Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman cuaca ekstrem. Pemprov melalui Dinas Sosial (Dinsos) menyiagakan 444 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) di seluruh wilayah Lampung.
Poin Penting:
-
Dinas Sosial Lampung menyiagakan 444 personel Tagana yang tersebar di 15 kabupaten dan kota.
-
Tagana siap tanggap darurat hingga pascabencana.
-
Kesiapsiagaan menyusul potensi cuaca ekstrem.
Langkah tersebut untuk memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia krusial menghadapi potensi bencana.
Kepala Dinas Sosial Lampung, Aswarodi, menegaskan kesiapsiagaan personel menjadi prioritas utama. Menurutnya, penanganan bencana membutuhkan respons cepat dan terukur. “Selain memastikan buffer stock aman, kami juga menyiapkan personel Tagana terlatih,” ujar Aswarodi, beberapa hari lalu.
Baca juga: Akurasi Informasi Cuaca Penting Perkuat Kesiapsiagaan Bencana
Ia juga menjelaskan Tagana memiliki keterampilan khusus kebencanaan. Oleh karena itu, mereka siap menjalankan tugas kapan saja.
Tim Tagana yang berjumlah 444 personel tersebar di 15 kabupaten dan kota. Penempatan tersebut menyesuaikan tingkat kerawanan bencana di masing-masing daerah.
Selain itu, Dinsos Lampung memperkuat koordinasi dengan Dinas Sosial kabupaten dan kota. Koordinasi untuk memastikan kesiapan tim daerah. “Seluruh personel siap membantu masyarakat saat bencana terjadi,” kata Aswarodi.
Menurutnya, Tagana memiliki peran penting saat fase tanggap darurat. Mereka terlibat dalam evakuasi, pendirian dapur umum, dan distribusi bantuan.
Selain itu, Tagana juga mendukung pemulihan pascabencana. Dukungan tersebut mencakup pendampingan korban hingga pemulihan sosial.
Tekan Dampak Bencana
Kesiapsiagaan personel diharapkan mempercepat respons pemerintah. Dengan respons cepat, dapat menekan dampak bencana sejak awal.
Di sisi lain, kesiapan Tagana melengkapi ketersediaan logistik bencana. Pemerintah sebelumnya menyiapkan buffer stock di gudang provinsi dan daerah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi terpadu menghadapi cuaca ekstrem. Terlebih, musim hujan meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Sebelumnya, BMKG mendeteksi bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia Barat Lampung. Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi cuaca regional.
BMKG terus melakukan pemantauan selama 24 jam. Pemantauan bertujuan memperbarui prakiraan cuaca secara berkala.
Dampak tidak langsung bibit siklon tersebut dapat meningkatkan curah hujan. Intensitas hujan diperkirakan sedang hingga lebat.
Sejumlah wilayah di Sumatra, termasuk Lampung, berpotensi terdampak. Karena itu, pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan.
Aswarodi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Ia juga meminta warga mengikuti informasi resmi.
Selain itu, masyarakat untuk segera melapor jika terjadi bencana. Pelaporan cepat membantu penanganan lebih efektif.
Pemerintah Provinsi Lampung berharap sinergi semua pihak berjalan optimal. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi kunci mitigasi.
Dengan kesiapsiagaan personel Tagana dan logistik memadai, pemerintah optimistis risiko bencana dapat diminimalkan. “Kami ingin keselamatan masyarakat tetap terjaga,” ujar Aswarodi.
Langkah tersebut menegaskan komitmen Pemprov Lampung melindungi warga. Pemerintah berupaya hadir cepat saat kondisi darurat.







