Bandar Lampung (Lampost.co) – Dosen Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) mengupas mengenai emigrasi pertanian Jawa di Lampung. Hal ini terpaparkan dalam seminar “Kajian Mata Pencaharian Masyarakat Transmigrasi” di Museum Ketransmigrasian Lampung, Kamis, 4 Desember 2025.
“Saya menemukan banyak orang Jawa, nama-nama kampung Jawa, dan budaya Jawa di Lampung. Untuk tahu bahasa Jawa, bisa belajar di Lampung. Berbagai tempat terdengar orang berbahasa Jawa,” kata Dosen UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abd Rahman Hamid.
Berangkat dari isu tersebut, Hamid menjelaskan mengenai sejarah emigrasi pertanian Jawa di Lampung pada masa kolonial 1902-1941. Menurutnya, ada tiga konsep yang sering tergunakan untuk menggambarkan perpindahan penduduk Jawa ke luar Jawa. Konsep itu yaitu: kolonisatie, emigratie, dan transmigratie.
“Konsep pertama punya konotasi negatif, selaras dengan konsep kolonialisme. Kalau mengikuti pilar politik etis, maka yang tepat adalah konsep emigratie (emigrasi),” ujar Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN RIL ini.
Kemudian menurut Hamid, program emigrasi sebagai satu solusi untuk mengatasi masalah kesejahteraan penduduk Jawa. Ini sejak akhir abad ke-18 akibat kepadatan penduduknya. Namun, gairah orang Jawa untuk pindah ke luar Jawa masih minim, karena mereka sangat terikat dengan tanah dan kebudayaan leluhur Jawa.
Bedol Desa
Karena itulah, maka lahirlah sistem “bedol desa” dalam pemindahan penduduk. Yakni memindahkan semua penduduk dari satu desa tertentu dari Jawa ke luar Jawa dan menempati Tanah Sabrang. Sehingga mereka merasakan suasana Jawa di Tanah Sabrang.
“Dengan kata lain, para emigran itu tidak terasing dari lingkungan sosial dan kebudayaan Jawa. Singkatnya, “Cut and paste Jawa di Lampung”, kata Dr. Hamid.
Kemudian tidak cukup dengan sistem bedol desa. Untuk menarik perhatian dan meyakinkan orang Jawa pindah ke Lampung. Maka promosi atau propaganda sangat penting terlaksanakan.
Hal itu dengan tiga cara: Pertama, penyuluhan oleh aparat pemerintah di Jawa. Kedua, emigran lama pulang kampung atau dibawa pulang oleh pemerintah untuk promosi emigrasi pertanian di Jawa. Ketiga, pemutaran film “Tanah Sabrang” karya Mannur Franken di Jawa antara tahun 1938-1941. Ini tentang kondisi Lampung yang tanahnya subur, hasil padinya bagus, dan sistem bawon.
Semuanya menggambarkan tentang Tanah Sabrang Lampung yang penuh harapan hidup atau kesejahteraan yang lebih baik. “Kalau ingin hidup lebih sejahtera, maka pindahlah ke Lampung”, begitulah kesan yang tersampaikan kepada calon emigran di Tanah Jawa.
Kemudian emigrasi pertanian ke Lampung mulai tahun 1905 di bawah pimpinan Asisten Residen Sukabumi, H.G. Heijting bersama Asisten Wedana Mas Ronodimedjo, 2 mantri irigasi, dan 40 penebang bergergaji. Lokasi pertamanya adalah Gedong Tataan.
Setelah itu, rombongan emigrasi perluas ke daerah lain masing-masing. Seperti Bengkulu (1909), Palembang (1911), Sumatera Timur (1918), Kalimantan (1920), Sulawesi (1937), dan Sumatera Tengah (1940).
Emigrasi Pertanian Pertama
Selanjutnya menurut Dr. Hamid, Lampung sebagai lokasi emigrasi pertanian pertama karena tiga hal. Pertama, dekat dengan Tanah Jawa. Kedua, biaya lebih murah dan termasuk jalur utama pelayaran kapal KPM. Ketiga, punya dua pelabuhan baik yakni Teluk Lampung (Telukbetung dan Oosthaven) sebagai pintu masuk ke Sumatera.
Sebagai tim penulis Sejarah Indonesia (SI), yang tersponsori oleh Kementerian Kebudayaan RI. Sejarah emigrasi Lampung menjadi satu bagian penting dalam Buku SI jilid 6 (Masa Pergerakan Kebangsaan hingga akhir Penjajahan Jepang). “Buku ini yang akan terlauching tahun ini oleh Kementerian Kebudayaan”, kata Dr. Hamid.
Selanjutnya ia menyimpulkan tiga hal terkait sejarah emigrasi di Lampung. Pertama, emigrasi melahirkan masyarakat dan kampung-kampung Jawa baru di Lampung. Kedua, emigrasi juga mewariskan segregasi sosial di Lampung.
Ketiga, emigrasi membawa kemajuan serta perubahan sosial berupa perluasan makna filosofis Lampung yakni “Sai Bumi Ruwa Jurai” dalam pembentukan Masyarakat Lampung. Ini yang semula termaknai sebagai Satu Tanah Lampung bagi dua kelompok Lampung (Saibatin dan Pepadun). Menjadi Satu Lampung bagi orang Lampung dan bukan orang Lampung.
Rekomendasi
Kemudian pada akhir paparannya, Dr. Hamid menyampaikan tiga saran rekomendasi. Pertama, perlu kajian toponimi wilayah emigrasi Lampung. Kedua, pengayaan koleksi Museum Transmigrasi dengan sumber-sumber Sejarah Emigrasi dari ANRI, PNRI, dst. Ketiga, pemutaran “Film Tanah Sabrang” sebagai memori kolektif emigrasi di Lampung.
Diskusi ini dinamis yang tertandai respons dari lima peserta yaitu: Adi Wiranata (Dosen UM Metro), Nova Annisa Azzahra (mahasiswa UNILA). Anggun Puspita (mahasiswa STKIP Bandar Lampung), Rianto (mahasiswa UM Metro), dan Sofio Rahman (mahasiswa UM Metro).
Sementara kegiatan ini terlaksanakan selama tiga hari, 2-4 Desember 2025. Dengan menghadirkan enam narasumber, dua di antaranya pada hari ketiga adalah Dr. Abd Rahman Hamid dan Kian Amboro, M.Pd. Kemudian Abd Rahman Hamid mengisi acara dengan topik “Emigrasi Pertanian Jawa di Lampung 1902-1941”, dengan moderator Ni Putuh Galih Pratiwi, M.Hum.
Kemudian kegiatan ini terhadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Mereka berasal dari lima kampus di Provinsi Lampung yaitu: UNILA, UM Metro, STKIP PGRI Bandar Lampung, UIN RIL, dan UM Pringsewu.








