Bandar Lampung (Lampost.co) — Upin & Ipin Universe, game adaptasi dari serial animasi populer Malaysia, tengah dilanda kontroversi besar. Alih-alih disambut meriah, game ini justru memicu kemarahan publik. Ribuan gamer, khususnya dari Malaysia, menyerukan boikot terbuka terhadap game yang dikembangkan oleh Streamline Studios dan dipublikasikan oleh Les Copaque Production.
Melalui media sosial X (sebelumnya Twitter), muncul dua tagar yang kini viral: #BoikotLesCopaque dan #BoikotStreamlineMedia. Seruan ini tidak datang tanpa alasan. Sejumlah masalah teknis, etika, dan harga menjadi pemantik kemarahan para pemain.
1. Harga Terlalu Mahal, Tidak Seimbang dengan Kualitas
Masalah pertama yang paling sering dikeluhkan adalah harga game yang dinilai terlalu mahal. Game ini dijual seharga RM170 hingga RM177 di Malaysia, atau sekitar Rp650.000 di Indonesia. Harga tersebut dianggap tidak masuk akal, terutama karena genre dan kualitas game tidak setara dengan game AAA seperti Red Dead Redemption 2 atau The Last of Us.
Gamer menilai bahwa untuk sebuah game yang menyasar keluarga dan anak-anak, banderol tersebut terlalu tinggi. Banyak yang membandingkan harga game ini dengan game blockbuster yang diproduksi oleh perusahaan kelas dunia dengan anggaran miliaran dolar.
Lebih lanjut, perbedaan sistem harga antarplatform seperti Steam dan Epic Games Store turut membingungkan konsumen. Meski ada regional pricing, tetap saja harga Upin & Ipin Universe dianggap kelewat tinggi untuk pengalaman bermain yang terbatas.
2. Penuh Bug dan Masalah Teknis
Selain mahal, kualitas game juga mengecewakan. Setelah rilis pada 17 Juli 2025, banyak gamer melaporkan temuan bug, crash, dan frame drop saat bermain. Karakter yang tersangkut di objek, tampilan yang tiba-tiba tertutup, dan animasi yang tidak mulus menjadi keluhan umum.
Pihak Les Copaque telah memberikan tanggapan bahwa mereka telah melakukan uji coba internal dan akan merilis pembaruan (patch) secara bertahap. Meski demikian, banyak gamer yang merasa kecewa karena masalah ini sudah terjadi sejak awal peluncuran.
Sebagian pengguna berpendapat, jika game telah melewati berbagai tahap uji, maka masalah dasar seperti ini seharusnya tidak muncul. Kritik ini memperkuat persepsi bahwa game rilis dalam keadaan belum siap.
3. Isu Etika: Gaji Developer dan Kondisi Internal
Kemarahan publik makin membesar setelah muncul laporan bahwa karyawan Streamline Studios belum mendapat gaji selama berbulan-bulan. Bahkan, beberapa mantan pegawai yang terkena PHK belum menerima pesangon mereka.
Menurut laporan dari Nmia Gaming, situasi ini terjadi karena masalah keuangan internal studio. Bahkan iuran pensiun (EPF) yang wajib bayar pun belum perusahaan setor.
Namun, Les Copaque membantah tuduhan tersebut. Mereka menyatakan telah mengeluarkan dana sebesar RM15 juta untuk pengembangan game dan membayar seluruh kewajiban kepada pihak pengembang. Pihak Les Copaque juga menyebut bahwa jika tidak membayar developer, maka game ini tidak mungkin bisa rilis ke publik.
Meski sudah klarifikasi, pernyataan ini belum sepenuhnya memuaskan publik. Warganet tetap meragukan transparansi dan integritas proses produksi game tersebut.
4. Pelanggaran Hak Cipta terhadap Kreator Konten
Masalah terakhir yang membuat gamer dan komunitas kreator geram adalah klaim hak cipta terhadap streamer. Sejumlah YouTuber, termasuk Windah Basudara, terkena copyright strike saat menayangkan gameplay Upin & Ipin Universe. Ironisnya, game tersebut beli secara legal, bukan pemberian secara cuma-cuma oleh developer.
Lebih buruk lagi, akun resmi Les Copaque menggunakan potongan video milik Windah untuk promosi tanpa izin. Situasi ini merupakan pelanggaran etika dan eksploitasi terhadap kreator konten.
Les Copaque telah mengunggah video klarifikasi di YouTube. Mereka menjelaskan bahwa musik dalam game merupakan bagian dari serial animasi yang memiliki lisensi eksklusif. Karena itu, YouTube secara otomatis mengenakan copyright kepada konten yang menayangkan musik tersebut.
Sebagai solusi, streamer sebaiknya menonaktifkan musik dalam game saat siaran agar tidak terkena klaim. Selain itu, Les Copaque mengaku telah meminta maaf kepada Windah dan sedang berupaya bekerja sama dengan publisher untuk mengembalikan hak monetisasi kreator.
Kesimpulan: Antusiasme Berbalik Jadi Kekecewaan
Upin & Ipin Universe awalnya menjadi produk kebanggaan industri kreatif Malaysia. Namun, karena berbagai masalah yang muncul sejak peluncurannya, game ini justru menjadi simbol kekecewaan gamer terhadap manajemen proyek yang buruk dan ketidakpekaan terhadap komunitas.
Kampanye boikot yang masif menunjukkan bahwa publik kini menuntut lebih dari sekadar klarifikasi. Mereka ingin ada perubahan nyata—baik dalam kualitas game, perlakuan terhadap karyawan, maupun penghargaan terhadap kreator konten.
Les Copaque dan Streamline Studios berhadapan dengan momen krusial. Jika mereka gagal memperbaiki situasi ini secara cepat dan transparan, maka reputasi jangka panjang keduanya bisa rusak permanen. Kepercayaan gamer bukan sesuatu yang bisa mereka beli—melainkan bangun lewat komitmen nyata.