lama dan baru dari berbagai sumber serangan siber.
Apa Saja Platform yang Terdampak?
Menurut Cybernews dan Kaspersky, banyak layanan populer ikut terdampak. Mulai dari layanan hiburan, seperti Netflix hingga penyedia cloud besar seperti Google dan Microsoft. Adanya password internet yang bocor, informasi tersebut berasal dari malware jenis infostealer yang menyasar perangkat pengguna secara diam-diam.
Apa Itu Infostealer dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Infostealer merupakan program jahat yang mencuri data login dari perangkat korban. Setelah itu, data terkirim ke server milik peretas untuk kompilasi dan diperjualbelikan.
Malware itu bekerja di latar belakang dan sulit terdeteksi secara manual. Itulah sebabnya pengguna sering tidak sadar saat akun mereka sudah bocor, termasuk ketika password internet bocor.
Apakah 16 Miliar Data itu Valid?
Kaspersky menyebut banyak data dalam kebocoran itu merupakan duplikat karena pengguna memakai password yang sama di banyak akun, membuat password internet lebih mudah bocor.
Meski begitu, kebocoran tetap berbahaya karena semua data tersedia dalam satu basis besar. Hal itu mempercepat kerja penjahat siber dalam melakukan serangan phishing atau pembajakan akun.
Apa Risiko Terbesar dari Kebocoran Ini?
Risiko utamanya adalah pencurian identitas dan penipuan daring berskala besar. Pelaku bisa mengakses akun, mencuri data pribadi, atau bahkan membobol rekening digital Anda.
Kebocoran juga memberi peluang bagi kampanye phishing yang jauh lebih meyakinkan dan sulit membedakannya, terutama jika password internet terjadi bocor.
Pakar keamanan menyarankan semua pengguna segera melakukan langkah proteksi berikut:
- Ganti semua password Anda sekarang juga
- Gunakan kombinasi unik dan kuat untuk setiap akun
- Aktifkan verifikasi dua langkah (2FA)
- Gunakan password manager terpercaya
- Pantau aktivitas login secara rutin
- Hubungi dukungan pelanggan jika akun terasa mencurigakan
Menurut Dmitry Galov dari Kaspersky, kebocoran itu memang bagian dari ekosistem kejahatan siber yang berkembang. Namun, pengguna bisa meminimalkan risiko jika menjaga “kebersihan digital” secara konsisten.
Ia menegaskan langkah seperti mengganti password secara rutin dan tidak klik link sembarangan adalah bentuk perlindungan dasar namun sangat penting ketika menghadapi masalah password internet yang bisa bocor.
Kebocoran 16 miliar data login menjadi pengingat keras untuk seluruh pengguna internet. Jangan remehkan keamanan akun Anda dan segera ambil tindakan sebelum terlambat. Jaga privasi, lindungi identitas digital, dan pastikan keamanan data selalu dalam pemperbaruan.