Bandar Lampung (Lampost.co) — Harga sewa yang tinggi terhadap properti komersial, seperti ruko di kawasan perkotaan memberi tekanan besar terhadap dunia usaha dan perekonomian daerah. Kondisi itu membuat aktivitas ekonomi tidak tumbuh optimal meski berada di lokasi strategis pusat kota.
Pengamat ekonomi Universitas Lampung, Marselina Djayasinga, menilai mahalnya harga properti mendorong masyarakat dan pelaku usaha keluar dari pusat kota. Mereka terpaksa mencari lokasi di wilayah pinggiran atau pedesaan yang masih sesuai dengan kemampuan finansial.
“Pengaruh ekonomi dari mahalnya harga rumah dan lahan sewa di perkotaan membuat masyarakat terpaksa membeli tanah atau menyewa rumah di pedesaan atau pelosok yang masih terjangkau dengan penghasilannya,” ujar dia, Rabu, 17 Desember 2025.
Akibatnya, banyak lahan dan bangunan di pusat kota justru kosong karena tidak laku terjual maupun disewa. Fenomena itu terlihat dari maraknya papan rumah dan tanah dijual di berbagai kota besar, termasuk Bandar Lampung.
Di Bandar Lampung, kondisi tersebut tampak di sejumlah jalan utama dan kawasan elit, seperti Pahoman, Rawalaut, Garuntang, dan sekitarnya. Banyak bangunan kosong dalam waktu lama dan tidak terawat, meski berada di kawasan ekonomi potensial.
Fenomena Lahan dan Bangunan Kosong
Guru besar ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila itu menilai mahalnya harga properti saat ini tidak lepas dari perubahan nilai ekonomi properti dari waktu ke waktu. Rumah-rumah besar bangunan era 1960-an hingga 2000-an dengan harga yang relatif murah.
“Rumah-rumah dan tanah-tanah itu saat ini terjual untuk dibagi kepada ahli waris karena tidak lagi ditempati. Namun, sekarang harganya sudah naik berkali-kali lipat dan menjadi sangat tinggi,” kata dia.
Menurut dia, lonjakan harga tersebut tidak sebanding dengan daya beli masyarakat, baik rumah tangga maupun pelaku usaha. Hal itu tidak mampu menjangkau harga rumah dan lahan di kawasan strategis perkotaan. “Mau jadi tempat usaha dengan harga setinggi itu tidak mungkin,” kata dia.
Ia menambahkan, tingginya harga sewa atau beli properti berdampak langsung pada struktur biaya usaha. Kondisi itu membuat pelaku usaha kesulitan menutupi biaya operasional, terutama jika berlokasi di jalan-jalan utama.
“Melakukan usaha di jalan utama dengan harga yang mahal akan mengakibatkan biaya operasional tinggi dan sulit menutupi biaya tersebut,” tutur Marsel.
Fenomena lahan dan bangunan kosong yang terbiarkan bertahun-tahun sangat merugikan secara ekonomi. Kota berpotensi menjadi sepi, tidak menarik bagi investasi, dan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.
“Kota menjadi mati, sepi, gelap, dan tidak menarik bagi investasi karena penuh tanah serta bangunan tua yang tidak terawat,” ujar dia.
Ia menegaskan kondisi itu menunjukkan mekanisme pasar tidak berjalan dengan baik. Harga tanah dan bangunan terlalu mahal, sedangkan permintaan rendah sehingga memerlukan campur tangan pemerintah.
“Fenomena ini menunjukkan mekanisme pasar tidak berjalan dan memerlukan intervensi pemerintah agar perekonomian kembali berjalan efisien,” dia menjelaskan.
Selain berdampak ekonomi, kondisi tersebut membawa efek sosial lanjutan. Tekanan ekonomi akibat mahalnya hunian dan biaya hidup berpotensi memengaruhi kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.








