Bandar Lampung (Lampost.co) — Polda Lampung memetakan ada 374 orang yang terdeteksi sebagai kelompok intoleran, radikal dan terorisme (IRT). Data tersebut yang tersebar pada seluruh Provinsi Lampung.
Hal itu tersampaikan oleh Plt. Wadirintelkam Polda Lampung, AKBP Sigit Maryanta dalam agenda Forum Silaturahmi Kamtibmas. Kegiatan dari Polda Lampung tergelar di Golden Tulip, Senin, 22 Desember 2025.
“Ada 314 orang, dan tersebar pada beberapa kabupaten/kota” ujarnya.
Kemudian ia menyampaikan rincian statistik terdeteksi secara akumulatif. Angka tersebut terdiri dari berbagai latar belakang status hukum dan keterlibatan organisasi. Rinciannya 16 orang narapidana terorisme (Napiter) dari jaringan JI. Selanjutnya 92 orang eks napiter, yang terdiri dari 43 orang jaringan JAD dan sisanya dari kelompok lain.
“Kemudian 13 orang deportan dan 253 orang simpatisan atau pendukung,” katanya.
Selanjutnya, ia juga menyampaikan sebaran wilayah pemaparan anggota kelompok ini pada beberapa titik krusial. Kabupaten Pesawaran menjadi wilayah tertinggi, terdeteksi sebanyak 86 orang. Terdiri dari 7 eks napiter, 4 deportan, 4 pendukung dan 71 simpatisan.
Kemudian Bandar Lampung terdeteksi 62 orang, mencakup 6 napiter, 24 eks napiter, 1 deportan, dan 31 simpatisan. Lalu Lampung Tengah terdapat 50 orang yang terdiri dari 3 napiter, 8 eks napiter, 1 deportan, dan 38 simpatisan.
Selanjutnya Lampung Selatan tercatat 44 orang, termasuk 3 napiter, 19 eks napiter, 1 deportan, 3 pendukung, dan 18 simpatisan. Kemudian Metro terdeteksi 35 orang, mencakup 4 napiter, 1 deportan, 4 eks napiter, dan 26 simpatisan.
Kemudian sebaran untuk daerah lainnya meliputi Tulang Bawang Barat (33 orang), Pringsewu (28 orang). Lampung Timur (16 orang), Lampung Utara (16 orang), Pesisir Barat (2 orang), dan Mesuji (1 orang).
“Hal ini menjadi landasan bagi pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk memperkuat deteksi dini serta program deradikalisasi. Fokus utama terarahkan pada pembinaan eks napiter dan pemantauan ketat terhadap simpatisan. Ini guna mencegah penyebaran paham radikal lebih luas kepada masyarakat,” katanya.








