Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat produksi jagung sebagai pilar swasembada pangan nasional. Selain itu, kebijakan menargetkan stabilitas harga pangan daerah.
Poin Penting:
-
Pemprov menargetkan produksi jagung Lampung 2025 naik menjadi 1,5 juta ton
-
Lampung peringkat keenam penghasil jagung terbesar Indonesia.
-
Produksi jagung berbanding lurus dengan harga daging ayam.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan jagung berperan strategis bagi ketahanan pangan Lampung. Karena itu, penguatan produksi jagung menjadi prioritas pemerintah daerah.
Jagung 3 Komoditas Unggulan
Menurut Mirza, Lampung merupakan lumbung pangan dengan tiga komoditas unggulan. Ketiganya ialah singkong, padi, dan jagung yang menopang pasokan pangan nasional. “Komoditas andalan kami ialah singkong, padi, dan jagung,” ujar Mirza.
Baca juga:
Ia menambahkan ketiganya memasok industri dan konsumsi. Pada 2024, Lampung menyumbang lebih dari 1,1 juta ton jagung untuk kebutuhan nasional. Karena itu, Lampung menempati peringkat keenam penghasil jagung terbesar Indonesia.
Namun, Pemprov tidak berhenti di posisi tersebut. Untuk itu, meningkatkan target produksi jagung Lampung 2025.
Mirza memproyeksikan kontribusi jagung Lampung pada 2025 mencapai 1,5 juta ton. Oleh sebab itu, Pemprov menggenjot perluasan tanam dan perbaikan budi daya.
Selain perluasan tanam, pemerintah mendorong peningkatan produktivitas. Karena itu, mendorong petani memakai benih unggul dan pupuk berimbang.
Pemprov juga memperkuat pendampingan teknis. Dengan demikian, serangan hama dan risiko gagal panen bisa ditekan.
Bahan Baku Pakan Ternak
Selain itu, jagung Lampung menjadi bahan baku utama pakan ayam. Karena itu, produksi jagung berbanding lurus dengan harga daging ayam.
“Jagung Lampung menggerakkan industri pakan ayam. Selain itu, Lampung juga memproduksi ayam,” kata Mirza.
Dengan pasokan pakan kuat, biaya produksi ayam menurun. Karena itu, harga ayam di pasar menjadi lebih terjangkau.
Mirza menegaskan hubungan langsung antara luas tanam jagung dan harga ayam. Semakin luas tanam, harga ayam semakin stabil. “Semakin banyak menanam jagung, harga ayam semakin murah,” ujarnya.
Produksi Ayam Lampung Surplus
Tak hanya itu, Lampung mencatat surplus ayam hampir tiga juta ekor per bulan. Oleh karena itu, Lampung aktif memasok daerah lain.
Saat ini, ayam Lampung mengalir ke Pulau Jawa, Sumatra bagian Selatan, hingga Kepulauan Riau. Dengan demikian, Lampung menjadi pusat suplai protein hewani.
Karena alur pasok itu, kontinuitas produksi jagung menjadi kunci. Tanpa jagung, pasokan ayam terancam. Selain itu, harga berpotensi bergejolak.
Untuk itu, Pemprov mengamankan rantai pasok jagung. Di antaranya, pemerintah memperbaiki distribusi benih dan akses pembiayaan petani.
Selain itu, pembangunan irigasi dan alat mesin pertanian juga menjadi fokus. Dengan begitu, produktivitas sawah jagung meningkat.
Pemprov juga menggandeng offtaker pakan sehingga serapan jagung petani lebih terjamin. Di tingkat konsumen, kebijakan ini berdampak nyata karena harga ayam relatif stabil. Selain itu, pasokan protein lebih aman.
Dengan demikian, produksi jagung Lampung bukan sekadar isu pertanian. Sebaliknya, jagung menggerakkan ekonomi daerah. “Harga ayam murah dan protein tercukupi, kuncinya ada di jagung,” ujarnya.
Karena itu, Lampung memastikan jagung tetap tumbuh sebagai komoditas strategis nasional. Lampung juga memperkuat perannya sebagai lumbung pangan Indonesia.








