Bandar Lampung (Lampost.co) — Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyimpan potensi besar pengembangan ekonomi karbon berbasis perhutanan sosial. Selain itu, kawasan ini menawarkan peluang wisata ekologis dan konservasi lingkungan berkelanjutan.
Poin Penting:
-
Desa Way Kalam punya potensi ekonomi karbon besar yang berbasis perhutanan sosial.
-
Pemprov Lampung Dorong pengembangan wisata ekologi.
-
Kekayaan alam bisa memberikan manfaat yang besar bagi seluruh masyarakat.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menyebut Desa Way Kalam strategis dalam penguatan ekonomi hijau. Karena itu, ia mendorong manajemen kawasan hutan yang lebih terukur. “Wilayah desa memiliki potensi perhutanan sosial sangat besar,” ujar Jihan.
Dorong Pengelolaan Ekosistem Ekonomi Karbon
Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Lampung memacu pengelolaan ekosistem berbasis ekonomi karbon. Sebab, pengelolaan hutan tidak hanya berdampak pada konservasi, tapi juga untuk membangkitkan ekonomi warga desa.
Baca juga: Program Desaku Maju Percepatan Hilirisasi Pertanian
Desa Way Kalam berpeluang mengembangkan unit bisnis karbon berkelanjutan. Hal ini mencakup perdagangan karbon, wisata alam, dan konservasi berbasis masyarakat.
Jihan menjelaskan pentingnya penguatan tata kelola destinasi ekowisata, seperti manajemen air, kawasan camping, dan jalur trekking harus terstandar. Sementara itu, sumber mata air menjadi aset ekologis penting dengan rutin menguji kualitas air.
Rencananya, pemerintah mendorong pengukuran pH dan kandungan oksigen air sebagai upaya memberi nilai tambah wisata edukatif. Dengan data ilmiah, pengunjung memahami kualitas lingkungan sehingga desa memiliki dasar kuat dalam mengembangkan ekonomi karbon.
Desa Way Kalam juga memiliki hutan register sebagai area untuk menjaga habitat satwa dilindungi. Oleh karena itu, konservasi menjadi fondasi utama perhutanan sosial. Selain kawasan hutan, juga memiliki Air Terjun Anakan yang bisa menjadi magnet wisata alam.
Perencanaan Matang
Menurut Jihan, ekonomi karbon berbasis desa memerlukan perencanaan matang. Oleh sebab itu, harus profesional dalam mengelola perhutanan sosial. Selain regulasi, desa membutuhkan peta potensi karbon sehingga estimasi nilai ekonomi lingkungan lebih akurat.
Selanjutnya, penghitungan stok karbon menjadi agenda prioritas. Langkah ini menentukan potensi perdagangan karbon ke depan.
Tak hanya itu, Desa Way Kalam juga perlu menjalin kemitraan strategis atau bekerja sama dengan universitas dan lembaga lingkungan.Dengan adanya kolaborasi tersebut, transfer pengetahuan berjalan cepat dan akses pendanaan hijau terbuka lebar.
Komitmen Kembangkan Desa Way Kalam
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen mendampingi pengembangan Way Kalam dengan memperkuat asistensi teknis dan pelatihan. Dengan dukungan tersebut, harapannya desa dapat mengelola hutan secara transparan serta akuntabilitas tata kelola meningkat.
Jihan berharap Desa Way Kalam menjadi percontohan ekonomi karbon Lampung. Selain itu, menjadi model nasional perhutanan sosial sukses. “Dengan manajemen rapi, desa memperoleh kesejahteraan tanpa merusak alam,” katanya.








